Rabu, 17 Agustus 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Penanganan Batu Hitam Dinilai Gunakan Sistem Tebang Pilih 

Oleh Admin Hargo , dalam Metropolis , pada Kamis, 21 Juli 2022 | 00:05 Tag:
  Sejumlah Batu Hitam dalam karung yang tidak dipasangi Police Line. (Foto: Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Sejak muncul di permukaan dan dipermasalahkan beberapa bulan lalu, kini aktivitas pengumpul batu hitam hampir tak ada lagi. Namun, belakangan beredar kabar jika penanganan Batu Hitam diduga menggunakan sistem tebang pilih. 

Apa pasal? Usut punya usut, ternyata masih ada seorang pengusaha pengumpul Batu Hitam masih beraktivitas. Bahkan, tempatnya tak dipasangi police line, seperti pengusaha pengumpul lainnya. 

Hal ini diungkapkan Ketua Paguyuban Mahasiswa Suwawa, Rezaldath Kurniawan Iyou saat dihubungi media ini. Menurutnya, jika memang itu dilarang, semestinya diberlakukan pada semua pengumpul. 

“Saat ini, ada salah seorang investor yang juga pengumpul Batu Hitam bernama Warsono masih menjalankan aktivitasnya. Bebas melakukan pembelian Batu Hitam, sementara pengumpul atau investor lainnya justru dilarang. Bahkan ada yang ditahan petugas ketika melakukan pembelian,” kata Rezaldath Kurniawan Iyou.

Batu Hitam yang tak dapat diedar karena dilakukan pemasangan Police Line. (Foto: istimewa/Tangkapan Layar)
Batu Hitam yang tak dapat diedar karena dilakukan pemasangan Police Line. (Foto: istimewa/Tangkapan Layar)

Masih pada kesempatan yang sama, Rezaldath Kurniawan Iyou menuturkan bahwa Warsono membeli Batu Hitam jauh di bawa harga yang diinginkan penambang. Jika sebelumnya harganya Rp 750 ribu per karung. Setiap karung berisi Batu Hitam dengan berat 55 kilogram. Menurut Rezaldath Kurniawan Iyou, Warsono justru membelinya dengan harga Rp 500 ribu per karung.

“Saat ini, penambang memilih tak menjual Batu Hitam miliknya. Alasannya, harga di bawah ketika dijual ke Warsono. Sementara tak ada lagi investor atau pedagang pengumpul kategori kecil yang berani membeli dengan alasan takut di ditahan. terlebih ketika rekan-rekannya sudah ada yang ditahan. Padahal, setiap hari untuk satu lubang memproduksi 1.000 karung,” kata Rezaldath Kurniawan Iyou.

Akhir pembicaraan, Rezaldath Kurniawan Iyou agar diberi perlakuan yang sama terhadap pengumpul atau investor Batu Hitam. Jika mereka dilarang, semuanya harus dilarang. 

“Demikian juga sebaliknya. Jika diperbolehkan, semua harus diperbolehkan. Kasihan investor-investor lainnya, yang ingin berinvestasi. Juga kasihan kepada penambang yang ingin menjual Batu Hitam miliknya dengan yang wajar,” kuncinya.

Hingga berita ini diturunkan, wartawan hargo.co.id berusaha mencari nomor kontak Warsono guna dilakukan konfirmasi. (***)

 

Penulis: Zulkifli Polimengo

(Visited 345 times, 1 visits today)

Komentar