Kamis, 18 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Modal Rp 300 Ribu, Jalan Kaki Lintas Sulawesi 

Oleh Berita Hargo , dalam Features Headline , pada Jumat, 20 Juli 2018 | 12:00 Tag: , , ,
  

Hargo.co.id - Banyak cara unik, bahkan tak biasa yang dilakukan seserorang dalam menyampaikan sesuatu yang dianggap penting melalui sebuah hobi yang tak biasa. Seperti Muhammad Hafidz (22) yang melakukan perjalanan dengan menjelajahi seluruh wilayah di Pulau Sulawesi dengan maksud menyampaikan pesan damai kepada masyarakat.

Muhammad Alfarisi Ali – Marisa

Dengan menggandeng sebuah tas kerel yang menjulang tinggi, Muhammad Hafidz terus berjalan menyusuri ruas jalan trans Sulawesi tepat di Desa Palopo, Kecamatan Marisa, Pohuwato. Nampak jelas dari raut wajahnya dan juga tingkahnya bahwa pemuda tersebut bukan warga asli Gorontalo, apalagi orang Pohuwato.

Mulai dari Kantor Polres Pohuwato, bahkan batas-batas desa yang ada di Kecamatan Marisa pun dijadikannya sebagai tempat untuk mengabadikan foto selfie. Saat dihampiri awak Gorontalo Post, pemuda tersebut pun langsung memberikan sapa penuh keramahan.

Dari perbincangan singkat, diketahui ternyata pemuda bernama lengkap Muhammad Hafidz alias Hafidz ini berasal dari Kota Masamba, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan. Dirinya tengah melakukan perjalanan dari ujung selatan pulau Sulawesi hingga ke ujung Utara yakni di Kota Bitung Sulawesi Utara.

“Sudah merupakan hobi saya untuk berpetualang dan mencari tantangan baru. Dan saya tertantang untuk melakukan perjalanan ke seluruh penjuru pulau Sulawesi ini,” ujarnya.

Hafidz memulai perjalanan panjangnya tersebut sejak tanggal 15 April 2018. Dengan begitu, saat ini terhitung sudah tiga bulan lamanya dia melakukan penjelajahan dan saat ini tengah berada di Provinsi Gorontalo atau lebih tepatnya di Kabupaten Pohuwato.

Tidak sedikit hal yang sudah Hafidz temui selama perjalanan mulai dari yang baik hingga yang tidak enak sekalipun. Seperti halnya terpaksa harus bermalam sendirian di wilayah hutan dan pegunungan yang jauh dari pemukiman. Namun hal itu tidak menyurutkan semangatnya dalam menyelesaikan misi besarnya tersebut.

Sebagai seorang muslim, Hafidz pun menjumpai Ramadhan dan lebaran Idul Fitrinya pada perjalanan tersebut saat dirinya tengah berada di wilayah Sulawesi Tengah. Rasa persaudaraan dan kebersamaan dengan para pecinta alam yang ditemuinya di sejumlah tempat merupakan salah satu penolong Hafidz dalam mempermudah langkahnya. Seperti halnya dalam pemenuhan kebutuhan makanan dan lain sebagainya.

(Visited 2 times, 1 visits today)

Laman: 1 2


Komentar