Sabtu, 5 Desember 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Pandemi, Depresi, Dan “Panggilan Bumi”

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Kamis, 17 September 2020 | 21:35 WITA Tag: , ,
  PANDEMI, DEPRESI, DAN “PANGGILAN BUMI” - Taufiq Pasiak


Judul Buku        :  OTAK DAN KOTA

Penulis               :  Taufiq Pasiak

Penerbit             :  AVI BOOK, Agustus 2020

Tebal                   :  422 halaman

Buku yang baik, kata Socrates, adalah buku yang menjawab seluruh pertanyaan di dalam benak kita. Dan tentu saja hari ini, pikiran kita terjejali bergulung-gulung kecemasan!

Rasa takut, ngeri, cemas, marah, merasa serba tidak pasti, meletup-letup di dalam batok tempurung memori kita. Senarai pertanyaan-pertanyaan belahiran: kapan pandemi ini usai? Amankah lingkungan pergaulan kita? Mampukah pemerintah memberi solusi? Berapa lama lagi daya tahan ekonomi berlangsung?

Seolah pertanyaan tanpa ujung. Dengan opsi jawaban yang celaka. Lantaran tak ada informasi, bukti, atau keterangan yang sahih nan meyakinkan. Kalaupun ada: digoreng oleh berbagai kepentingan politik. Semacam ulasan serta rekomendasi para pakar kesehatan yang terabaikan.

Mengutip istilah para ahli komunikasi massa, memori publik terkurung oleh The Mean World Syndrome (gejala merasa bahwa dunia ini kejam, jahat, dan berbahaya).

Nah, di tengah perangkap kecamasan ini, ada narasi intelektual yang menawarkan gagasan basah, meresap. Teramat patut menjadi acuan kita. Memberi jawaban nyaris tanpa batas atas interogasi otak kita yang sedang rusuh.

Sebuah buku, ditulis Dokter Taufiq Pasiak, seoran Ilmuan Otak dan Perilaku, berjudul Otak dan Kota, adalah “primbon” intelektual bagi kita. Seperti petutur Socrates di atas, buku ini adalah buku terbaik, karena sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan di dalam otak kita.

Mari bedah…

Sebanyak 423 halaman buku ini mengulas perkara-perkara ringan dan sepele, tetapi ditunjang oleh nalar argumentatif (seraya contoh kasus), yang mendorong kita untuk menjadi sehat lahir batin. Menyegarkan kesadaran kita, membuka ruang perspektif, dan menggedor kebekuan, atas aneka problema hidup saat ini. Dengan berbasis pada paradigm biofilia. Yakni kecerdasan manusia untuk menghargai kehidupan, alam, semua mahluk, dan bahkan organ-organ di dalam tubuh kita.

Kecerdasan Biofilia

Tak perlu mengernyitkan dahi, biofilia dalam aksi nyata adalah segala tindak tanduk dan perilaku kita yang berbasis pada karakter empatik, dermawan, pro sosial, dan menghormati semesta. Tersenyum sabar terhadap kasir yang lelet karena tumpukan belanjaan yang harus dihitung, adalah sejenis biofilia. Mengucapkan kata-kata yang segar didengar juga tergolong biofilia. Menahan diri (pra komitmen) untuk tidak boros dan menghambur-hamburkan air di rumah, juga adalah biofilia. Ini fakta-fakta sederhana.

BACA  Buku Adalah Subversif ?

Selanjutnya, secara konsepsional, watak biofilia sebenarnya melekat dalam seluruh jiwa raga manusia. Laku murah hati, penolong, welas asih, merawat alam, menurut buku ini, telah ada sepanjang sejarah manusia (lihat halaman: 14). Terangkum dalam istilah compassionate (welas asih).

Kebaikan-kebaikan kecil yang tampak sepela, tetapi ikhlas, beramal, meningkatkan perasaan positif (bahagia) bagi Anda dan orang lain. Juga meningkatkan kekerabatan, mempromosikan rasa nyaman bersama, dan memperkokoh kelompok (halaman 15). Uraian ini sepadan dengan nasihat suci Bunda Maria, “Jika kita belum mampu melakukan tindakan besar, maka lakukanlah pekerjaan kecil yang bermanfaat, dan dilakukan sepenuh cinta”.

Uniknya, di buku ini, urusan harian itu dibingkai dengan kerangka teoritis dan analisis ilmiah yang padat referensi. Dengan pendekatan multi disiplin ilmu. Resensi ini akan terlampau panjang bila mengulas itu semua. Yang jelas, kecerdasan biofilia, selain ada dalam diri kita, juga berjalin berkelindan dengan segala hal di sekeliling, dengan rumah, tanaman, pepohonan, dan bahkan bangunan. Pun dengan makanan, isi perut, serta usus. Ini mengagetkan, karena jarang kita membaca informasi yang membuka rahasia keterkaitan antara makanan, memasak, isi perut, dapur, rumah, dan pengaruhnya terhadap otak!

Komitmen Pro Sosial

Jika kecerdasan biofilia ada di bab pertama, maka kecerdasan sosial dibahas di bab kedua. Kecerdasan pro sosial tak lain menyangkut penemuan jawaban atas segala aktivitas kebaikan kita yang bermanfaat bagi orang lain, mahluk hidup dan lingkungan. Kita pasti bertanya, untuk apa itu semua? Apakah dengan menjadi dermawan, penolong, dan murah hati akan membuat kita bahagia? Terkenal, populer, serta dicintai banyak orang. Pikiran awam akan menjawab semua pertanyaan itu pendek saja: belum tentu! Toh sering kali kita mengalami disakiti oleh orang-orang yang kita bantu.

