Rabu, 23 September 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Negara Miskin yang Berhasil Dalam Penanganan Pandemi Covid-19

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Kabar Dunia , pada Rabu, 9 September 2020 | 19:05 WITA Tag: ,
  Potret kehidupan warga Senegal. Salah satu negara miskin di Afrika itu ternyata memiliki sistem penanganan wabah Covid-19 yang terbilang sukses meski sumber daya di sana kurang memadai (JOHN WESSELS / AFP)


Hargo.co.id, SENEGAL – Hasil tes Covid-19 keluar dalam 24 jam, atau bahkan lebih cepat. Hotel telah diubah menjadi pusat karantina. Para ilmuwan berlomba untuk mengembangkan ventilator mutakhir dan berharga murah. Itu semua bukan respons pandemi Covid-19 di Korea Selatan, Selandia Baru, atau negara lain yang dianggap sebagai model keberhasilan dalam penanggulangan pandemi Covid-19.

Itu adalah respons Senegal terhadap wabah Covid-19. Negara Afrika barat dengan sistem perawatan kesehatan yang rapuh, kelangkaan tempat tidur rumah sakit, dan sekitar tujuh dokter untuk setiap 100.000 orang. Namun Senegal, dengan populasi 16 juta, telah menangani Covid-19 secara agresif dan sejauh ini efektif. Lebih dari enam bulan setelah pandemi, negara itu hanya memiliki 14.014 kasus dan 291 kematian. Sementara 10.037 pasien telah sembuh dan hanya ada 3.686 kasus aktif. Ini sesuai data terbaru dari Worldometers.

Senegal bahkan mengungguli Indonesia dalam hal penanganan Covid-19. Senegal dan Indonesia sama-sama mengonfirmasi kasus pertama pada awal Maret 2020. Namun, bandingkan data terakhir kasus Covid-19. Indonesia per Selasa (8/9) telah menembus angka 200.035 kasus positif. Angka kematian mencapai 8.230 jiwa. Bahkan, per Selasa (8/9) ada penambahan 100 pasien meninggal hanya dalam 24 jam. Sebanyak 142.958 pasien telah sembuh, sehingga kasus aktif 48.847 pasien.

“Anda melihat Senegal bergerak di semua lini mengikuti sains, bertindak cepat, komunikasi yang baik, dan kemudian memikirkan inovasi,” beber Judd Devermont, Direktur Program Pusat Kajian Strategis dan Internasional untuk Afrika sebagaimana dilansir JawaPos.com.

BACA  Kasus Positif Covid-19 di Inggris Naik 167 Persen sejak Akhir Agustus

“Senegal layak berada di jajaran negara yang telah menanggapi krisis ini dengan baik, bahkan mengingat basis sumber dayanya yang rendah,” imbuh Devermont.

Senegal bahkan menempati posisi nomor 2 dalam analisis terbaru tentang bagaimana 36 negara telah menangani pandemi Covid-19. Amerika Serikat sebagai negara adikuasa dengan banyak orang pintar dan teknologi mutakhir, berada di posisi paling bawah yakni posisi 31 dari 36 negara yang diteliti oleh majalah Foreign Policy. Ini mencakup negara-negara kaya, berpenghasilan menengah, dan berkembang.

Senegal mendapatkan nilai tertinggi untuk kesiapsiagaan dan ketergantungan pada fakta dan sains. Sementara AS merespons terkait kesehatan masyarakat yang buruk, pengujian terbatas, dan kekurangan lainnya.

Devermont dan pakar lainnya mengatakan keberhasilan Senegal tak lepas dari kombinasi tindakan cepat, komunikasi yang jelas, dan pengalamannya selama wabah Ebola 2014.

Senegal langsung merespons cepat ketika kasus pertama ditemukan pada awal Maret 2020. “Pengujian cepat dan dapat diandalkan, semua hasilnya negatif,” kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) saat mengumumkan wabah di Senegal beberapa bulan kemudian. “Dengan wabah yang menular cepat, Senegal telah mempersiapkan diri dengan baik, rencana yang terperinci, dan langkah yang tepat pada awal Maret,” imbuh WHO.

