Kamis, 30 Juli 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Peneliti LIPI Ciptakan Masker Bisa Bunuh Virus Corona

Oleh Tirta Gufrianto , dalam Features , pada Sabtu, 6 Juni 2020 | 16:05 WITA Tag: , , ,
  Tim peneliti LIPI saat mengenalkan masker disinfektor. Foto: antara


Hargo.co.id, JAKARTA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menciptakan masker kain disinfektor, berbasis lapisan tembaga yang berpotensi mematikan virus Corona, dengan memutus RNA dari virus yang menempel pada masker.

“Masker disinfektor ini dirancang dengan metode sederhana dan biaya terjangkau, serta menggunakan bahan baku yang mudah didapat di dalam negeri, sehingga dapat difabrikasi secara cepat dan praktis,” kata peneliti dari Pusat Penelitian Fisika LIPI Deni Shidqi Khaerudini, di Jakarta, Sebagaimana dilansir JPNN.com, Kamis (4/6).

Masker memiliki material dasar berupa kain katun, dan pelapis inovatif tembaga (Cu) sebagai ‘contact killer’ virus.

Dalam hal ini, “contact killer” berarti perusakan bakteri maupun virus akibat kontak dengan tembaga.

Masker itu juga mempunyai kemampuan radikal bebas ion Cu yang mampu mematikan virus dengan memutus RNA.

BACA  Ketambahan 22 Pasien, Dua Orang Meninggal Dunia

Menurut Shidqi, masker lebih ekonomis karena bisa digunakan berkali-kali atau dicuci, dan tidak mengganggu suplai masker medis.

Masker tersebut diperuntukkan bagi masyarakat umum, bukan untuk masker medis.

Deni mengatakan material aktif tembaga berperan sebagai “contact killer” sekaligus mereduksi ukuran pori masker kain.

Pengaplikasian tembaga dilakukan dengan cara pelapisan langsung, atau penyisipan lembaran tembaga ke dalam masker kain.

Secara kajian ilmiah, tembaga (Cu) telah dikenal sebagai “antimicrobial agent” sejak zaman Mesir dan Yunani kuno, seperti untuk perawatan luka dan sterilisasi air.

Hingga 2011, tercatat telah terdaftar setidaknya 300 jenis paduan tembaga sebagai agen antimikroba (antimicrobial agent).

Mekanisme perusakan bakteri maupun virus akibat kontak dengan tembaga (contact killer), berbeda-beda tergantung jenis mikroorganisme.

BACA  Pemprov Gorontalo Terima 10 Unit Wastafel Portable dari BUMN

Studi lain menunjukkan Human coronavirus 229E (HuCoV-229E), yang merupakan virus influenza, sejenis SARS-CoV-2, mampu dirusak dalam hitungan menit, di mana semakin tinggi kandungan atau kemurnian Cu, semakin cepat virus tersebut rusak atau terdegradasi.

Virus SARS-Cov-2 penyebab COVID-19 memiliki diameter 0,065 – 0,125 µm. Sementara suatu penelitian tentang uji efektivitas penyaringan (filter) dari masker medis, masker kain, dan masker kain dua lapis terhadap mikroorganisme B Atrophaeus yang berdiameter 0,9 – 1,25 µm, menunjukkan efektivitas masker medis dalam menyaring mikroorganisme B Atrophaeus sebesar 96,35, masker kain 69,42 persen, dan masker kain dua lapis 70,66 persen.

Jika melihat perbandingan ukuran diameter di mana mikroorganisme B Atrophaeus 10 kali lebih besar dari virus SARS-CoV-2, ada kemungkinan 30 persen atau lebih virus lolos memasuki saluran pernafasan ketika menggunakan masker kain.

BACA  Kamar Mayat Sampai Tidak Muat, Wabah COVID-19 di Amerika Makin Gawat

Oleh karena itu, tidak cukup masker hanya ukuran pori yang kecil, tapi diperlukan lapisan aktif yang bersifat mematikan atau dapat memutus RNA virus dengan efektif pada masker.

“Dengan tembaga secara fisik pori-pori mengecil lebih tertutup, tapi tidak tertutup sempurna, tentu kita harus memberi ruang untuk bernafas tapi lapisan aktif tetap tertempel dengan baik,” ujarnya.

Saat ini, LIPI terus melakukan penelitian dan pengembangan untuk meningkatkan efektivitas masker berbasis lapisan tembaga. (antara/jpnn/hg)

 

 

 

 

*) Artikel ini telah diterbitkan oleh JPNN.com dengan judul: “Keren! LIPI Ciptakan Masker Bisa Bunuh Virus Corona”. Pada edisi Kamis, 04 Juni 2020.

Komentar