Selasa, 27 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Nyaris Pecah Perang Tradisional Antardistrik, Polisi Berjaga-jaga

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Kabar dari Timur , pada Kamis, 20 Agustus 2020 | 14:05 WITA Tag: , ,
  Kapolres Jayawijaya AKBP Dominggus Rumaropen bertemu masyarakat yang membawa jenazah korban pembunuhan di dalam karung. Mereka hendak melakukan pembalasan namun dihalau polisi. (Marius Frisson Yewun/Antara)


Hargo.co.id, JAYAWIJAYA – Sebanyak 100 personel Polres Jayawijaya, Polda Papua, disiagakan di tiga titik. Penjagaan itu untuk mencegah perang tradisional antara masyarakat Kampung Meagama, Distrik Hubikosy dan Kampung Kosiwuka, Distrik Pelebaga.

Kapolres Jayawijaya AKBP Dominggus Rumaropen seperti dilansir dari Antara di Wamena mengatakan, polisi telah menyekat pergerakan massa yang sejak pagi hari (19/8) sudah membawa peralatan perang tradisional. ”Masyarakat dua kampung itu sudah siap berperang. Kita sudah tempatkan personel di dua kampung itu. Personel juga sudah melakukan penggalangan sehingga masyarakat bisa kembali ke tempat masing-masing,” kata Dominggus Rumaropen sebagaimana dilansir JawaPos.com, Rabu (19/8).

BACA  Cara KKSB Papua Tarik Simpati Dunia Internasional

Belum ada kesepakatan perdamaian antar masyarakat yang bertikai. Polisi telah menyarankan warga dua kampung untuk memakamkan dua korban yang terdapat di dua pihak.

”Belum ada kesepakatan perdamaian karena situasi memanas, tetapi langkah kepolisian adalah penegakan hukum yaitu pemeriksaan terhadap saksi-saksi pembunuhan. Kemudian, kita juga mendapatkan hasil rekaman di dua tempat kejadian, sementara kami kembangkan,” kata Dominggus Rumaropen.

Latar belakang aksi siap berperang itu terjadi setelah seorang warga Distrik Pelebaga ditemukan meninggal di Distrik Hubikosy pada 25 Juli. ”Penemuan jenazah itu menyebabkan pihak lawan tersinggung. Tanpa tanya, mereka turun menyerang Kampung Meagama pada Selasa (18/8). Bertepatan dengan penyerangan itu, mereka habisi kepala Desa Meagama,” terang Dominggus Rumaropen.

BACA  Pengumuman CPNS Ricuh, Massa Rusak Kantor Bupati, Gedung Disnaker dan PMK Dibakar

Sore hari pada hari yang sama (18/8), terjadi juga pembunuhan di Jalan Safri Darwin, pusat ibu kota kabupaten. Korban langsung meninggal dunia karena benda tajam oleh sekelompok warga. Kedua kasus pembunuhan itu, lanjut kapolres, diduga berkaitan.

BACA  Jokowi Resmikan Tol Manado-Bitung Sepanjang 26 Kilometer

Berdasar pantauan pada Rabu (19/8), ratusan masyarakat dari salah satu kelompok bertikai sudah siap dengan peralatan perang tradisional yang biasa digunakan seperti parang, tombak, panah, kampak, dan busur. Aksi siap siaga itu bukan saja melibatkan orang tua, anak-anak usia pelajar setingkat SMP dan SMA juga membekali diri dengan senjata tajam. (lrm/antara/jawapos/hg)

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JawaPos.com dengan judul: “Nyaris Pecah Perang Tradisional Antardistrik, Polisi Berjaga-jaga“. Pada edisi Rabu, 19 Agustus 2020.

Komentar