Kamis, 8 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Nasihat Mesut Oezil untuk Mimpi Sepak Bola Indonesia

Oleh Aslan , dalam Headline Sportivo , pada Selasa, 5 September 2017 | 05:00 Tag: , ,
  Mesut Oezil menilai kerja keras tak akan mengkhianati hasil. (AFP)

Hargo.co.id – Setiap negara tentu bermimpi bisa menjadi juara Piala Dunia, tak terkecuali Indonesia. Namun, pertanyaannya adalah, seberapa mampu Indonesia mewujudkan mimpi itu. Dalam hal ini, gelandang internasional Jerman, Mesut Oezil, turut memberikan nasihat untuk Indonesia hingga negara lain yang berhasrat menjadi juara dunia.

Oezil membeberkan bagaimana proses hingga momen Timnas Jerman menjadi jawara dunia pada 2014 di Brasil. Menurut pemain Arsenalitu, untuk mencapai suatu prestasi, dibutuhkan kesabaran dan kerja keras. Dia menganggap, kerja keras tidak akan mengkhianati hasil.

“Sejujurnya, saya selalu menjadi orang yang sabar. Saya tidak perlu mengambil jalan pintas untuk mencapai sebuah kesuksesan. Percaya pada diri sendiri dan yakini satu hal: jika Anda tidak ingin bekerja keras, Anda tidak akan mendapatkan apa yang diinginkan,” terang Oezil.

Tak banyak yang menjagokan Jerman menjadi juara Piala Dunia 2014. Setidaknya jika dibandingkan Brasil selaku tuan rumah, atau Argentina dengan modal megabintang mereka, Lionel Messi. Namun nyatanya, Brasil mampu dilumat dengan skor 7-1 sebelum mengandaskan Argentina di partai puncak.

“Kerja keras dan percaya pada diri sendiri menjadi senjata ampuh kami di Brasil. Selain itu, kami juga memiliki kedalaman skuat yang baik. Jadi, di saat seorang pemain diistirahatkan, pemain lain selanjutnya yang mendapat tanggung jawab, bisa melaksanakannya dengan baik,” sambung Oezil.

“Memiliki kemampuan saja tidaklah cukup. Keseimbangan di dalam tim juga diperlukan. Kami harap bisa pulang dari Rusia dengan gelar lainnya,” imbuh pemain keturunan Turki tersebut.

Berdasarkan pernyataan Oezil, Indonesia dan negara lain yang bermimpi menjadi juara Piala Dunia bisa memetik pelajaran penting. PSSI, selaku otoritas tertinggi sepak bola Indonesia, dituntut lebih bersabar dan memerhatikan proses untuk meraih prestasi sejak level Asia Tenggara hingga dunia.

Jerman sendiri sudah membangun fondasi tim sejak gelaran Piala Dunia 2006 di rumah sendiri. Saat itu, tim asuhan Juergen Klinsmann kandas di babak semifinal dari tim juara, Italia. Sepeninggal Klinsmann, asistennya Joachim Loew, meneruskan estafet kepelatihan.

Loew tak lantas membongkar fondasi yang sudah dibangun, melainkan memoles serta menambal-sulam kekurangan. Sampai akhirnya, delapan tahun berselang Jerman menuai hasil dari kerja keras itu dengan mengangkat trofi Piala Dunia.

Indonesia? Mungkin butuh waktu lebih lama dibanding Jerman dalam proses membangun kekuatan sepak bola di kancah internasional. Namun, dengan kesabaran, komitmen, dan kerja keras, tak ada hal yang mustahil diwujudkan.

(ira/JPC/hg)

(Visited 4 times, 1 visits today)

Komentar