Selasa, 24 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Musim Hujan, Petani Sulit Keringkan Jagung

Oleh Berita Hargo , dalam Ekonomi , pada Rabu, 22 Maret 2017 | 09:30 WITA Tag: ,
  


TILAMUTA-hargo.co.id – Musim hujan yang melanda Gorontalo sejak beberapa bulan terakhir berdampak pada kualitas jagung yang dipanen oleh para petani.Saat ini, sebagian besar petani di Gorontalo kesulitan untuk mengeringkan jagung.

Sehingga kadar air jagung para petani masih dikisaran 25 persen, Padahal mereka menargetkan kadar air jagung hasil panen saat ini bisa mencapai 17 persen, sehingga harga jual akan semakin tinggi.

BACA  November Cerita Bersama Aston Gorontalo Hotel dan Villas

Royis Adidia, salah seorang petani di Kecamatan Wonosari mengakui hal ini.”Kalau jagung sulit dikeringkan, maka kadar air juga pasti tinggi. Biasanya kadar air sekitar 20 persen, kini kadar airnya mencapai 25 persen.

sementara pengambilan ditingkatan pengumpul harus memenuhi standar minimal kadar airnya 17 persen target tersebut tidak dapat terpenuhi sehingga harga jagung relatif rendah ditingkatan petani dengan harga Rp 2.600 per kg,” ungkapnya.

BACA  RKB BRI Siap Kembangkan Inovasi UMKM di Tengah Pandemi Covid-19

Hal senada disampaikan Mahyudin Saleh, petani lainnya di Kecamatan Dulupi. Menurutnya, petani sulit memenuhi kadar air 17 persen, apalagi saat ini pihak pengumpul punya target pengambilan mencapai 17 persen kadar air.

dengan demikian maka bisa dipastikan tidak ada jagung yang sudah dikeringkan memenuhi standar tersebut.”Kalau harga jagung dengan standar kadar air 17 persen dengan presentase harga Rp 3.150 per kilogram.

BACA  Ini 6 Saran Ekonom ke Pemerintah Agar RI Keluar dari Jurang Resesi

ditingkatan pengumpul, maka akan terjadi potongan harga yang cukup besar saat  pengambilan ditingkatan petani dengan kadar air mencapai 20-25 persen.

dengan harga rata-rata Rp 2.600 per kg.Dengan merosotnya harga ditingkatan petani maka kami pasti akan rugi,” ungkap pria yang sering disapa om Udin itu.(tr-30/hg)


Komentar