Jumat, 16 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Penerimaan Siswa Baru Online, Akhirnya! Siswa yang Tak Sesuai Domisili Bisa Ajukan Pindah

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Rabu, 5 Juli 2017 | 12:43 WITA Tag: , , , ,
  


GORONTALO Hargo.co.id – Polemik pendaftaran siswa baru jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) secara online mulai menemukan titik terang. Bagi siswa yang lulus tak sesuai domisili tak perlu risau. Masih ada kesempatan untuk mengajukan pindah atau relokasi.

Demikian pula bagi siswa yang dinyatakan tak lulus atau tak tertampung di salah satu sekolah pilihan. Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) memberi kesempatan pada pendaftaran gelombang kedua. Yaitu pada 4-8 Juli.

Titik terang atas polemik penerimaan siswa baru SMA secara online ini diperoleh dari hasil rapat dengar pendapat Deprov Gorontalo bersama Dikbudpora Provinsi Gorontalo, Selasa (4/7).

Dalam rapat mengemuka, ada empat indikator yang menjadi penentu kelulusan siswa dalam pendaftaran online. Masing-masing zonasi, tempat tinggal siswa, nilai kelulusan, serta prestasi non akademik. Masing-masing indikator tersebut diformulasikan dengan sistem komputerisasi.

Dengan sistem tersebut maka ketika kuota pendaftar salah satu sekolah terpenuhi, maka pendaftar lainnya akan didistribusikan sekolah lain yang mengacu pada pilihan sekolah yang diajukan, zonasi/tempat tinggal, serta nilai kelulusan dan prestasi non akademik.

Kepala Bidang Pendidikan menengah dan tinggi (Dikmenti), Dinas Dikbudpora Provinsi Gorontalo Abdul Rahman Husain menjelaskan, penerimaan siswa baru online diterapkan dengan tujuan untuk pemerataan siswa di semua sekolah.

BACA  Rusli Habibie dan Idah Syahidah Serahkan LHKPN ke KPK

Sehingga tidak ada satu sekolah yang kelebihan siswa sementara sekolah yang lain tak ada siswa. “Ini juga untuk menghindari pungli. Karena tidak ada kontak langsung antara panitia penerimaan siswa baru dengan calon orang tua siswa,” jelasnya.

Dia mengatakan, lulusan SMP/MTS pada tahun ini mencapai 18 ribu orang. Jumlah itu bisa tertampung di semua SMA/SMK dan MA yang ada di Gorontalo. “Yang sudah mendaftar di SMA/SMK sudah mencapai 14 ribu orang. Sisanya mendaftar di MA,” jelasnya.

Kalau penerapan penerimaan online sejauh ini masih diwarnai keluhan menurutnya ini dapat dimaklumi. Mengingat sistem ini baru diterapkan pada tahun ini. “Tapi 90 persen tidak ada masalah. Yang ada keluhan hanya tinggal 10 persen saja,” jelasnya.

Terkait keluhan orang tua siswa bahwa anaknya lulus di sekolah yang jauh dari tempat tinggal, Rahman mengatakan, dalam sistem baru ini, para siswa sebetulnya disodorkan empat pilihan sekolah. Sehingga bisa jadi yang bersangkutan lolos di sekolah yang menjadi pilihannya. “Tapi kalau untuk kasus tinggalnya di Anggrek lalu lulusnya di Atinggola ini bisa diperbaiki. Silakan mendaftar dulu di sekolah yang sudah lulus lalu nanti akan direlokasi ke SMA yang berdekatan dengan tempat tinggal siswa yang bersangkutan,” jelasnya.

BACA  Menkes RI Minta Lansia Dan Guru Jadi Sasaran Prioritas Vaksinasi

Sebelumnya dalam rapat, perwakilan orang tua siswa mengeluhkan dampak penerapan sistem online yang menyebabkan anaknya lulus di sekolah yang lokasinya berjauhan dari tempat tinggal. “Kerabat saya tinggal di kecamatan Anggrek Kabupaten Gorut. Tapi dia malah lulus di SMA Kecamatan Atinggola yang jaraknya sekitar 60 kilometer dari rumahnya,” keluh Agus Farman Setiadi salah satu perwakilan orang tua siswa.

Persoalan yang tidak jauh berbeda juga diakui salah satu anggota Deprov dapil Gorut Alfian Pomalingo yang ikut dalam pertemuan itu. “Ada keluarga saya di Tolinggula lulusnya malah di SMA Atinggola. Saya sudah laporkan persoalan ini kepada Kadis Dikbudpora,” ujarnya.

Ada juga orang tua siswa yang mengeluh bahwa lewat sistem baru ini, anaknya tidak lulus di semua sekolah yang didaftarkan. “Kan ada empat pilihan sekolah. Tapi kok anak saya tidak satupun yang lulus dari empat pilihan sekolah itu,” keluh salah seorang ibu dalam pertemuan itu.

Dalam pertemuan kemarin, sejumlah anggota deprov sempat meminta agar penerapan sistem PPDB online ditangguhkan dan dikembalikan ke pola lama. Karena masih adanya persoalan yang mewarnai penerapan sistem baru tersebut. “Saran saya sebaiknya ditangguhkan dan nanti diberlakukan tahun depan. Karena banyak orang tua siswa yang belum tahu dengan sistem baru ini,” pinta salah satu anggota Deprov dapil Kota Gorontalo Fikram Salilama.

BACA  Wagub Gorontalo: Rakerda Itu Perlu Untuk Refleksi Dan Evaluasi Kinerja Tahun Sebelumnya

Pikiran yang sama juga datang dari anggota Komisi IV Rusliyanto Monoarfa. “Sebaiknya ini ditangguhkan sementara. Sambil memberikan kesempatan kepada Dikbudpora untuk melakukan pembenahan,” pintanya.

Tapi pimpinan Komisi IV yaitu Ketua Komisi IV Alifudin Djamal dan Sekretaris Komisi IV Hidayat Bouti berpendapat bahwa penangguhan terhadap sistem ini belum diperlukan. Karena yang bermasalah hanya 10 persen. “Jadi sebaiknya yang bermasalah itu saja yang ditangani,” saran Alifudin Djamal dan Hidayat Bouti yang akhirnya diterima oleh peserta rapat.

Komisi IV dijadwalkan masih akan melakukan pertemuan ulang pada Kamis (7/7) untuk mengevaluasi pembenahan sistem yang dilakukan oleh Dikbudpora. Pembenahan diperlukan untuk memastikan penerimaan siswa baru pada gelombang kedua mulai 4-8 Juli tidak akan diwarnai persoalan yang sama seperti pada gelombang pertama.(rmb/hargo)


Komentar