Rabu, 16 Juni 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Pegawai Perempuan KPK Laporkan Dugaan Pelecehan Saat Mengikuti TWK

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Nusantara , pada Senin, 31 Mei 2021 | 17:05 WITA Tag: ,
  Ilustrasi logo KPK (Dok/JawaPos.com)


Hargo.co.id, JAKARTA – Sejumlah pegawai perempuan di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendatangi kantor Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Kedatangan mereka untuk melaporkan dugaan pelecehan saat mengikuti tes wawasan kebangsaan (TWK) sebagai syarat alih status pegawai KPK menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Hari ini juga saya mendampingi beberapa teman pegawai perempuan KPK untuk melapor kepada Komnas Perempuan terkait dengan adanya hal yang diduga sebagai pelecehan terhadap harkat dan martabat perempuan,” kata Ketua Wadah Pegawai KPK, Yudi Purnomo Harahap di kantor Komnas HAM, Jakarta, Senin (31/5). “Kami harap nanti Komnas Perempuan akan menerima laporan kami dan kemudian akan melakukan investigasi terhadap tes wawasan kebangsaan (TWK),” imbuhnya.

Salah seorang pegawai perempuan KPK, Tata Koiriyah menyatakan, pelaporan itu semata agar KPK bisa menindaklanjuti rekomendasi dari Komnas Perempuan terkait dugaan pelecehan saat mengikuti TWK. “Padahal dalam rilis dan rekomendasinya, Komnas Perempuan telah mengidentifikasi adanya indikasi pelanggaran hak kebebasan beragama/berkeyakinan, kebebasan berekpresi/berpendapat dan hak bebas dari perlakuan diskriminasi dan kekerasan berbasis gender, termasuk pelecehan seksual,” ucap Tata.

Tata menuturkan, sejumlah rekomendasi justru tidak dijalankan oleh KPK. Sepeti tidak adanya posko pengaduan terkait pegawai KPK yang diduga mengalami pelecehan saat mengikuti TWK. “Sehingga pegawai yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan itu tahu ke mana dia bisa melaporkan, ke mana dia bisa memperjuangkan hal-hal yang tidak sedemikian pantasnya, tapi sampai sekarang kan tidak ada,” cetus Tata.

BACA  Ketua KPK Firli Bahuri Pastikan Akan Terus Mengejar Azis Syamsuddin

Selain itu, sampai saat ini belum adanya keterbukaan informasi terkait hasil dari TWK. Rekomendasi selanjutnya, tidak ada upaya pemulihan traumatik bagi pegawai perempuan setelah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan saat mengikuti TWK.

“Sejauh ini belum ada yang diberikan informasi kecuali hanya informasi kemarin yang statement oleh pimpinan 51 dan 24, dan hanya SK 652. Kemudian rekomendasi yang ketiga itu adalah upaya pemulihan terhadap korban-korban yang kemarin mendapatkan perlakuan yang tidak pantas adanya traumatik itu belum ditindaklanjuti satu pun, dari pihak KPK,” sesal Tata.

Padahal para pegawai KPK yang mendapat pelecehan saat mengikuti TWK, sambung Tata, mengharapkan lembaga antirasuah itu bisa menjadi pendamping terhadap para pegawaiya yang mendapat pelecehan. Tetapi justru seperti tidak terjadi apa-apa setelah proses TWK digelar. “Surat dari Komnas Perempuan yang mencoba menjalin komunikasi informal juga dengan pihak-pihak di KPK, termasuk Sekjen dan Pimpinan KPK tapi tidak mendapatkan respons,” pungkas Tata.

BACA  51 Pegawai KPK di Pecat, PKS: Nurani Publik Tersakiti!

Sebelumnya, pegawai KPK Tri Artining Putri mengungkapkan sejumlah kejanggalan dalam tes wawasan kebangsaan (TWK) alih status pegawai menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Perempuan yang akrab disapa Puput itu masuk dalam salah satu nama yang disebut-sebut ke dalam daftar 75 pegawai tidak memenuhi syarat tes wawasan kebangsaan (TWK).

Puput mengaku mendapat pertanyaan yang intoleran dan bahkan hingga melecehkan. Pertanyaan itu terkait apakah dirinya bersedia menerima donor darah dari agama lain, kemudian apakah mengucapkan Hari Raya Natal kepada umat Kristen.

“Saya bilang iya saya mau menerima donor darah dari agama lain, karena menurut saya agama saya juga nggak tahu pasti hukumnya apa, lalu yang kedua apakah saya mengucapkan hari raya Natal kepada umat Kristen dan Katolik. Kalau saya bilang saya mengucapkan, bukannya nggak boleh digituin, terus saya bilang siapa yang bilang nggak boleh. Saya mengucapkan, saya punya banyak kerabat Kristen dan Katolik dan saya mengucapkan hari raya Natal,” ungkap Puput, Minggu (30/5).

BACA  Kapolri dan Panglima TNI Minta Warga Tetap Disiplin Protokol Kesehatan

Puput menyebut, terdapat pelecehan dalam TWK tersebut. Dia menyebut ada rekannya yang sudah berumur 35 tahun tetapi belum menikah. Justru pegawai KPK tersebut dituding oleh pihak asesor sebagai LGBT. “Usianya sekitar 35 tahun belum menikah, lalu ditanya kenapa belum menikah umur segini, lalu ditanya jangan-jangan LGBT ya, masih punya hasrat atau tidak, bagaimana kalau nikah sama saya aja mau nggak. Jadi istri kedua. Dengan dengan entengnya itu bercandaan,” beber Puput.

Menurut Puput hal itu sama saja dengan pelecehan. Tetapi pihak asesor menyebut, pernyataan dalam forum resmi yang dinamakan TWK itu hanya candaan. “Wawancara formal tersebut mewakili lembaganya dan teman saya hadir sebagai pegawai KPK, apakah dalam forum resmi itu pantas untuk dijadikan bahan bercandaan,” cetus Puput. (jawapos/hargo)

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JawaPos.com, dengan judul: “Pegawai Perempuan KPK Laporkan Dugaan Pelecehan Saat Mengikuti TWK“. Pada edisi Senin, 31 Mei 2021.

Komentar