BACA  Buku Adalah Subversif ?

Buku ini akan melipatgandakan komitmen pro sosial kita. Dengan argumentasi teoritis, pengungkapan fakta, kutipan riset, dan contoh-contoh kasus yang menarik. Termasuk dari penulisnya sendiri.

Saat saya mengunjungi rumah Dokter Taufiq beberapa hari lalu, naluri saya langsung melihat bahwa si penulis tak cuma berteori, melainkan membuktikan! Di rumahnya yang asri dan luas, posisi dapur justru ada di bagian depan, bersisian dengan ruang tamu. Menurut Dokter Taufiq, ini adalah komitmen pembuktian, bahwa dapur di ruang tamu adalah prioritas, karena beliau ingin melayani tamu sebaik-baiknya.

Per teori, laku lampah melayani (altruis), dermawan, menghasilkan respon positif kepada otak, lalu Anda akan merasakan sensasi bahagia yang kuat, atau di buku ini disebut kebahagiaan yang substansial (eudaimonik), lihat halaman 41.

Vitamin Alam

Hidup yang akrab dengan alam, selain membuat daya tahan tubuh lebih imun dari segala jenis penyakit fisik dan jiwa, juga menghasilkan sifat kooperatif, interaksi hangat, berkelanjutan, serta meningkatkan kadar bahagiaan. Buku ini menyebutnya dengan Vitamin Alam, atau Vitamin N (Nurtured by Nature, halaman 122). Kontak dengan alam bersifat terapeutik (menyembuhkan), restoratif (memulihkan, menyegarkan), rileks, dan bermanfaat untuk jiwa.

Masalahnya: bagaimana kita yang hidup di kota, sesak, dan jauh dari rerimbunan pohon atau gemericik air sunga yang bening?

Dosis interaksi dengan alam, atau Green Experience (bergaul dengan alam), senyatanya bisa diatur. Pun dari balik jendela rumah kita. Merawat bunga, menyiram tanaman dalam pot, jalan santai ke ruang terbuka, bersepeda, dan sesekali mendengar kicau burung langsung, adalah hal-hal yang bisa kita lakukan.

Menurut buku ini, durasi (berapa lama), frekuensi (seberapa sering), dan intensitas bergaul dengan alam, menjadi factor penentu. Jadi, sejauh kita mengalami kontak yang kuat dengan alam terbuka, meski jarang, akan berpengaruh terhadap rasa damai dan lepas. Disebut dengan nature in self (keterkaitan dengan alam, halaman 146).

BACA  Buku Adalah Subversif ?

Keajaiban Makanan

Tak asing benar, sepanjang sejarah manusia, para Nabi, Filsuf, dan nasehat bijak bestari, mengingatkan kita untuk berhati-hati dengan makanan (atau pola makan, seperti konsep halal haram dalam Islam, atau Kosher dalam tradisi Yahudi). Namun soal makanan berkait langsung dengan otak, kecerdasan, dan kebahagiaan, rasanya baru ada di buku ini. Atau pernahkah Anda sebelumnya mendengar bahwa semua penyakit mental bersumber dari perut?

Penulis buku ini mengungkap detil-detil urusan usus, metabolisme dalam perut, serta efek langsung terhadap psikis dan fisik. Bukankah saat stres, tertekan, dan grogi, perut seperti mual, lambung nyeri, dan berbagai gejala lain kita rasakan? Istilahnya adalah Gut Feeling, seperti yang kita rasakan ketika harus berpidato di hadapan khalayak banyak.

Di buku ini, urusan makanan, pola makan, dan perut, adalah otak kedua. Gangguan kejiwaan bersumber dari masalah usus; stres mempengaruhi pola makan, perubahan perilaku juga berdampak pada obesitas (kegemukan, karena sering ngemil saat bosan dan cemas). Secara ringkas, gangguan kejiwaan dan perilaku, menggiring pada gejala Compulsive Eating (makan berlebihan), lihat halaman 224.

Buku ini menyodorkan resep: optimalisasi mengatur makanan, pola makan, dan berhati-hati dengan urusan perut, disebut Optimalisasi 3 M (microbiota yang ada dalam bahan makanan, memasak, dan mengendalikan diri untuk tidak makan berlebihan.

Tentang Pra Komitmen

Ketidakpastian, perubahan mengkhawatirkan, dan ketakutan akan hari esok, menjadi sumber penyakit. Musababnya, manusia memang butuh kepastian, atau jawaban konkret di depan mata. Padahal, dalam banyak kasus, naluri mengambil atau memperoleh sesegera mungkin, justru bentuk ketidaksabaran kita. Menjadi terburu-buru nafsu.

Kita lemah dalam meramu pra komitmen (menahan diri, memilih menunda, dan memperhitungkan dampak di belakang hari).  Kemampuan bersabar, mengendalikan diri, dan merencanakan dengan matang, mestinya menjadi kuat dalam diri. Seperti menabung, menghemat, dan tidak boros. Justru itu adalah solusi atas ketidakpastian hari ini. Serta yang paling penting, adalah persepsi atas kekuatan pertolongan Tuhan.

Inilah beberapa isu mendasar dari buku ini. Semoga bermanfaat….


Komentar