Kamis, 22 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Peluang Besar Bisnis Hidroponik di Perkotaan

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Bisnis Ekonomi , pada Selasa, 6 Oktober 2020 | 00:05 WITA Tag:
  TUMBUH DI PIPA: Renni Susilawati di Kampung Hidroponik, kawasan Medayu, Surabaya, (1/10). Selada perlup rutin dicek kecocokan dan tingkat keasaman air agar tumbuh subur. (ROBERTUS RIZKY/JAWA POS)


Hargo.co.id, SURABAYA – Meningkatnya tren gaya hidup sehat membuka peluang usaha baru. Yakni, sayuran hidroponik. Khususnya di perkotaan. Sayangnya, membuat kebun tanaman hidroponik ternyata tak mudah. Salah perhitungan bisa gagal total. Mimpi untung, justru buntung yang didapat.

Dilansir dari JawaPo.com, Kebutuhan terhadap sayuran hidroponik terus meningkat. Terlebih pada masa pandemi sekarang. Target pasarnya jelas, yaitu warga perkotaan. Hanya, tak banyak produsen sayuran hidroponik yang tumbuh di kota. Sebagian besar di antara mereka adalah distributor. Sayuran diambil dari beberapa daerah.

Misalnya, di Surabaya, sayuran hidroponik diambil dari Lumajang, Malang, Jember, hingga Banyuwangi. Tentu diperlukan biaya operasional yang cukup besar. Berbeda halnya jika kebun hidroponik berada di wilayah perkotaan. ”Cuma ya begitu, risikonya cukup besar,” kata Ketua Perhimpunan Petani Hidroponik Indonesia (PPHI) Sunandar Triwibowo.

Ada beberapa tantangan jika membuka lahan hidroponik di perkotaan. Bukan hanya masalah lahan, tetapi juga suhu dan kelembapan. Cuaca yang panas berpengaruh pada kelembapan. Di samping itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) harus oke. Dibutuhkan ketelatenan dan pengalaman khusus.

BACA  Pandemi Covid-19 Bikin Permintaan akan Emas Naik Gila-gilaan

Menurut Sunandar, kebun hidroponik skala rumahan harus dibedakan dengan industri. Khusus di Surabaya, saat ini belum banyak hidroponik yang dikelola secara industri. Yang ada hanya di kampung-kampung dan biasanya karena hobi saja. Apalagi, saat pandemi sekarang, banyak orang yang mengalihkan aktivitas untuk berkebun.

Perawatan hidroponik memang susah-susah gampang. Kesalahan sedikit bisa fatal. Misalnya, kebutuhan air. Sayuran hidroponik tak bagus jika menggunakan air PDAM. Nah, itulah kendala di perkotaan. Kualitas air tanahnya juga kurang baik. Salah satu caranya, sumur harus digali lebih dalam.

Karena itu, modal yang dikeluarkan juga cukup besar. Sunandar menyebutkan, untuk skala industri kebun seluas 100 meter, biaya awalnya bisa mencapai Rp 80 juta. Bila ingin berbisnis, sekalian yang besar agar hasil yang diperoleh bisa maksimal.

Menurut dia, pasar sayuran hidroponik akan terus prospektif. Apalagi, banyak penduduk urban yang beralih ke gaya hidup sehat. Karena itu, banyak sekali resto, kafe, dan hotel yang memakai sayuran hidroponik. Belum lagi, banyak permintaan dari pasar modern. ”Memang sangat menjanjikan,” terangnya.

BACA  Materai Baru Rp 10.000 Sah Digunakan untuk Dokumen Elektronik

Sunandar mengungkapkan, ada beberapa hal yang membedakan kebun hidroponik skala industri dan rumahan. Selain ukuran kebunnya, penanganannya juga beda. Pada skala industri, hanya orang tertentu yang boleh masuk. Tujuannya, menghindari terpaparnya hama. Sebab, sayuran hidroponik mudah terserang penyakit.

Koordinator Kampung Hidroponik Surabaya Renni Susilawati menjelaskan, dirinya hanya menjalankan bisnis hidroponik skala rumahan. Meski begitu, hasil yang didapat cukup lumayan. Dari 12 media tanam hidroponik, setidaknya dia meraup Rp 3 juta–Rp 4 juta dalam sebulan. Biaya produksinya sekitar Rp 1,2 juta. Nah, sebagian hasilnya dibagi dengan petani dan dimasukkan ke kas RT/RW. Sebab, sebagian biayanya juga berasal dari kas RT/RW. ”Yang paling digemari ya sawi dan selada,” ungkapnya.

Menurut Renni, pihaknya masih kekurangan produksi untuk menyuplai konsumen. Sejauh ini pemasaran banyak dilakukan di lingkungan sekitar. Sisanya baru dijual. Selain peluang pasar yang masih besar, bisnis hidroponik tak perlu lama menunggu masa panen. Sebab, sekitar dua minggu hasilnya sudah bisa terlihat. Bahkan, jika sudah lama, panen dapat dilakukan per hari atau seminggu sekali. ”Yang penting adalah pengelolaannya,” tegasnya.(jawapos/hg)

BACA  Sah! Berikut Asumsi Dasar Ekonomi Makro 2021

MENGAPA PERLU BERTANAM HIDROPONIK?

  • Tingginya gaya hidup sehat.
  • Konsumsi makanan sehat meningkat.
  • Permintaan di pasar lebih tinggi daripada produksi.
  • Sayuran masih dipasok luar daerah.
  • Masa panen sayuran hidroponik lebih singkat.
  • Banyak konsumen di kota.
  • Pangsa pasar yang terus bertambah.

KENDALA YANG DIHADAPI

  • Lahan yang terbatas.
  • Suhu dan cuaca terik.
  • Terkendala SDM yang kurang telaten.
  • Kualitas air tanah kurang bagus.
  • Butuh perawatan ekstra.
  • Modal awal cukup besar.

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JawaPos.com, dengan judul: “Peluang Besar Bisnis Hidroponik di Perkotaan“. Pada edisi Ahad, 04 Oktober 2020.

Komentar