Senin, 23 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Penutur Kian Menyusut, Dua Bahasa di Ambang Punah 

Oleh Fajriansyach , dalam Gorontalo Headline , pada Sabtu, 27 Oktober 2018 | 13:13 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id, GORONTALO – Komitmen melestarikan bahasa daerah diharapkan tidak lagi sebatas jargon. Langkah nyata seluruh pemangku kepentingan harus diimplementasikan. Pemerintah daerah, pemuka/tokoh masyarakat serta seluruh pemangku kepentingan. Sebab, modernisasi saat ini terus menggerus eksistensi bahasa daerah.

Seperti Bahasa Suwawa dan Bulango. Dua bahasa daerah yang ada di wilayah Kabupaten Bone Bolango. Saat ini, keberadaan kedua bahasa tersebut sudah masuk kategori mengkhawatirkan. Jumlah penutur Bahasa Suwawa hanya berada pada kisaran 5 ribu orang. Begitu pula Bahasa Bulango, yang kini sangat jarang lagi digunakan di daerah asalnya sendiri.

BACA  Penyemprotan Disinfektan, Pastikan Fasilitas Publik Tetap Steril

Bila kondisi ini tak segera disikapi secara serius, tidak menutup kemungkinan Bahasa Suwawa maupun Bahasa Bulango hilang. Apalagi, tren bahasa prokem (kontemporer,red) makin digandrungi di kalangan remaja dan anak-anak.

Kepala Kantor Bahasa Gorontalo, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Sukardi Gau saat berbincang dengan Gorontalo Post mengemukakan, di kalangan masyarakat Gorontalo ragam bahasa ada tiga atau empat bahasa. Yakni Bahasa Gorontalo, Bahasa Suwawa dan Bahasa Bulango. Bahasa Bulango memiliki kemiripan dengan Bahasa Atinggola. Sehingga bisa dikatakan sama.

BACA  DPRD Minta Sektor Pariwisata Optimalkan Protokol Kesehatan

Dari keberagaman bahasa yang ada itu, lanjut Sukardi Gau, ada beberapa yang dikhawatirkan eksistensinya. Yakni Bahasa Suwawa dan Bulango. Untuk Bahasa Suwawa, hasil Disertasi pada 1985 menyebutkan penutur asli berkisar 15 ribu orang. Namun pada saat ini, data Etnologue menyebutkan bila penutur Bahasa Suwawa tersisa 5 Ribu penutur.

BACA  Kafilah MTQ Provinsi Gorontalo Siap Bertolak ke Sumatera Barat

“Ini artinya apa terjadi penyusutan 75 persen selama kurun waktu tiga puluh tiga tahun. Dan itu akan bisa diprediksi kedepan kapan beberapa tahun lagi bisa punah,” katanya.

Laman: 1 2 3


Komentar