Kamis, 8 Desember 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Penambang Bonbol Tantang Minum Sianida

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Senin, 9 Oktober 2017 | 14:35 Tag: , ,
  

Hargo.co.id Gorontalo – Salah seorang tokoh dan perwakilan penambang menantang pakar Toksikologi dan Farmakologi Laut dari Universitas Sam Ratulangi Manado, Prof DR Rizald Max Rompas, yang mengingatkan masyarakat Gorontalo akan bahaya logam berat merkuri dan sianida yang dihasilkan oleh aktivitas pertambangan liar di wilayah Bone Bolango (Bonbol). Menurutnya, sang pakar Unsrat itu terkesan hanya ingin menakut-nakuti.

“Kalau cuma bicara terus teori seperti itu malah kesannya menakuti para penambang. Akibatnya penambang berkurang. Kalau toh diwaspadai, datang ke kepenambang dan disosialisasikan. Bukan ditakuti, waspada-waspada terus,” ujar perwakilan penambang Bone Pesisir, Happy Husain kepada awak koran ini, kemarin, Ahad (8/10).

Baginya, sebagai perwakilan penambang, pihaknya siap menuruti peraturan pemerintah untuk sama-sama menjaga bahaya logam berat. Hanya saja, yang tidak terimanya jika pernyataan semacam yang dilontarkan Prof Rizald dengan keseringan maka penambang yang malah menjadi khawatir. Jika perlu diwaspadai, Happy harapkan ada langkah dari pihak terkait mensosialisasikannya dengan baik tentang bagaimana caranya penambang lokal bisa ikut mendukung keramahan lingkungan dalam pemanfaatan bahan sianida dan merkuri.

“Kami sudah 30 tahun menambang tapi tidak merasakan kekhawatiran berlebihan seperti disampaikan pakar itu. Kalau perlu, kami tantang siap minum sianida. Kalau saya ada apa-apa, itu resiko saya. Tapi kalau tidak ada apa-apa, maka tolong jangan keseringan sampaikan teori menakut-nakuti seperti itu.

Lebih baik beri tahu langsung datang berikan sosialisasi bagaimana caranya kontribusi penambang pada upaya menjaga ramah lingkungan, itu lebih etis,”
Sebelumnya, Toksikologi dan Farmakologi Laut dari Universitas Sam Ratulangi Manado, Prof DR Rizald Max Rompas, mengingatkan bahaya logam berat merkuri dan sianida bagi kesehatan manusia karena berpotensi mencemari lingkungan menyusul kegiatan penambangan emas.

“Dalam jangka panjang, organ tubuh yang terakumulasi logam berat seperti merkuri dapat menimbulkan cacat,” kata Rompas di sela-sela Seminar Nasional dalam Dies Natalis ke-III Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Negeri Gorontalo, Jumat (6/10), pekan lalu.(csr/hg)

 

(Visited 5 times, 1 visits today)

Komentar