Sabtu, 4 Desember 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Pentingnya Journey Management saat Berkendara Jarak Jauh

Oleh Tirta Gufrianto , dalam LifeStyle , pada Sabtu, 6 November 2021 | 04:05 AM Tag: , , , ,
  Ilustrasi: Bepergian jauh dengan mobil, jangan lupa untuk istirahat. (Lev Dolgachov Via DubsLabs)

Hargo.co.id, JAKARTA – Publik di Tanah Air baru saja digemparkan dengan kabar meninggalnya artis Vanessa Angel dan suaminya Febri Ardiansyah. Kedua pasangan tersebut tewas dalam kecelakaan tunggal yang terjadi di Tol Nganjuk arah Surabaya pada Kamis (4/11).

Sebelumnya dalam Instagram Story miliknya, Vanessa Angel memperlihatkan dirinya yang memang dalam perjalanan. Ia pun sempat menanyakan kepada followersnya akan ke mana dirinya dan suami akan pergi.

Banyak yang mengatakan kalau mendiang Vanessa Angel dan keluarga akan bertolak ke Surabaya untuk menghadiri acara. Selain dia dan suaminya, dalam mobil nahas itu turut pula pengasuh, anaknya dam sopir yang mengendarai mobil yang dikabarkan selamat.

Jika kabar yang beredar benar kalau Vanessa Angel dan keluarga menuju Surabaya menggunakan mobil, dapat dipastikan bahwa hal tersebut merupakan perjalanan yang melelahkan.

Sebagai gambaran, perjalanan darat dari Jakarta menuju Surabaya jika ditempuh non-stop via Tol umumnya memakan waktu selama lebih dari 9 jam dengan jarak kurang lebih hampir 800 km.

Menanggapi hal tersebut, pakar keselamatan berkendara sekaligus pendiri dan pengajar senior di Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menyatakan, buat yang suka atau akan bepergian jauh menggunakan kendaraan pribadi khususnya mobil, penting untuk mengetahui journey management atau manajemen perjalanan.

“Ini penting sekali agar faktor-faktor atau risiko kecelakaan ini dapat ditahan,” ujar Sony sebagaimana dilansir JawaPos.com.

Secara sederhana, journey management adalah upaya kita mengatur rencana perjalanan yang akan dilakukan. Mulai dari seberapa jauh jaraknya, rute mana yang akan dilalui, dan paling penting adalah mengetahui kesiapan fisik kita.

“Jadi ketika kita (selaku pengendara) sudah tahu “jadwal”, kita bisa mengatur kapan kita harus istirahat atau berhenti sesaat memulihkan stamina,” jelas Sony.

Untuk bepergian jauh dengan mobil misalnya, Sony menyarankan bahwa idealnya adalah paling lama kita duduk di ruang kemudi dan mengemudikan kendaraan adalah tiga jam. Selepas itu, pengendara diwajibkan beristirahat.

“Setelah tiga jam mengemudi, pastikan untuk melakukan istirahat, melakukan peregangan atau aktivitas yang mampu memperlancar peredaran darah. Tujuannya apa? Supaya kita kembali fit, tidak ngantuk dan kembali fokus,” jelas Sony.

Kemudian, yang paling penting di jalan saat melakukan perjalanan jarak jauh adalah menaati peraturan. Jangan dilanggar.

“Kedua, pastikan batas kecepatannya sesuai dengan aturan atau regulasi yang sudah ditentukan. Sekalipun kondisi jalannya kosong, lengang, tidak ada kendaraan, bukan berarti itu aman,” tegas Sony.

Dia juga berpesan bahwa yang menentukan seorang pengemudi itu aman atau tidak adalah akal sehat mereka sendiri. Sony meminta untuk siapapun di jalan raya supaya tidak sesumbar.

“Jadi sehebat apapun kendaraannya, semahal apapun kendaraannya, kalau kita tidak mengemudi dengan akal sehat, otomatis kita akan diintai oleh bahaya kecelakaan,” tandas Sony.(JawaPos.com)

 

 

 

 

*) Artikel ini telah tayang di JawaPos.com, dengan judul: “Berkendara Jarak Jauh, Perhatikan Journey Management“. Pada edisi Jumat, 05 November 2021.
(Visited 33 times, 1 visits today)

Komentar