Kamis, 22 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pelatihan SGI Master Teacher

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Minggu, 18 Februari 2018 | 10:26 WITA Tag: , , , , ,
  Desita Erviani | Trainer Sekolah Guru Indonesia (SGI)


Esensi sebuah pendidikan adalah proses pembelajaran. Hal ini diperkuat dengan definisi pendidikan menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang mendefinisikan bahwa pendidikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran sehingga peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagaaman, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan masyarakat, bangsa, dan negara.

Dari definisi ini, dapat disimpulkan bahwa kualitas pembelajaran menjadi faktor penentu mampu tidaknya melahirkan generasi – generasi penerus bangsa yang tidak hanya baik dari segi intelektualitas namun juga spritualitas. Kualitas pembelajaran tanpa adanya kualitas guru maka tidak berarti apa – apa.

Menurut Barnawi dan Arifin (2012:14), pembelajaran yang berkualitas hanya dapat diwujudkan oleh guru yang memiliki kemampuan unggul dan motivasi yang tinggi dalam melaksanakan kewajibannya. Sehingga, di antara keseluruhan komponen dalam pembelajaran, guru dalam hal ini merupakan komponen organik yang sangat menentukan.

Guru adalah ujung tombak dalam proses belajar mengajar karena gurulah yang berinteraksi langsung dengan siswa di dalam kelas (Fathurrohman dan Suryana, 2012:13). Guru merupakan komponen yang paling berpengaruh dan sangat menentukan terhadap terciptanya proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Berhasil atau tidaknya pendidikan bergantung apa yang diberikan dan diajarkan oleh guru (Shoimin, 2014:16).

Maka tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa masa depan masyarakat, bangsa dan negara, sebagian besar ditentukan oleh guru (Sumarso, 2016:1). Upaya perbaikan apa pun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan tidak akan memberikan sumbangan yang signifikan tanpa didukung oleh guru yang profesional. Dengan kata lain, perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal dari guru dan berujung pada guru pula.

Untuk menjalankan tugas dan fungsinya yang berat itu, guru dituntut memiliki segenap kompetensi yang ada. Menurut Novauli (2012:17), kompetensi guru dapat diartikan sebagai kebulatan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang ditampilkan dalam bentuk perilaku cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seorang guru dalam menjalankan profesinya. Seorang guru dituntut memiliki kemampuan penguasaan mata pelajaran, kemampuan berinteraksi sosial baik dengan sesama peserta didik maupun dengan sesama guru dan kepala sekolah, bahkan dengan masyarakat luas.

Undang-Undang RI Nomor 14 Tahun 2005 pasal 10 ayat 1 tentang Guru dan Dosen menyatakan “Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui pendidikan profesi”. Empat kompetensi di atas hanya bisa dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Oleh karena itu, tenaga pendidik (guru) mempunyai peran, fungsi, dan kedudukan yang sangat strategis.

Hal ini berorientasi bahwa dalam penyelenggaraan pendidikan berbasis kompetensi, tenaga pendidik (guru) mempunyai peranan yang sangat penting. Oleh karenanya tenaga pendidik (guru) juga sebagai salah satu komponen dalam kegiatan belajar mengajar memiliki posisi yang sangat menentukan keberhasilan pembelajaran, karena fungsi utama tenaga pendidik (guru) adalah merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran.

Namun, berdasarkan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) tahun 2015 menunjukkan hasil mengecewakan. Mendikbud Anis Baswedan mengatakan “Rata – rata UKG Nasional 53,02, sedangkan pemerintah menargetkan rata-rata nilai di angka 55. Selain itu, nilai rata-rata kompetensi pedagogik guru sebesar 48,94 yang tertinggal sedikit lebih jauh dari nilai kompetensi profesional yaitu 54,77 (Musfah, 2011:5). Ini artinya bahwa kompetensi guru, khususnya kompetensi pedagogik guru masih butuh banyak perhatian.

Sehingga, untuk meningkatkan kompetensi di atas bisa dihasilkan melalui penyelenggaraan pendidikan yang bermutu. Salah satunya melalui pelatihan SGI Master Teacher, sebagaimana diatur dalam Undang – Undang No 14 Tahun 2005 Pasal 14 ayat 1 tentang Guru dan Dosen yang menjelaskan bahwa dalam menjalankan tugas keprofesionalannya guru berhak memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam bidangnya.

Pelatihan SGI Master Teacher diadakan oleh Sekolah Guru Indonesia (SGI) Dompet Dhuafa sebagai program unggulan gratis dalam bentuk pelatihan para guru untuk meningkatkan kompetensi yang harusnya dimiliki oleh setiap guru. Pelatihan ini berupa pembinaan intensiv dengan tujuan membentuk guru yang berjiwa pendidik, pengajar dan pemimpin yang dilakukan setiap pekan selama 3 bulan.

Materi – materi yang diberikan selama pelatihan dapat meningkatkan keterampilan dan pengetahuannya sehingga dari materi yang ada dapat diterapkan atau diaplikasikan langsung di sekolah tempat guru mengajar. Dengan adanya pelatihan SGI Master Teacher diharapkan guru yang telah mengikuti pelatihan dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat digunakan untuk meningkatkan profesionalisme guru.

Oleh : Desita Erviani
Penulis adalah Trainer Sekolah Guru Indonesia (SGI)


Komentar