Selasa, 17 Mei 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ongkos Haji Gorontalo Termahal, Rp 38,9 Juta Per Jamaah

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Jumat, 7 April 2017 | 13:36 Tag: , , , ,
  

JAKARTA Hargo.co.id – Tahap demi tahap persiapan haji 2017 terus bergulir. Setelah Presiden Joko Widodo meneken biaya haji per embarkasi, calon jamaah haji (CJH) bisa mulai melakukan pelunasan. Dalam perincian ongkos haji tahun ini, calon jamaah haji (CJH) asal Gorontalo dan umumnya yang tergabung dalam embarkasi haji Makassar adalah biaya haji yang paling mahal di Indonesia, yakni mencapai Rp 38,9 juta.

Untuk Gorontalo biaya tersebut belum termasuk biaya transportasi lokal, yakni dari Gorontalo ke Makassar dan sebaliknya. Seperti diketahui, Gorontalo yang berstatus embarkasi haji antara (EHA), harus berangkat menuju Makassar untuk pemberangkatan melalui embarkasi Makassar. Namum biaya transportasi lokal dalam beberapa tahun terakhir telah ditanggung Pemprov Gorontalo dan tidak lagi membebani jamaah.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, ketetapan itu tertuang dalam  Keppres Nomor 8 Tahun 2017 tentang Penetapan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH). ”Pekan depan sudah bisa mulai pelunasan (BPIH),” ujarnya saat ditemui di kompleks istana kepresidenan kemarin (6/4).

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, Lukman menyebutkan bahwa BPIH embarkasi Aceh paling rendah, yakni Rp 31.040.900. Sedangkan embarkasi Makassar paling tinggi, yakni Rp 38.972.250 per jamaah (selengkapnya lihat grafis). ”BPIH terdiri atas tiga komponen: penerbangan, pemondokan, dan biaya hidup,” katanya.

Selain BPIH untuk haji reguler, pemerintah menetapkan BPIH untuk tim pemandu haji daerah (TPHD). Nilainya lebih besar Rp 10 juta sampai Rp 12 juta daripada haji reguler. TPHD yang umumnya dibayar anggaran pemerintah daerah itu lebih mahal karena tidak menyetor uang muka BPIH.

Disinggung mengenai pemondokan di Makkah dan Madinah, Lukman memastikan sudah hampir siap. Hanya, beberapa waktu belakangan pihaknya mencari tambahan pemondokan karena kuota haji Indonesia kembali normal. Jaraknya pun kurang lebih masih sama seperti tahun lalu, maksimal 4,5 kilometer dari Masjidilharam. ”Masih dekat lah,” kata putra Saifuddin Zuhri, menteri agama pada era Presiden Soekarno, itu.

Menurut Lukman, sebenarnya pemondokan sudah tidak menjadi masalah. Sebab, untuk hotel yang berjarak lebih dari 1,5 kilometer, ada bus salawat yang melayani penumpang selama 24 jam dari dan ke Masjidilharam. Adapun lokasi pemondokan di Madinah tetap sama, di Markaziyah. ”Jaraknya kurang dari 1 kilometer dari Masjid Nabawi,” sebutnya.

(Visited 5 times, 1 visits today)

Laman: 1 2 3


Komentar