Monday, 27 September 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Palu Wahyu

Oleh Admin Hargo , dalam DI'SWAY , pada Friday, 27 August 2021 | 10:05 AM Tags: , , ,
  Palu Wahyu - DI'SWay

Oleh : Dahlan Iskan

REKAMAN podcast di Karni Ilyas Club baru saja selesai. Kemarin sore. Untuk tayang nanti malam. Saya memang lagi di Jakarta. Pagi-pagi saya ke klinik Hayandra-nya Si Cantik Rambut Keriting Karina. Untuk urusan pribadi: mungkinkah D-Dimer saya yang masih tinggi itu diatasi dengan PRP.

Baca tulisan-tulisan sebelumnya tentang Karina dan PRP-nya di sini

Setelah dua bulan tidak periksa D-Dimer saya penasaran: naik atau turun. Dokter saya –yang di Surabaya maupun yang di Singapura– memang menyarankan agar saya tidak usah ke lab lagi. Biar saja D-Dimer saya tinggi. Jangan dirisaukan. Toh tidak ada keluhan. Mungkin D-Dimer saya memang harus tinggi. Itu akibat pembuluh darah aorta saya dipasangi ring. Banyak sekali. Sampai 760 buah –sepanjang 50 cm.

Tapi penasaran saya tidak bisa reda. Dua bulan lalu, D-Dimer saya 1.720. Tinggi sekali. Harusnya hanya boleh paling tinggi 500. Di pemeriksaan minggu lalu ternyata lebih tinggi lagi, 2.000.

Saya coba saja PRP. Tidak berhasil juga tidak apa-apa. Yang penting suntikan PRP dari darah saya sendiri itu aman.

Dari klinik Karina saya makan siang dengan Menko Luhut Binsar Pandjaitan. Di kantornya. Ada ikan fillet goreng tepung rica, ada sambal goreng tempe, ada sop, dan mie goreng. Prasmanan. Empat orang staf ahli menko ada di meja makan besar itu. Di situ ada juga buah kiwi dan durian.

Pak Menko menutup makannya dengan durian kupas yang disajikan di atas piring. Saya juga.

Dari Kemenko, saya ke Karni Ilyas Club di Hotel JS Luwansa, Kuningan. Sudah lama Karni minta bisa podcast dengan saya. Ia orang yang saya hormati. Terutama dalam hal memegang prinsip-prinsip jurnalisme independen. Saya pernah menulis khusus tentang beliau (Baca juga Disway: Karni Ilyas).

Selesai rekaman itu saya lega: anak saya gabung di Luwansa. Bersama beberapa temannya yang belum saya kenal. Berarti saya bisa nunut pulang ke SCBD dengan mobilnya.

“Kenalkan, ini teman saya yang masih muda tapi sudah sukses. Namanya Wahyu,” ujar Azrul Ananda, anak saya itu.

Wahyu jauh lebih muda dari anak saya. Umurnya baru 32 tahun. Tapi penampilannya langsung menarik perhatian saya. Terutama jam tangan yang ia pakai itu: RM. Tipe-nya yang RM 35-01 RAFAEL NADAL.

Itu bukan jam tangan sembarangan. Andaikata pun Anda punya banyak uang belum tentu bisa membelinya. Tidak ada lagi toko yang menjual. Pun di Singapura. Jam tangan itu dibuat terbatas di Swiss sana. Konon hanya 100 buah.

Maka kian tahun harganya naik terus. “Waktu saya beli masih Rp 3 miliar. Sekarang sudah ada yang menawar Rp 6 miliar,” katanya.

Nama lengkap Wahyu sangat panjang: Dinar Wahyu Saptian Dyfrig. Tinggal di Pondok Indah Jakarta.

Saya amati di mana letak mahalnya jam tangan itu: saya tidak mengerti. Saya memang tidak punya jam tangan. Pernah punya. Dulu. Lama sekali. Beberapa kali. Tapi selalu pindah tangan.

Lalu saya lihat jaket yang dikenakan Wahyu: Rp 50 jutaan. Merek LV. Saya lirik sepatunya. Sesapuan. Juga LV. Entah berapa harganya.

Saya tidak perlu menebak kaus hitamnya itu. Ada tulisan LV besar di kaus itu.

Hanya tas kecilnya yang bukan LV: Dior. Demikian juga kacamatanya: Dior.

Terjadilah perundingan kecil di lobi Luwansa itu: biar Wahyu saja yang mengantar saya pulang ke SCBD. Anak saya akan langsung ke Surabaya naik mobil.

Saya pun menuju mobil Wahyu: Mercy terbaru dua pintu. Ia juga punya Ferrari di rumahnya.

Di mobil itu saya ngobrol cepat: siapa dia, apa latar belakangnya, jenis apa bisnisnya. Kurang dari 15 menit mobil sudah akan tiba di rumah saya. Hanya yang penting-penting saja yang harus saya tanyakan.

Sejak kelas 5 SD Wahyu sudah mulai jualan: kartu telepon. Yang dimasuk-masukkan ke dalam album itu.

Waktu SMP ia jualan MP3. Yang dilapisi karya lukisnya. Laris. Wahyu pandai menggambar.

Di SMAN 21 Surabaya, Wahyu bergabung dengan grup band. ”Ngamen” dari kafe ke lobi hotel. Ia jadi vokalis. Lagu apa saja. Yang masuk top 40.

