Rabu, 21 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Para Koruptor dengan Mudah Dapat Hukuman Ringan Sejak Hakim ini Tak Lagi di Mahkamah Agung

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Kabar Nusantara , pada Selasa, 22 September 2020 | 17:05 WITA Tag: , ,
  Mahkamah Agung. Foto: dokumen JPNN.Com


Hargo.co.id, JAKARTA – Indonesia Corruption Watch (ICW) memandang koruptor makin merajalela saat sosok seperti Hakim Agung Artidjo Alkostar sudah tidak aktif di Mahkamah Agung (MA).

seperti yang dilansir JPNN.com, Hal ini disampaikan ICW berdasarkan banyaknya hukuman koruptor yang disunat MA.

“Saat ini, tak dapat dipungkiri bahwa sosok seperti Artidjo Alkostar tidak lagi tampak di Mahkamah Agung. Maka dari itu para koruptor memanfaatkan ketiadaan Artidjo itu sebagai salah satu peluang besar untuk dapat menerima berbagai pengurangan hukuman di MA,” kata Peneliti ICW Kurnia Ramadhan dalam keterangan yang diterima, Senin (21/9).

BACA  Gerbang Kapitalisme Agraria Dinilai Terbuka Melalui UU Cipta Kerja

Kurnia menilai seharusnya Ketua Mahkamah Agung menaruh perhatian lebih terhadap perkara-perkara yang diputus lebih ringan pada tingkat peninjauan kembali.

Sebab, ICW menilai kondisi ini semakin memperparah iklim pemberantasan korupsi di Indonesia.

BACA  MA Diskon 22 Koruptor Lewat PK, Begini Respons KPK

“Pemberian efek jera sudah dapat dipastikan tidak akan pernah terealisasi jika vonis pengadilan selalu rendah kepada para koruptor. Catatan ICW, sepanjang 2019 rata-rata vonis untuk terdakwa kasus korupsi hanya 2 tahun 7 bulan,” kata dia.

Untuk diketahui, KPK mencatat ada 20 terpidana korupsi yang disunat hukumannya di Mahkamah Agung. Terbaru ialah atas pengurangan hukuman politikus PKB Musa Zainuddin dari 9 tahun menjadi 6 tahun penjara. (tan/jpnn/hg)

BACA  Dokter Reisa Beberkan Strategi 3T dan 3M Satgas yang Berhasil Tekan Pertumbuhan Covid-19

 

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JPNN.com, dengan judul: “Para Koruptor dengan Mudah Dapat Hukuman Ringan Sejak Hakim ini Tak Lagi di Mahkamah Agung“. Pada edisi Senin, 21 September 2020.

Komentar