Kamis, 14 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Pelaksanaan Tumbilotohe ‘Lari’ dari Substansi Adat

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Kamis, 22 Juni 2017 | 12:44 WITA Tag: , , , ,
  


GORONTALO Hargo.co.id – Tradisi Tumbilotohe di penghujung ramadanmerupakan salah satu dari 185 warisan budaya yang masih ada di Gorontalo sampai saat ini. Hanya saja beberapa waktu belakangan tumbilotohe yang dilaksanakan oleh sebagian masyarakat tak lagi sejalan dengan subtansi adat.

Pergeseran pelaksanaan tumbilotohe bukan hanya pada aspek lampu yang digunakan, tetapi juga pada hakikat atau makna dari pelaksanaan tumbilotohe itu sendiri. Sebagaimana diketahui, lampu yang digunakan pada tumbilotohe terus mengalami perkembangan.

Awalnya lampu damar (tohetutu) kemudian berkembang menjadi padamala (lampu bahan bakar minyak kelapa), lampu botol (bahan bakar minyak tanah) dan kini menjadi lampu listrik. Bahkan beberapa waktu belakangan ditambah lagi dengan lampu kerlap-kerlip.

Budayawan Gorontalo Alim Niode menjelaskan, pada zamannya dulu, tumbilotohe merupakan sebuah bukti dari substansi slogan yang saat ini disematkan untuk daerah Gorontalo. Tradisi ini menjadi artikulasi dari “Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Alquran”.
“Tumbilotohe sendiri berangkat dari kebiasaan warga Gorontalo yang menggunakan lampu penerangan untuk menerangi jalan ke Masjid saat akhir-akhir bulan ramadan,” ujar Alim Niode.

BACA  Rp 249 Triliun Uang di Daerah Belum Dibelanjakan

Tradisi ini menurut Alim, terus dipertahankan hingga sekitar tahun 1970-an. Sayangnya memasuki era 1980-an hingga saat ini, tradisi tumbilotohe terus mengalami pergeseran. Hal itu bukan pada aspek lampu yang digunakan. Tetapi pada sisi sosialnya. “Untuk penggunaan lampu listrik tak terlalu menjadi masalah. Yang ironi adalah sisi sosial.

Tradisi tumbilotohe diharapkan bisa menjadi alat penerangan warga untuk beramai-ramai ke masjid, untuk bermusyawarah, beribadah, menyambut malam lailatul qadar berubah menjadi kegiatan hura-hura dan mengabaikan sisi keislamannya,” urai Alim prihatin. “Saat malam Tumbilotohe, kondisi masjid malah menjadi sunyi dan banyak yang tak lagi datang untuk beribadah dan lebih memilih untuk merayakan Tumbilotohe di jalan-jalan raya,” sambung pria yang menjabat Ombudsman RI Gorontalo itu.

BACA  Hingga 3 Januari 2021, Gorontalo Utara Tutup Seluruh Destinasi Wisata

Menurut Alim, fenomena yang ada itu menjadi sangat kontradiktif dengan hakikat dan substansi tradisi tumbilotohe itu sendiri. “Kedepan tradisi tumbilotohe kembali menjadi tradisi yang pada awalnya diharapkan menjadi salah satu tradisi untuk meningkatkan iman dan taqwa setiap umat islam di Gorontalo,” ungkap Alim.

Ditemui terpisah, Pakar Budaya Gorontalo Prof.Dr.Karmin Baruadi menjelaskan, pelaksanaan tumbilotohe sarat akan nilai-nilai religius. Khususnya berkaitan dengan kemuliaan lailatul qadar. “Sepuluh malam terakhir di bulan suci Ramadan, orang-orang ramai pergi ke masjid untuk beribadah. Tujuannya menggapai malam lailatul qadar.

BACA  Pemerintah Suplai Bantuan untuk Pekerja Pariwisata di Gorontalo

Maka berkenaan momentum tersebut, jalan menuju masjid maupun di masjid dipasang penerangan. Ada yang menggunakan obor, palamea, kelapa maupun lampu botol,” urai Karmin Baruadi.”Itulah salah satu makna dari tumbilotohe, akan menerangi jalan kita menuju masjid,” sambung Karmin menekankan.

Hanya saja Karmin mengaku prihatin degradasi pelaksanaan tumbilotohe. Seharusnya menurut Karmin, malam-malam terkahir Ramadan yang lebih banyak lampu di masjid, dan jalan menuju masjid. “Kita harus lebih kembali ke budaya yang telah kita jalankan sebelumnya, mari kita ramaikan masjid di malam-malam terkahir bulan suci Ramadhan,” ungkapnya.

Ia juga menambahkan, kalau suasana malam Tumbilotohe yang akan sangat terasa sekali itu di kampung-kampung yang masih sangat kekurangan listrik, mereka memanfaatkan Tumbilotohe untuk menerangi jalan. (tr-45/wan/san/hargo)


Komentar