Kamis, 25 Februari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Pasca Rumah Tertimpah Batu, Duka Suri Hamzah Berlanjut 

Oleh Fajriansyach , dalam Features , pada Selasa, 12 Juni 2018 | 13:00 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id – Masih ingat kejadian longsor batu yang memakan korban di Kota Gorontalo pada Maret silam? Rumah Suri Hamzah (53) adalah salah satunya. Batu besar yang menggelinding nyaris membuat rumahnya roboh. Meski diliputi bahagia dan berbalut kesedihan, janda tua ini akan tetap menyambut Idul Fitri tahun ini penuh suka cita.

Rinto Nupuri – Kota Barat

Aktivitas sebuah areal kaki bukit di Kelurahan Dembe, Kecamatan Kota Barat, Kota Gorontalo tampak seperti biasa. Tidak ada gundah, cemas atau rasa khawatir jika ada batu besar susulan yang siap menggilas rumah warga, bahkan mengancam jiwa mereka.

Hal itu juga dirasakan oleh Suri Hamzah. Rumahnya yang sempat digilas batu besar pada Maret 2018 silam. Tampak sebuah lubang menganga tepat di kamar di rumah kecil yang menghadap bukit milik perempuan yang kesehariannya berprofesi sebagai pemulung ini.

BACA  Warga Eropa Mulai Gerah dengan TikTok

Kini, bekas hantaman batu besar itu hanya ditutup dengan tripleks seadanya. Sejatinya, ada keinginan Suri untuk memperbaiki rumahnya yang bocor. Apalagi jikalau ada batu susulan. Pasca Belum hilang dari ingatan kita, peristiwa longsor batu yang terjadi dua bulan lalu milik dari Suri Hamzah, yang tinggal di Kelurahan Dembe Kecamatan Kota Barat Kota Gorontalo.

Rumah milik seorang janda ini, yang sehari-harinya bekerja sebagai pemulung sedang meratapi rumah nya yang di janjikan akan mendapatkan bantuan dari Pemerintah, namun belum juga terealisasi.

Ibu Suri yang mempunyai 3 orang anak mengaku, ia mengalami musibah itu pada bulan maret kemarin, saat itu tengah hujan dan ia bersama cucunya sedang asyik menonton tv, lalu tiba-tiba bongkahan batu yang besar menghantam rumah nya pada bagian kamar depan.

BACA  Fitur Baru Telegram, Pengguna Bisa Impor Riwayat Chat dari WhatsApp

Memang dari 3 anaknya 2 di antaranya sudah menikah dan sudah tidak tinggal bersama, namun cucunya masih tinggal bersama ibu suri dan Anaknya yang masih di duduk ndi bangku Sekolah Dasar

Kepada Gorontalo Post, Suri mengatakan jika ia merasa bahagia waktu itu banyak yang simpatik terhadap musibah yang di alaminya, namun ternyata rasa simpati tersebut tidak di barengi dengan bantuan materil untuk memperbaiki dinding rumah nya yang roboh akibat longsor batu.

Janda 55 tahun tersebut menerangkan, jika untuk mencukupi kebutuhan hidup nya dan 1 anaknya yang masih duduk di sekolah dasar tersebut masih kurang apalagi harus mengeluarkan biaya untuk memperbaiki dinding rumahnya yang telah ia tempati sejak tahun 2006 tersebut.

BACA  Warga Eropa Mulai Gerah dengan TikTok

Setiap hari Suri bekerja sebagai pemulung dengan pendapatan 50 ribu, dengan jumlah sampah plastik 20 kg sehari, namun jika kurang hasil dari memulung maka pendapatan pun berkurang, dan uang tersebut habis untuk membeli makan sehari-hari jadi untuk makan saja saya harus bersusah payah berusaha, apalagi harus mengumpulkan uang untuk bisa memperbaiki dinding tersebut, mungkin butuh waktu bertahun-tahun, jika saya masih kuat untuk bekerja dan mengumpulkan uang.

Kini Suri mengaku pasrah dengan kondisi rumahnya tersebut, apalagi menjelang hari raya Idul Fitri tahun ini, terakhir ia hanya bisa berdoa semoga ada pihak yang sudi membantu memperbaiki rumahnya ini, ungkap Suri dengan nada tersenyum yang seakan-akan menunjukkan jika ia masih tegar dengan kisah pilu yang di alaminya.(Hg)


Komentar