Bahkan, jauh sebelum virus Korona masuk ke Senegal, negara tersebut sudah melakukan antisipasi. Dr. Abdoulaye Bousso, Direktur Pusat Operasi Darurat Kesehatan Senegal, mengatakan bahwa pemerintah mulai menyusun rencana darurat setelah WHO mengumumkan keadaan darurat kesehatan masyarakat internasional pada 30 Januari 2020. Padahal, Covid-19 saat itu belum ditemukan di Senegal.

BACA  Teroris Christchurch Dihukum Seumur Hidup Tanpa Pembebasan Bersyarat

Ketika Senegal mengalami kasus positif pertama dua bulan kemudian, Presiden Macky Sall segera memberlakukan jam malam dan membatasi perjalanan antara 14 wilayah di Senegal. Negara tersebut lantas meningkatkan kapasitas pengujian dengan cepat, menciptakan laboratorium seluler yang dapat memberikan hasil dalam waktu 24 jam (bahkan bisa dua jam dalam beberapa kasus).

Pemerintah Senegal juga berjanji bahwa setiap orang yang dites positif akan mendapatkan perawatan di rumah sakit, apakah mereka memiliki gejala atau tidak. Itu membuat pasien bisa jauh dari rumah sehingga menghindari penularan virus ke anggota keluarga. “Jika melakukan itu dengan cepat, kami dapat dengan sangat cepat menghentikan transmisi,” kata Bousso.

Langkah kecil namun penting lainnya yakni setiap hari seorang pejabat dari Kementerian Kesehatan menyampaikan kabar terbaru yang suram, mengungkapkan jumlah infeksi baru, berapa banyak orang yang telah disembuhkan dan berapa banyak yang meninggal. Artinya, dalam hal ini pemerintah sangat terbuka dalam hal wabah Covid-19 dan tak ada yang ditutup-tutupi.

“Jika ada enam orang yang meninggal, kami mengatakannya. Jika kami memiliki satu orang yang meninggal, kami mengatakannya,” kata Bousso.

Shannon Underwood, pengacara imigrasi dari Seattle (AS) yang pindah ke Senegal bersama keluarganya dua tahun lalu, mengatakan tanggapan pemerintah sangat mengesankan. Underwood bahkan menilai sangat aneh melihat tanggapan AS terkait Covid-19. Penanganan di sana disebutnya amburadul. Sampai-sampai Underwood mengatakan lebih suka tinggal di Senegal.

“Belum pernah ada saat keluarga saya berpikir, ‘Oh, kami seharusnya mengungsi. Kami selalu merasa berada di sini adalah pilihan yang lebih baik,” ungkap Underwood.

BACA  Aktor Pemeran Black Panther Chadwick Boseman Meninggal Dunia

Underwood bahkan mengatakan bahwa warga Senegal kaget ketika mengetahui orang Amerika memperdebatkan apakah harus memakai masker atau tidak dan mempertanyakan tingkat keparahan virus.

Penanganan Senegal terhadap wabah Covid-19 memang sangat ketat. Di setiap toko kelontong, restoran, dan fasilitas lainnya ada penjaga keamanan yang berdiri di depan pintu dengan thermo gun dan hand sanitizer. Setiap orang dicek suhunya dan diminta membersihkan tangan dengan hand sanitizer. Hebatnya, setiap orang mematuhi tanpa keributan

Devermont mengatakan keberhasilan Senegal dalam menangani Ebola memberi mereka cetak biru untuk menghadapi Covid-19. Presiden Sall menikmati kepercayaan yang tinggi di seluruh Senegal, memastikan bahwa orang-orang memperhatikan peringatannya dan pembatasan pemerintah secara serius. Presiden Sall juga memberi contoh yakni memutuskan untuk mengisolasi diri setelah terpapar virus, meski dia dinyatakan negatif.

“Senegal memang tidak luput dari masalah. Namun, semua tergantung dari tingkat kesiapan dan sumber daya yang dimiliki. Selain itu, kepemimpinan juga sangat dibutuhkan saat pandemi. Dan, saya pikir Macky Sall dan pemerintahnya telah menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa,” ungkap Devermont.

Senegal memang belum bisa mengatakan bahwa virus Korona sudah terkendali. “Tapi, kami optimis jika terus berjalan, kami bisa menghentikan wabah ini,” pungkas Dr Bousso.(ep/jawapos/hg)

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JawaPos.com, dengan judul: “Senegal, Negara Miskin yang Berhasil Dalam Penanganan Pandemi Covid-19“. Pada edisi Selasa, 08 September 2020.


Komentar