NTP di Gorontalo Kalahkan Sulut dan Sulsel, Ini Datanya

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie bersama Ketua TP PKK Idah Syahidah Rusli Habibie dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, panen jagung di Gorontalo. (Foto Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Performa nilai tukar petani (NTP) di Provinsi Gorontalo konsisten berada di atas poin 100 dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan data Badan Pusat Statistik (BPS)  mengungkap, NTP Gorontalo terbaik dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. NTP menjadi indikator dalam menentukan tingkat kesejahteraan petani.

Seperti yang dilansir Gorontalo Post, NTP yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan.

NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.

Secara umum, NTP Provinsi Gorontalo dalam kurun waktu tahun 2011 sampai dengan 2018, rata-rata mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Bahkan meningkat sampai diatas 100 atau pada tahun 2018 mencapai 107,28 persen, yang artinya petani Padi Palawija menikmati keuntungan yang cukup dalam usaha tani tersebut. Berdasarkan data, khususnya NTP subsektor tanaman pangan (padi Palawija), pada tahun 2011 baru pada posisi sebesar 93,35 meningkat menjadi 107,28 pada 2018.

Periode pemerintahan Gubernur Rusli Habibie dan Wagub Idris Rahim, melalui program Nyata Karya Rusli Idris (NKRI) yang banyak melakukan intervensi terhadap program pemerintah, menjadi pemicu terus meningkatnya NTP Provinsi Gorontalo.

Data BPS (grafis), bisa disimpulkan jika kesejahteraan petani tanaman pangan meningkat, dan akan terus meningkat ke depannya. Dibandingkan 2011 atau saat awal Rusli Habibie -Idris Rahim memimpin Gorontalo, NTP tanaman pangan hanya berkisar pada angka 91, disebabkan belum adanya kebijakan dan terobosan program pertanian dalam upaya peningkatan produksi yang berdampak pada pendapatan petani di pedesaan.

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie gelisah dengan angka itu. Ia kemudian terus berupaya melalui kebijakanya dengan melakukan intervensi terhadap program pertanian. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dikerahkan untuk membantu petani, seperti untuk bantuan benih, pupuk, termasuk bantuan alat dan mesin pertanian.

Infrastruktur pertanian seperti irigasi, jalan tani, juga dibangun. APBD dirasa tak cukup, Rusli kemudian rajin ke Jakarta, turun naik di kantor kementerian sambil membawa proposal bantuan. Upaya Rusli direspon pemerintah pusat. Menteri Pertanian Andi Amran Suliaman, banyak mengucurkan bantuan ke Gorontalo, syaratnya jangan ada program yang gagal.

Kepercayaan Menteri Pertanian itu direalisasikan Gubernur Rusli Habibie. Hasil pertanian Gorontalo melambung, bahkan surplus, seperti jagung, padi, dan komoditi lain. Begitu pun dengan peternakan, Gorontalo  menjadi daerah pemasok sapi ke Kalimantan.

Menteri bangga, sehingga Gorontalo kerap dijadikan percontohan suksesnya program pertanian. Tak heran, Mentan Andi Amran Sulaiman tak ragu-ragu mengucur bantuan ke Gorontalo. Hasilnya, setiap tahun NTP meningkat.  Per Juli 2019, NTP Gorontalo tertinggi ke dua di Sulawesi setelah Sulawasi Barat. Provinsi ‘induk’, Sulawesi Utara hanya berada pada angka 94,61,dan Sulawesi Selatan 102,43.

“Memang intervensi program oleh bapak Gubernur itu sangat berpengaruh pada NTP, dan ini rill angka BPS,” kata Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo Mulyadi D Mario.

Kebijakan pemerintah terhadap program pertanian, lanjut Mulyadi bertujuan untuk meningkatkan pendapatan petani dengan menekan biaya produksi, serta meningkatkan kapasitas serta daya saing petani, terutama petani yang tidak dapat menjangkau akses terhadap sumber daya usaha pertanian.

Kebijakan program yang terus mendapat perhatian lebih Pemerintah Provinsi tersebut antara lain, bantuan benih gratis baik padi untuk seluruh lahan sawah di Gorontalo,  maupun bantuan benih Jagung, ketersediaan infrastruktur pertanian seperti jalan usaha tani, jaringan irigasi dan sumber-sumber air lainnya , bantuan bajak gratis untuk petani miskin, peminjaman alat dan mesin pertanian melalui Brigade Alsintan, subsidi pupuk, asuransi usaha tani padi, gerakan pengendalian hama dan penyakit tanaman, kawasan pertanian terpadu, akses permodalan dan pasar.

Sama halnya yang disampaikan kepala Bappeda Provinsi Gorontalo Budiyanto Sidiki, ia mengatakan, peningkatan NTP tidak datang dengan sendirinya. Ada inovasi dan sentuhan program yang dilakukan dibalik itu.

Pemerintah Provinsi Gorontalo, lanjut Budiyanto memang menjadikan pertanian sebagai salah satu program prioritas. Apalagi, sebagian besar penduduk Gorontalo berprofesi sebagai petani.

“Pak Gubernur sangat getol dengan pertanian. Bantuan dan invernsi program itu terus dilakukan,”katanya.

Dalam urusan pertanian, pemerintah tak saja mempersiapkan saat masa tanam saja, namun pasca panen termasuk pasar juga disiapkan. Hal ini dirasakan langsung kelompok tani Anugerah, Desa Huntu, Batudaa, Kabupaten Gorontalo.

Kelompok tani ini diberikan bantuan vertical dryer atau mesin pengering jagung dari Pemerintah Provinsi Gorontalo. Setahun setelah bantuan itu diterima, kelompok tani Anugerah, sudah berhasil mengirimkan 500 ton jagung ke Medan, Sumatera Utara (antar pulau).

“Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Provinsi Gorontalo, khususnya bapak Gubernur dan Wakil Gubernur yang sudah memberikan vertical dryer untuk kelompok kami,” ucap Ketua Kelompok Tani Anugerah, Aruji Wantu. Bantuan ini membantu mereka, sebab dapat menjaga kualitas jagung sesuai pesanan klien. (adv/hg)

-