Pemilik Pondok Pesantren di Gorontalo Diduga Cabuli 13 Santriwati

Kasat Reskrim Polres Boalemo, Iptu R. Lahmudin didampingi Kapolsek Tilamuta, Iptu Harry Bagi beserta anggota, memberikan keterangan pers kepada para jurnalis. (Foto Zulkifli Tampolo/Hargo.co.id)

Hargo.co.id, GORONTALO – Diduga cabuli 13 orang santriwati, salah seorang oknum pemilik pesantren yang ada di Desa Mustika, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, ditahan polisi. Tersangka berinisial T, alias Tam (52), merupakan warga Desa Toto Utara, Kecamatan Tilongkabila Kabupaten Bone Bolango, kini mendekam di sel tahanan Polres Boalemo.

Informasi yang dirangkum Hargo.co.id, kejadian itu terjadi pada 18 Agustus 2019 sekitar pukul 01.00 Wita. Saat itu, Tam yang merupakan pemilik pondok pesantren melihat beberapa santriwati ke luar dan lalu lalang di depan kamar. Tam yang belakangan diketahui merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) disalah satu instansi vertical di Gorontalo ini, kemudian memanggil para santriwati tersebut dan dikumpulkan di depan kamar nomor tiga.

Setelah itu, Tam kemudian memanggil satu persatu para santriwati ke arah dapur yang kondisinya sunyi. Di dapur tersebut, Tam menanyakan kepada para santriwati yang masih berusia sekitar 13 hingga 14 tahun tersebut soal pacaran. Sambil bertanya apakah para santri pernah dipegang-pegang oleh pacarnya?

Tam pun memperagakannya dengan menyentuh tubuh para santriwati, khususnya di wilayah-wilayah terlarang. Aktivitas tersebut dilakukan Tam terhadap belasan santriwati yang dikumpulkan pada malam itu.

Para santriwati itu pun awalnya takut untuk mengadukan kejadian tersebut. Namun, setelah beberapa santriwati berkumpul, mereka akhirnya mengadukan kejadian itu kepada orang tuanya dan tepat pada 22 Agustus 2019, lima orang tua santriwati mendatangi Polres Boalemo untuk melaporkan kasus dugaan pencabulan.

Penyidik Satuan Polres Boalemo pun menerima lima laporan tersebut dan langsung bergerak cepat untuk melakukan pemeriksaan.

Setelah secara maraton melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah korban dan saksi serta melakukan pemeriksaan dokter, pada 30 Agustus 2019 Tam dipanggil sebagai saksi dan setelah didengarkan keterangannya, pada 31 Agustus, Tam resmi ditahan oleh penyidik Satuan Reskrim Polres Boalemo atas dugaan tindak pidana perlindungan anak.

Kapolres Boalemo, AKBP Ade Permana,SIK,MH melalui Kasat Reskrim Iptu R. Lahmudin dalam jumpa pers yang dilaksanakan, Selasa (10/9) sekitar pukul 15.30 Wita menjelaskan, saat ini pihaknya hanya menerima laporan dari lima orang tua santriwati dan itu yang diproses saat ini. Untuk santriwati lainnya yang ingin melapor, maka akan diproses pula oleh penyidik.

“Jadi, tersangka pada saat melakukan interogasi kepada santriwatinya, disertai dengan dugaan pelecehan seksual yakni dengan cara meraba atau memegang tubuh para santriwati, khususnya bagian-bagian yang terlarang,” jelasnya.

Ditanyakan sejak kapan dan berapa banyak korban yang dilakukan hal serupa? Mantan penyidik Direktorat Kriminal Umum (Dit Krimmum) Polda Gorontalo ini mengaku, tersangka melakukannya hanya pada saat itu dan dari pengakuan tersangka, dirinya melakukannya kepada kurang lebih 13 orang santriwati.

“Atas perbuatan tersangka, dirinya dijerat dengan Pasal 82 ayat 2 Undang-Undang nomor 23 tentang Perlindungan Anak junto Pasal 64 KUHP, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun ditambah sepertiga penjara dan denda paling banyak Rp 300 juta. Kini tersangka telah ditahan untuk diproses lebih lanjut,” tegasnya.

Sementara itu, tersangka T alias Tam kepada penyidik mengakui bahwa dirinya memegang bagian tubuh yang terlarang atau vital dengan maksud untuk memperagakan.

“Saya menyesal atas perbuatan saya dan saya mohon maaf,” kata ayah tiga orang anak ini. (kif/hg)

-