Selasa, 26 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ola Rianti Usman, Saksi Hidup Tsunami Palu

Oleh Fajriansyach , dalam Features Gorontalo Headline , pada Rabu, 3 Oktober 2018 | 01:00 WITA Tag: ,
  


Deice Pomalingo-Limboto

Bencana gempa dan tsunami yang menerjang kota Palu ternyata begitu dahsyat. Rentetan kejadiannya boleh dikata sudah menyerupai kisah film yang menceritakan akhir perjalanan bumi. Misalnya film dengan tema kiamat yang berjudul 2012.

Percaya atau tidak. Tapi inilah testimoni warga yang berhasil selamat dari bencana gempa dan tsunami di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Dari sekian banyak yang selamat, salah satunya adalah warga Gorontalo. Yaitu Ola Rianti Usman. Warga kelurahan Dutulanaa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo itu, berhasil lolos dari maut, meski sempat digulung ombak tsunami setinggi lima meter di pantai Talise, Palu, Jumat (28/9).

Ola Rianti Usman menceritakan detail bencana gempa dan tsunami yang ia alami itu, kepada awak media ini. Sesaat setelah mendapatkan penanganan medik di ruang Unit Gawat Darurat (UGD) Rumah Sakit MM Dunda Limboto, Senin (1/10) kemarin.

Kisah Ola Rianti Usman yang bisa lolos dari lubang maut itu, berawal dari keberangkatannya ke Palu pada Kamis (27/9). Atau, sehari sebelum gempa dan tsunami menerjang kota Palu dan Donggala.

Ola berangkat bersama suami bernama Daeng Zainal. Serta satu orang saudara sepupu. Namanya Anita Rahman. Mereka bertiga berangkat ke Palu untuk menjenguk ayah mertua Ola yang sedang sakit. Menggunakan mobil pribadi, mereka tiba di Palu esoknya. Pada Jumat sore. Setibanya di Palu, mereka tidak langsung ke rumah mertua Ola. Tapi, masih mampir di pantai Talise untuk mencari makan.

BACA  Disedot Tak Ada Hasil, Genangan Air di Simpang Empat BRI Andalas Terus Disorot

Pantai Talise menjadi salah satu objek wisata di Kota Palu. Lazimnya sebuah objek wisata, di dalamnya sudah pasti banyak penjual makanan. Tempat orang berkumpul. Dan, saat Ola, suaminya, serta Anita Rahman tiba di pantai Talise, ketika itu sedang berlangsung geladi acara HUT Kota Palu. Saat itu banyak sekali masyarakat yang berkumpul.

Ditengah kemeriahan suasana di Pantai Talise, kira-kira pukul 17.45 wita, gempa terjadi. Ola,suaminya dan Anita Rahman yang masih di dalam mobil, mulai bergerak perlahan ke jembatan kuning yang berdekatan dengan pantai Talise.

Setelah melewati jembatan, gempa besar terjadi. Begitu kuatnya guncangan gempa itu, sampai Ola menyaksikan sendiri, gorong-gorong di sepanjang pantai Talise terbelah.

“Firasat saya akan terjadi tsunami,” ujar Ola dengan terbata-bata.

Firasat Ola benar-benar terjadi. Gelombang tinggi Tsunami terlihat. Ola langsung teriak. “Tsunamiiiii,”.

Ola yang duduk di pintu kiri berupaya untuk melompat dari mobil. Rupanya, suami Ola dan Anita Rahman sudah lebih dulu melompat. Saat Ola akan melompat ke luar, kondis mobil sudah dalam kondisi setengah menanjak. Bukan karena kondisi jalan yang menanjak. Tapi karena aspal jalan yang sudah terbuka ke atas, akibat gempa.

BACA  Diduga Habis Nyabu, Pria di Gorontalo Diamankan Polisi

Di tengah perjuangannya untuk bisa selamat dari maut, kaki kiri Ola justru terjepit di belahan aspal. Saat itu dalam pikiran Ola hanyalah kepanikan dan ketakutan. Panik dan takut karena di tengah perjuangannya untuk lolos dari maut, Ola masih sempat menyaksikan kejadian yang begitu mengerikkan.

Melihat banyak orang masuk ke dalam tanah yang terbelah. “Kondisi tanah terbelah. Lalu tertutup kembali. Barulah air bah itu naik. Menghantam apapun yang ada di daratan,” kisah Ola menceritakan detik-detik kejadian tsunami di Pantai Talise.

Saat tsunami datang, Ola tak sempat melarikan diri. Karena kakinya masih terjepit. Setelah diterjang tsunami Ola tak sadarkan diri. Dia tersadar kembali saat badannya sudah berada di atap rumah. Rupanya dalam kondisi tak sadar Ola terseret gelombang tsunami.

“Waktu tersadar tangan saya terjepit. Saat gempa kembali terjadi saya berupaya mencabut tangan saya sambil teriak Allahuakbar,” ungkap Ola dengan nada bergetar.

Yang membuat dia bisa bertahan adalah semangat untuk bisa hidup. Ola berada di atap rumah dalam kondisi tanpa busana sampai jam 10 malam. “Setelah saya berhasil melepaskan tangan yang terjepit, saya langsung turun. Berlari ke jalan meminta tolong meski tanpa busana,” urai Ola.

BACA  Tolak Bala, Gorontalo Gelar Du'a Lo Ulipu

Dalam situasi itu, ada seorang bapak yang menolong Ola dengan memberikan sehelai kain gorden yang sudah berlumpur untuk menutupi badan Ola.

“Waktu itu saya dapat pertolongan untuk mengeluarkan air bercampur lumpur dan pasir yang saya telan. Dada saya dipompa hingga akhirnya air lumpur itu saya muntahkan,” ungkapnya.

Dari tempat itu, Ola meneruskan perjalanannya. Hingga 100 meter kemudian, ada mobil yang bersedia memberikan tumpangan.

“Saya diselamatkan ke wilayah Maleo,” katanya. Besoknya pada Sabtu (29/9) pagi, sekitar pukul 07.00 wita, Ola mencari sepupunya yang bertugas di Basarnas. Setelah bertemu, Ola dipulangkan ke Gorontalo.

“Alhamdulillah saya masih diselamatkan. Walaupun hingga saat ini saya tidak tahu keberadaan suami dan sepupu saya (Anita Rahman.red). Bahkan kondisi mertua saya pun saya tak tahu. Karena memang semua sudah rata dengan tanah,” urai Ola.

“Saat inipun saya tidak berharap banyak dan hanya membutuhkan bantuan medis, karena saya sudah tak punya apa-apa lagi,” ujar Ola menutup kisahnya soal bencana gempa dan tsunami di Palu.

Sepupu Ola yaitu Anita Rahman dipastikan meninggal tersapu gelombang tsunami. Jasadnya sudah dimakamkan di Palu, Senin (1/10). Tapi kondisi suaminya belum diketahui. (*)


Komentar