Dari situ Wahyu punya banyak kenalan. Ia pun bisnis EO. Termasuk menyewakan sound system yang ia sewa dari orang lain. Berkembang. Ia mulai punya tabungan Rp 40 juta.

Wahyu pun berani ambil proyek EO yang lebih besar: rugi Rp 200 juta. “Tabungan habis, masih pula punya utang,” katanya.

Setamat SMA, Wahyu kuliah di ITS Surabaya. Di jurusan desain interior. Bakat menggambarnya ia pupuk di bangku kuliah. Sambil terus menekuni EO dan tarik suara. Dan melunasi utang.

“Saya bangkrut lagi. Habis. Saya sampai hanya jadi karyawan di perusahaan kontraktor,” katanya. “Saya tertipu lagi,” tambahnya.

Tapi Wahyu masih punya kekayaan jaringan. Itulah yang membuat Wahyu bangkit. Ia bergabung dengan beberapa anak muda: membangun perusahaan digital development. Ia menjadi leader di situ.

Wahyu juga membangun rumah tangga: mengawini gadis Malang lulusan SMK jurusan boga. Ketika anak kedua lahir Wahyu merasa menemukan titik balik dalam hidupnya: software yang ia bangun mendapat pasar di luar negeri. Software analisis keuangan otomatis.

“Pesanan pertama dari Prancis,” katanya.

Sejak itu pesanan terus berdatangan. Dalam dua tahun terakhir Wahyu kebanjiran order.

“Berapa banyak order dari luar negeri selama dua tahun terakhir? Mencapai 50?” tanya saya.

“Lebih. 100 lebih,” jawabnya.

Wahyu tidak hanya menerima dolar. “Sering juga kami dibayar dengan bitcoin,” katanya. “Kami bisa dapat banyak untung dari bitcoin,” tambahnya.

Kini perusahaan digital development-nya sudah memiliki tim sebanyak 50 orang. Besar sekali untuk ukuran anak-anak muda.

Wahyu pun mulai ekspansi. Ia baru saja membeli 60 persen saham perusahaan MLM Pansaka. Yang memperdagangkan 9 produk minuman kesehatan. Misalnya Gluberry yang mengandung kolagen. Dan teh hijau Jtea.

Wahyu berencana akan menggenjot perusahaan MLM Pansaka itu menjadi besar.

Saya pun minta nomor HP-nya. Saya akan menghubungi Wahyu dua tahun lagi. Saya ingin tahu seberapa hebat anak muda ini dua tahun lagi.

Begitu banyak orang sulit di masa pandemi. Wahyu ternyata menemukan palunya sendiri.(Dahlan Iskan) 

Komentar terbaik pilihan Dahlan Iskan di artikel Wanita Niqab

Pryadi Satriana
Hijab. Niqab. Burqa. Semuanya ttg cara berpakaian. Bukan ttg keimanan. Ntar dulu. Gak usah sewot dulu. Saya akan pakai pendekatan sejarah. Spy tdk terjadi debat kusir. Krn saya bukan kusir. Cara berpakaian ‘tertutup’ spt niqab dan burqa SUDAH dipraktikkan sejak laaaaamaaaaa sekali, sejak belum ada kitab2 samawi, sejak blm ada Taurat. Sejarah menunjukkan, praktek ini SUDAH ada di Padan-Aram, Mesopotamia (yg skrg meliputi sebagian Suriah, hampir seluruh Irak, dan Turki tenggara. Prof. Dr. Nazaruddin Umar, Imam Besar Masjid Istiqlal, pernah menulis hal serupa, di Ulumul Quran. Aman. Menulis di jurnal, yg pembacanya punya latar belakang yg memadai, ttg Islam. Berbeda dg Nong Darol Mahmada. Artikelnya “Jilbab, Kewajiban atau Bukan?” Muncul di Kompas, 25/11/2002. Heboh. Liberal. Ngawur. Apalagi ketika wawancaranya dg DW ttg Jilbab beredar luas. Dihujat dimana-mana. Padahal Nong hidup di lingkungan pesantren. Ayahnya pengasuh pesantren, namun beliau mengirim Nong utk nyantri ke ajengan KH. Ilyas Ruhiyat di Pesantren Cipasung, 6 th. Trus kulian di UIN Ciputat, Jurusan Tafsir Hadis. Skripsinya pun ttg Jilbab. Nong punya kapasitas bicara ttg Jilbab, sdh diuji secara ilmiah. Ia banyak baca. Tapi ia dihujat sana-sini. Yg menghujat melupakan ini: Iqra’ (“Bacalah”).

 

fx.indrawan
Saya jadi teringat seorang Ibu dari Afghanistan dengan 3 anak perempuan yang semuanya cantik. Mereka pelarian, dibantu keponakan saya tinggal sementara di rumah adik saya semua beragama Katolik. Pada waktu saya mengadakan ibadat Misa memperingati 40 hari Ibu saya ( bulan Oktober tahun 2015) mereka semua ikut ke rumah saya. Mereka sungguh sangat terkesan waktu hadir, tentunya mereka tidak mengikuti ibadat tersebut mereka ngobrol bersama saudara saya yang Muslim juga banyak yang hadir. Mereka tinggal di rumah adik saya sampai +/- 3 bulan. Sekarang mereka di tampung sementara di BSD menunggu Negara yang mau menerima.

(Visited 37 times, 1 visits today)

Komentar