Sunday, 19 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Otong Kace

Oleh Tirta Gufrianto , dalam DI'SWAY , pada Sunday, 29 August 2021 | 12:05 PM Tags: , , ,
  Otong Kace - DI'SWay

Oleh : Dahlan Iskan

“Selamat ya. Anda wartawan pertama yang menemukan identitas lengkap siapa Muhammad Kace,” tulis saya kepada Deni Mithun kemarin. Saya juga memuji pimpinan harian Radar Pangandaran yang memuat tulisan Deni dengan karya jurnalistik yang cukup baik.

Sudah seminggu saya mencari siapa sebenarnya Muhammad Kace yang menghebohkan itu (Disway: Miris Ngeri). Gagal. Saya hubungi banyak aktivis Islam. Tidak ada yang kenal. Saya hubungi banyak teman saya yang Kristen. Juga tidak tahu.

Saya benar-benar penasaran: siapa Muhammad Kace. Ternyata Deni-lah wartawan pertama yang menemukan identitas lengkapnya.

Deni beruntung. Jumat dua hari lalu ia ditelepon Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pangandaran H Otong Aminudin. Sang ulama baru saja nonton TV. Setelah salat Jumat. Ia melihat ada berita ditangkapnya Muhammad Kace oleh polisi. Ia lihat wajah Kace di layar TV. Langsung saja Otong menelepon Deni.

“Orang itu penduduk tetangga desa kita,” ujar Otong kepada Deni.

Lalu Otong menceritakan bagaimana ia kenal Kace. Otong bersama warga desa sekitar itu pernah ”mengusir” Kace dari desa itu.

“Tahun berapa?” tanya saya pada Otong. Saya sendiri ikut menelepon Otong kemarin.

“Tahun 1997 atau 1998. Sebelum moneter-moneter itu,” ujar Otong. Maksudnya, sebelum krisis moneter 1998.

“Mengapa bapak ”usir” Kace dari desa itu,” tanya saya.

“Ia bikin masalah terus,” ujar Otong.

Yang ia sebut ”bikin masalah” ternyata mulai banyak warga desa itu yang pindah agama. “Sudah ada sekitar 25 orang,” ujar Otong.

Waktu itu Pangandaran belum menjadi kabupaten. Masih kecamatan. Masih jadi bagian dari Kabupaten Ciamis. Baru tahun 2012, daerah di pantai Selatan Jawa Barat itu menjadi kabupaten. Menteri Perikanan dan Kelautan Susi Pudjiastuti berasal dari sini. Markas besar Susi Air di sini. Di sebuah landasan pinggir laut yang wujudnya hamparan rumput yang bisa didarati pesawat.

Kalau Kabupaten ini maju, kelak, pantainya ibarat Ipanema dan Copacabana di Rio de Janeiro, Brasil. Di lengkung timurnya bisa melihat matahari terbit. Di lengkung baratnya bisa melihat matahari tenggelam.

Sekarang pantai itu masih kumuh –untuk ukuran daerah wisata modern. Rumah-rumah dan pedagang kaki lima masih terlalu dekat ke pantai. Pangandaran juga masih jauh dari mana pun. Kelak, kalau sudah ada jalan tol jalur selatan, Pangandaran akan lebih menarik. Tapi ketika saat itu nanti tiba, mungkin, Pangandaran sudah kian sulit dibenahi.

Kini ada tiga gereja di seluruh Kabupaten Pangandaran. Satu gereja Katolik, dua gereja Kristen. Yakni Gereja Maranatha (Kerasulan Baru) dan gereja GPdI Parapat. Ke gereja yang dekat perbatasan Cilacap inilah warga desa yang dikristenkan Kace itu melakukan kebaktian di hari Minggu.

Nama desa kelahiran Kace itu adalah Limusgede. Masuk Kecamatan Cimerak. Tidak sulit Deni menemukan desa itu. Deni orang Pangandaran. Istrinya juga asli sana.

Dari Pangandaran, Deni naik motor ke arah barat. Sekitar 10 km. Lalu belok ke utara, menyusuri jalan desa, juga sekitar 10 km.

Deni saya minta balik lagi ke desa itu, kemarin. Alumnus informatika Universitas Siliwangi Tasikmalaya itu harus bertemu adik Kace yang masih tinggal di situ.

Universitas Siliwangi itulah yang sering dipelesetkan sebagai UGM –Universitas Gambar Macan, karena logonya yang berupa kepala harimau.

Deni juga harus bertemu teman sekolah Kace.

“Saya teman sekolah Kosman,” ujar Asep Saipudin kepada Deni. Kosman adalah nama asli Kace di desa itu. “Sampai SMP saya masih bersamanya,” ujarnya.

Ayah Kosman adalah kepala dusun di situ. Juga punya kebun kopi. Kosman sudah dibelikan sepeda motor ketika SMP. Ia satu-satunya murid SMP itu yang punya motor.

“Kelas 2 SMP Kosman berhenti sekolah. Saya tidak tahu penyebabnya,” ujar Asep. Sejak itu Kosman pindah ke Pondok Pesantren Nurul Huda. Yang letaknya sekitar 10 Km dari desa itu.

Deni juga mendatangi Nurul Huda. Benar. Kosman pernah mondok di situ. Belajar agama. Juga belajar membaca kitab kuning, seperti kitab Jurumiyah.

Kosman hanya setahun di Nurul Huda. Kebiasaan yang ia suka di pesantren itu adalah salawatan –pujian kepada nabi yang dilagukan.

Tidak lama setelah keluar dari Nurul Huda, Kace kawin dengan gadis yang juga mantan santriwati Nurul Huda. Perkawinan itu terjadi sekitar 1986.

Belum jelas apa pekerjaan Kace setelah kawin itu. Yang jelas ia segera punya dua anak. Setelah itu sang istri menjadi TKW ke Arab Saudi. Berarti masa-masa ditinggal istri inilah Kace menjadi misionaris. Yang lantas jadi sorotan pemuka agama Islam di sana. Lalu Kosman diminta meninggalkan desa itu.

Kosman pindah ke kota Banjar, yang dulu juga masuk Kabupaten Ciamis, kini jadi kota sendiri.

Dari Banjar ia pindah ke Bekasi. Lalu ke Jakarta.

Dalam sebuah publikasi online KRISTIANI.NEWS disebutkan, Kosman menjadi Kristen karena ayahnya disembuhkan oleh doa seorang pendeta. Tapi tidak disebutkan itu terjadi kapan.

Yang jelas penasaran saya kini sudah terjawab oleh liputan Deni Mithun, wartawan Radar Pangandaran itu.

“Nama saya Deni Nurdiansah. Bukan Deni Mithun. Mithun itu nama pemberian teman-teman,” ujar Deni.

Kata mereka, Deni itu mirip bintang film Bollywood Mithun Chakraborty. (Dahlan Iskan)

 

Tanggapan Dahlan Iskan terkait komentar di artikel Miris Ngeri

Tidak pernah saya menemukan komentar yang begitu bermutu –ada juga yang begitu lucu-lucu, terutama soal 10 cm yang mestinya 10 mm– sebanyak di edisi kemarin. Dalam lima menit saya sudah menemukan 10 komentar yang sangat baik. Kian ke bawah kian banyak lagi. Akhirnya saya putuskan: semua komentar kemarin bermutu semua! Lebih 10 komentar yang sudah telanjur saya pilih saya hapus lagi. Kalau saya paksakan berarti sama dengan menampilkan kembali 80 persen komentar yang ada.

(Visited 35 times, 1 visits today)

Komentar