Senin, 25 Mei 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Pemain-Wasit Tertangkap Narkoba, PSSI Buka Pintu ke BNN

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Sepakbola , pada Selasa, 19 Mei 2020 Tag: , , ,
  PENGGEREBEKAN: Petugas BNNP Jatim menunjukkan barang bukti dan tersangka dalam kasus sabu-sabu di Surabaya kemarin (18/5). (DIMAS MAULANA/JAWA POS)


Hargo.co.id, SIDOARJO – PSSI mempersilakan jika BNN ingin memeriksa semua elemen persepakbolaan nasional. Itu menyusul penangkapan pemain dan wasit dalam kasus sabu-sabu (SS) di Sidoarjo, Jawa Timur, kemarin (18/5).

”Saya pribadi setuju. Pemain sepak bola kalau pakai narkoba bagaimana staminanya, ya? Pasti payah dan merugikan diri sendiri. Untuk kebaikan bersama, kami pasti membuka diri, segera saya laporkan ke ketua umum PSSI,” papar Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi, Sebagaimana dilansir Jawapos.com

Empat pengedar SS dibekuk petugas BNNP Jatim saat bertransaksi di salah satu hotel di Sedati, Sidoarjo. Keempat tersangka itu M. Choirun Nasirin, Eko Susan Indarto, Novin Ardian, dan Dedi A. Manik. Mereka ditangkap bersama barang bukti 5 kilogram SS.

Kepala BNNP Jatim Brigjen Pol Bambang Priyambadha menyatakan, pengungkapan peredaran narkoba itu bermula dari penggerebekan di Hotel S di Sedati pada Minggu (17/5). Petugas BNNP mendapat informasi bahwa Novin dan Manik berangkat dari Semarang menuju Surabaya dengan membawa 5 kilogram SS.

BACA  Polres Pohuwato Bekuk Tiga Orang Terduga Pelaku Penyalahguna Narkoba

Keduanya menginap di hotel tersebut. Selanjutnya, Nasirin dan Eko datang ke hotel untuk mengambil SS tersebut. ”Kemudian, dilakukan penangkapan oleh tim dari BNNP Jatim. Saat digeledah, ditemukan sabu-sabu seberat lima kilogram di dalam tas,” terang Bambang di kantor BNNP Jatim, Surabaya, kemarin.

Para tersangka berlatar belakang pemain dan wasit sepak bola nasional. Nasirin, misalnya, kini tercatat sebagai kiper klub Liga 2 PS Hizbul Wathan (PSHW).

Dia sebelumnya pernah membela Persela Lamongan, PSMS Medan, dan Persegres Gresik. Eko juga merupakan mantan pemain Persela Lamongan.

Manik adalah wasit Liga 2. Dia juga tercatat sebagai anggota Askot PSSI Jakarta Utara. ”Kalau Novin ini driver-nya Manik,” ujar Kasi Pemberantasan BNNP Jatim Kombespol Arief Darmawan sembari menunjukkan para tersangka.

Menurut dia, para tersangka bebas masuk ke Surabaya dengan status latar belakangnya sebagai pesepak bola. Mereka datang dari Semarang ke Surabaya dengan mengendarai mobil.

”Saat ditanya petugas apa itu isinya, mereka bilang peralatan olahraga,” katanya.

BACA  Polres Pohuwato Bekuk Tiga Orang Terduga Pelaku Penyalahguna Narkoba

Novin dan Manik memproduksi sendiri SS itu di kawasan Wijen, Semarang. Bahannya didapatkan dari Malaysia.

Petugas BNNP Jatim bersama BNNP Jateng bergerak menuju lokasi pembuatan SS. Di lokasi itu, petugas menemukan bahan SS setengah jadi yang dikemas dalam kaleng oli bekas.

”Sabu-sabu setengah jadi itu diselundupkan dari Malaysia dengan dimasukkan di tempat oli bekas,” katanya.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk memproduksi SS. Hanya dalam waktu tidak sampai sehari, sabu-sabu setengah jadi yang diimpor dari Malaysia itu sudah matang dan siap diedarkan.

”Diolah sama zat lain selama 15 menit. Setelah matang, didinginkan selama enam jam dan menjadi sabu-sabu yang cukup bagus seperti ini,” ujar Bambang sembari menunjukkan SS yang telah dikemas.

Novin mengaku belajar membuat sabu-sabu melalui YouTube. Dia mempelajari video yang dikirim bandarnya dari Malaysia tersebut. ”Dikasih link video sama orang yang di Malaysia. Ada tutorialnya,” ujarnya.

Sementara itu, PSHW langsung bergerak cepat begitu mendengar salah seorang pemainnya, Nasirin, ditangkap dalam kasus SS. Presiden PSHW Dhimam Abror menjelaskan, dirinya mengontak seluruh jajaran direksi PSHW. Kemudian melakukan rapat dengan cara online.

BACA  Polres Pohuwato Bekuk Tiga Orang Terduga Pelaku Penyalahguna Narkoba

”Dari hasil rapat tersebut, kami putuskan untuk memberhentikan Nasirin. Dia sudah bukan bagian dari PSHW,” terang Abror kepada Jawa Pos.

Abror menambahkan, sejatinya semua pemain PSHW sudah menjalani tes medis sebelum meneken kontrak. Tes itu dilakukan di Rumah Sakit Muhammadiyah Sidoarjo.

Dari tes tersebut, juga bisa dilihat pemain mengonsumsi narkoba atau tidak. ”Saat itu hasil tes semua pemain negatif, termasuk Nasirin,” terang Abror.

Anggota Exco PSSI Haruna Soemitro juga sependapat. Dia menegaskan, PSSI akan membuka pintu selebar-lebarnya bagi BNN ataupun kepolisian. Sebab, jika ada indikasi narkoba di tubuh PSSI, jelas hal tersebut sangat memalukan.(jawapos/hg)

 

 

 

 

*) Artikel ini telah diterbitkan oleh Jawapos.com dengan judul yang sama. Pada edisi Selasa, 19 Mei 2020.
Mantap
Suka
Senang
Kaget
Sedih
Marah

Komentar