MENGERING: Warga Desa Cekel, Kecamatan Karangrayung, menggali sumur di dasar sungai untuk bisa mendapatkan air kemarin (4/9). (INTAN M SABRINA/RADAR KUDUS)

Musim Kemarau Panjang Warga Gali Sumur di Sungai

Kabar Nusantara

Hargo.co.id GROBOGAN – Musim kemarau panjang menjadi mimpi buruk bagi warga Desa Cekel, Kecamatan Karangrayung. Sumur andalan warga mengering. Begitu juga debit air di sungai menyusut drastis.

Mereka mencari sumber air bersih yang kemungkinan tersisa di dalam sungai yang telah menjadi daratan. Dari liang sebesar tong sampah itu per lahan digenangi air. Air diciduk menggunakan gayung untuk diisikan ke jerigen atau gentong. Untuk memenuhi satu jerigen kemasan 40 liter dibutuhkan waktu paling sekitar 10 menit.

banner 728x485

Di alur sungai yang gersang itu, ada satu spot yang dimanfaatkan warga berburu sumber air di sungai. Biasanya spot akan berpindah-pindah menyesuaikan kondisi. Namun, masih tetap di alur sungai Desa Cekel.

Kondisi itu membuat warga setempat menggali sumur di dasar sungai yang telah mengering. Tanah dilubangi dengan kedalaman sekitar satu meter dan diameter sekitar satu meter.

Ada sepuluh lubang yang masing-masing dimanfaatkan warga untuk mendapatkan air secara bergiliran. Meski airnya keruh, tidak ada pilihan lain. Warga tidak mempersoalkan.

Media penampung air yang terisi, satu per satu diangkut menuju rumah menggunakan motor atau digendong. Jaraknya ke rumah warga sekitar satu kilometer.

Selama ini warga Desa Cekel mengandalkan sumur “tadah hujan” guna memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Air yang didistribusikan oleh PDAM tak menjangkau wilayah ini lantaran berlokasi terpencil. Dari Kota Purwodadi menuju Desa Cekel perjalanan bisa ditempuh sekira 1,5 jam. Akses infrastruktur jalan cukup memadai dilintasi kendaraan.

Saat musim hujan, kebutuhan air tercukupi, namun ketika memasuki musim panas, warga mulai dirundung gelisah. “Setiap musim kemarau, hal inilah yang pasti kami lakukan. Menggali tanah sungai yang kering mencari sisa-sisa air. Mau bagaimana lagi, sumur sudah tak diisinya,” ungkap Suwarti, 65, warga Desa Cekel.

Dalam sehari, Suwarti yang hidup sebatang kara bolak-balik. Dia dua kali berjalan kaki dari lokasi pengambilan air ke rumahnya. Jaraknya mencapai 2 kilometer. Suwarti baru beristirahat setelah empat gentong yang digendongnya terisi penuh.

“Saya terbiasa seperti ini sejak kecil. Airnya untuk MCK (mandi, cuci, kakus). Saya hanya berharap pemerintah bisa memudahkan kami mendapatkan air bersih,” harapnya.

Kepala Desa Cekel Sukamto menyampaikan, kekeringan telah melanda sejak Mei lalu. Dari 1.100 KK atau sekitar 3.500 jiwa terus merasakan dampak buruk dari musim kemarau. “Warga Desa Cekel mayoritas bekerja sebagai petani dan setiap rumah rata-rata punya sumur tadah hujan. Untuk yang mampu, saat kemarau seperti ini memilih membeli air di sendang desa tetangga Rp 3 ribu per jeriken. Dalam sehari setiap orang membutuhkan dua jerigen air kemasan 40 liter setiap jerigennya,” jelasnya.

Sukamto berharap, ada bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Grobogan termasuk PDAM Kabupaten Grobogan. “Desa ini cukup jauh dari kota dan termasuk terpencil. Kasihan apabila terus melihat warga fokus mencari air, bukan mencari penghasilan. Biasanya lubang-lubang di alur sungai bisa bertahan hingga lima bulan,” paparnya.

(ks/int/ris/top/JPR/hg)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *