Sabtu, 16 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Normal Risma

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Jumat, 8 Oktober 2021 | 10:05 AM Tag: , , ,
  Normal Risma - DI'SWay

Oleh : Dahlan Iskan

BERAPA kali Bu Risma marah di depan kamera? Tentu lebih banyak lagi kalau yang tidak terekam ikut dihitung. Semakin bertambah-tambah pula kalau masa sebelum menjadi Menteri Sosial dimasukkan.

Orang Surabaya sudah menganggap normalnyi Bu Risma ya seperti itu. Orang Surabaya tidak mencelanyi. Tidak pula menganggapnyi aneh. Prestasi Risma yang tinggi telah mengalahkan gaya kasarnyi. Dia sampai dua kali menjabat Wali Kota Surabaya.

Bu Risma adalah orang yang punya kemauan –besar dan keras. Dan dia bekerja habis-habisan untuk mewujudkan kemauannyi itu.

Carilah Risma di saat hujan deras: dia hampir pasti bisa ditemukan di lokasi pompa-pompa penyedot genangan. Dia temukan genset yang ngadat. Pipa yang buntu. Listrik yang tidak nyambung.

Dia pakai jas hujan. Tapi tetap saja basah kuyub. Dia ikut bekerja. Bukan hanya memeriksa. Itu dia lakukan tanpa terlihat untuk pencitraan. Dia benar-benar ingin banjir teratasi. Dia bukan ingin foto basah kuyubnyi beredar di media keesokan harinya.

Risma –Ir Tri Rismaharini– memang orang yang tahu detail. Memperhatikan detail. Mengontrol detail. Menyelesaikan detail. Sebagai arsitek dia terbiasa dengan perencanaan dan pekerjaan detail. Dia juga selalu mencari jalan termurah untuk proyek dengan mutu yang diinginkan. Arsitek dididik dan dibiasakan berpikir begitu.

Angka-angka orang miskin pasti dia perhatikan sampai detail. Apalagi setelah dia menjadi menteri sosial. Dia tahu cara memanfaatkan kemampuan komputer. Dia pasti marah kalau ada detail yang salah.

Jangankan angka-angka kemiskinan yang begitu penting. Penari yang akan tampil di panggung Pemkot Surabaya pun dia kontrol sampai ke pakaian tarinya.

Dan Risma tidak terlihat memupuk kekayaan dari jabatannyi. Dua periode dia jadi wali kota. Di kota metropolitan pula: Surabaya. Rumahnya biasa saja. Di daerah yang termasuk kelas 3-nya Surabaya: Wiyung. Nun di Surabaya Barat banget. Itu bukan daerah kelas 2 apalagi kelas 1. Dia sudah di situ sejak masih menjadi kepala dinas.

Rumah orang tuanyi –yang menjadi rumah pertamanyi– juga di daerah kelas 3. Di dekat Pasar Burung, Nginden. Yang sampai sekarang tanahnya masih belum berstatus hak milik.

Di rumah inilah, awalnya, dibangun museum sederhana: Historisma. Di situ pula dibuat warung kopi. Waktu itu Risma mengira tidak ada jabatan apa-apa lagi setelah dua periode itu berlalu. (Baca juga: Historisma)

Ternyata Risma menjadi menteri sosial. Saya pernah berpikir untuk mengadakan acara selama satu minggu. Temanya: Surabaya Berterima Kasih Kepada Risma. Tapi ada pandemi. Tidak mungkin ada kerumunan. Apalagi sebelum habis masa jabatan itu ternyata dia sudah dilantik sebagai menteri. Praktis tidak ada waktu bagi warga Surabaya untuk berterima kasih kepadanyi.

Saya memang melihat Bu Risma juga orang yang normal: ingin jabatan yang lebih tinggi. Sejak dulu. Tapi yang seperti itu kan boleh-boleh saja. Kemajuan sering datang dari orang yang punya kemauan.

Saya pernah makan satu meja bertiga: dengan Bu Risma dan Ibu Mega. Saya rasakan hubungan istimewa kedua wanita itu. Bu Mega terlihat sudah terbiasa dengan gaya Bu Risma yang ceplas-ceplos: Suroboyoan. Dengan gerak tubuh yang tidak perlu disopan-sopankan. Yang untuk ukuran orang sebagian orang Jawa bisa saja dianggap kurang sopan. Toh tidak terlihat ada sedikit pun keberatan Bu Mega dengan gaya Risma seperti itu.

Marahnyi Bu Risma memang keras. Agak kasar. Tapi mulutnyi tidak kotor. Tidak ada harta dari toilet yang keluar dari mulut marahnyi. Tidak ada pula kebun binatang di lidahnyi.

Saya pun akan marah: kalau melihat data orang miskin yang harus salah terus. Sudah sekian tahun. Sudah di zaman komputer dan Wi-Fi seperti ini.

Harus ada yang marah di negeri ini: asal marahnya tetap yang ikhlas. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di artikel berjudul: Killing Softly

Ahmad Zuhri
saya itu biasanya bangun jam 02.30, sambil browsing baca berita kok ingat kmrn komentar gitu.. Ya udah tak coba aja refresh Disway dari jam 3 kurang, ternyata pas jam 3 udah upload beneran artikel nya.. Ternyata mmg betul kata pepatah itu, kesuksesan itu kombinasi antara kesiapan dan kesempatan hahaha..

Enggar Estiko Handoko
Pertama kali langsung baca komen pertama, eh beneran tahta ganti dari bung fadhil ke mas zuhri. Hahaha. Curang sekali kau mas, minta dimajuin uploadnya biar bisa dapat pertamax sendiri hihihi

Mbah Mars
Mas Fadil pagi ini terplongo-plongo. Kaget.

Fadil Wira Dwi B.
Betul Mbah sy terkaget-kaget… pagi ini sy “dilimpe” sama Abah… wkwkwkw.. Gapapalah untk kali ini saja, besok gak lah yau… bwha ha ha ha…

Ahmad Zuhri
Waalaikumsalam wr wb.. sepurane ya mas, saya kudeta hari ini aja tapi atas bantuan Admin hehe.. Monggo besok silahkan ambil kembali tahta pertamax nya..

Reader Disway
Saya juga ada rencana pasang PLTS di atap rumah, sudah memilih-milah antara monokristal atau poli. Juga sudah menghitung-hitung biayanya. Dipasang bertahap sampai 100% tanpa PLN. Sampai sekarang masih menghitung2 aja, entah kapan terlaksana..duitnya belum adaaa.

(Visited 77 times, 1 visits today)

Komentar