Rabu, 14 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Pedagang dan Pengunjung Butuh Fasilitas Tambahan di Kawasan Matobonebol

Oleh Berita Hargo , dalam Headline Metropolis , pada Rabu, 7 April 2021 | 21:05 WITA Tag: ,
  Suasana malam di kawasan Matobonebol. (Foto: Istimewa/Rita Setiawati untuk Hargo)


Hargo.co.id, GORONTALO – Matobonebol merupakan sarana ruang publik yang dibangun oleh Pemkab Bone Bolango pada 2019. Letaknya berada persisi di perbatasan antara Kota Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango, tepatnya di Desa Toto Selatan.

Matobonebol sering disebut oleh masyarakat Gorontalo sebagai Malioboro KW. Karena, tempat ini menyediakan desain lampu dan bangku taman yang mirip seperti yang ada di Jl. Malioboro, Yogyakarta.

Selain menyediakan bangku sebagai tempat duduk pengunjung, terdapat pula para pedagang kaki lima yang menjajakan jualannya seperti pedagang siomay, tela-tela, bakso pangsit, bakso tusuk, bakso bakar, sate, aneka macam minuman dan masih banyak lagi. 

Walaupun sudah dibuat sejak 2019, nampaknya ada beberapa fasilitas yang dibutuhkan oleh pengunjung dan penjual belum juga diadakan oleh pemerintah setempat. 

Hal ini diungkapkan oleh salah satu pengunjung yang bernama Novi Wanda Astri (21 tahun), pelajar yang sering nongkrong di kawasan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa tempatnya sudah bagus, namun perlu ditambah beberapa fasilitas seperti toilet umum dan parkiran yang teratur.

“Alasannya, kalau saya hendak buang air kebingungan mencari toilet di sini dan terpaksa harus pulang. Selain itu, kami sebagai pengunjung butuh tempat parkir khusus agar kendaraan tidak sembarang parkir di pinggir jalan,” kata Novi Wanda Astri.

Suasana sore di kawasan Matobonebol tak kalah menarik jika fasilitas pendukung dapat dihadirkan. (Foto: Istimewa/Rita Setiawati untuk Hargo)
Suasana sore di kawasan Matobonebol tak kalah menarik jika fasilitas pendukung dapat dihadirkan. (Foto: Istimewa/Rita Setiawati untuk Hargo)

Hal senada diungkapkan Abdullah Hasan (50). Penjual tela-tela yang sudah setahun berjualan di tempat ini, juga mengeluhkan tak adanya toilet.  

“Di sini kan tidak ada WC umum, jadi kalau saya mau buang air harus pulang ke rumah saya yang ada di Wongkaditi, kemudian jualannya ini dijaga istri saya,” katanya.

Pedagang lainnya juga mengatakan, seharusnya ada tempat khusus untuk jualan, agar tempat ini bisa enak dipandang dan terkesan tertata rapi. 

“Meskipun nanti akan diminta pajak untuk berjualan kami siap untuk membayar,” ungkap Rahmatia Mohammad dan Suparman Ismail yang merupakan salah satu penjual minuman di lokasi tersebut. 

Baik pengunjung maupun pedagang mengaku sangat membutuhkan fasilitas yakni WC umum, tempat parkir, dan tempat khusus untuk berjualan. Hal ini dikarenakan hingga sampai saat ini, penjual masih menjajakan jualannya di pinggir jalan dan pengunjung juga masih parkir kendaraannya di pinggir jalan sehingga kerap menimbulkan kemacetan di kawasan ini. (rita/ung/hargo)

BACA  Nikmati Khasiat ‘Kelapa Muda Bakar’ di Kawasan Center Poit Bone Bolango

Komentar