Kamis, 13 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Pengakuan Para Pelaku LGBT di Tanah Serambi Madinah

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Jumat, 26 Februari 2016 | 23:00 WITA Tag: , ,
  


Hargo.co.id GORONTALO – Dibalik berkembangnya Lesbi Gay Bisexsual dan Transgender (LBGT) di Gorontalo ternyata di latar belakangi oleh kondisi yang terjadi sejak lahir. Bahkan tidak jarang, para pelaku LGBT tersebut, menjadi korban dari perilaku orang yang tidak bertanggungjawab, sehingga membuat kehidupan para pelaku LGBT tersebut menjadi kebiasaan.

Seperti diutarakan, Angsa (nama samaran). Secara terbuka Angsa menceritakan kehidupannya kepada wartawan ini. Ia mengaku dilahirkan dalam kondisi normal, seorang laki-laki. Hanya saja ketika SD ia mendapat perlakukan kekerasan seksual dan menjadi korban sodomi.

BACA  Tahun Ini, Pasar Senggol dan Festival Tumbilotohe Dilarang Digelar 

Pelakunya adalah kakaknya sendiri. Dari situ, ia lalu penasaran, penasaran menjadi pelaku sodomi. Kondisi ini diperparah dengan suasana lingkungan keluarga. Dalam keluarganya ada beberapa yang juga menjadi waria. Sejak itulah ia berubah menjadi pria bergaya wanita.

BACA  Pasar Murah Pemprov Gorontalo Dinilai Membantu Kebutuhan Masyarakat

Apalagi ketika SMA, kebanyakan teman-temanya justeru memujinya dengan kata cantik dan bukan ganteng. Ia kemudian bertambah percaya diri untuk berusaha menjadi seorang wanita. Jadilah, setiap berpakaian yang digunakan adalah pakaian wanita. Ia juga mengaku tak punya rasa suka kepada wanita, layakni pria normal.

“Saya ada cowo, tapi ada juga laki-laki yang datang pa saya, biasa lah. Apalagi kalau bukan ba ongan (ongan bahasa khusus waria),”katanya sambil menutup percakapan dengan koran ini, dini hari itu.

BACA  Rusli Habibie: Tolinggula Jauh di Mata, Dekat di Hati 

Lain lagi dengan kehidupan para lesbian. Setidaknya ada dua orang wanita yang biasanya ‘pacaran’. Satu wanita terlihat tomboi satunya adalah wanita normal yang feminim. Mereka dikenal dengan sebutan buci.

Laman: 1 2 3 4


Komentar