Rabu, 21 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Penyebaran Radikalisme, Gorontalo Urutan ke Dua se Indonesia

Oleh Fajriansyach , dalam Headline , pada Senin, 4 Desember 2017 | 08:50 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id Gorontalo – Badan Nasional Pencegahan Terorisme (BNPT) baru-baru mengeluarkan survei yang menyebutkan bahwa Provinsi Gorontalo merupakan salah satu daerah tertinggi yang berpotensi paham radikalisme. Survei BNPT tersebut pun membuat kaget sejumlah pihak, termasuk dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Gorontalo.

“Jujur saya kaget mendengar (survei,red) itu. Tapi yang jelas itu masih sangat relatif,” kata Wakil Ketua I MUI Provinsi Gorontalo, Lukman Katili, kepada Gorontalo Post, belum lama ini. Menurutnya, survei BNPT tersebut bisa saja mengacu terhadap dua faktor.

BACA  Sebanyak Rp 1,5 Triliun Dikucurkan ke Gorontalo pada 2021

Yang pertama, terang Lukman, terkait letak geografis dimana Provinsi Gorontalo diapit oleh daerah rawan seperti Poso di Sulawesi Tengah dan dekat dengan Filiphina.

Faktor yang kedua, lanjutnya, dari sisi penggunaan media sosial dimana saat ini media sosial lebih banyak digunakan oleh kalangan muda sehingga banyak para pemuda di Gorontalo yang bersemangat untuk belajar agama.

Namun demikian, tegas Lukman, paham radikalisme dari bentuk apapun sudah seharusnya diwaspadai, baik itu berbasis ekonomi, politik, budaya hingga agama.

“Radikal itu sangat ekstrim, atau dalam agama kita dikenal Muthasyadiq, atau sama juga dengan kata berlebih-lebihan. Misalnya dalam basis ekonomi, ada yang dikenal ekonomi kapital dimana yang kaya melindas yang miskin. Dan dalam hal apapun kata radikalisme tidak bisa di terima.

BACA  Terkait Putusan KPU, Ini Tanggapan Bawaslu dan Nelson Pomalingo

Islam mengajarkan moderasi. Apa itu moderasi? itu artinya pertengahan, kata lain tidak radikal dan juga tidak liberal, yang ada hanyalah moderat,” urai Lukman.

Mewakili MUI Provinsi Gorontalo, Lukman berpendapat bahwa tidak ada tempat bagi paham radikalisme dan kelompok manapun untuk berkembang di Gorontalo. Karena, Gorontalo adalah daerah yang memiliki falsafah “Adat Bersendikan Syara, dan Syara Bersendikan Kitabullah”.

BACA  Sebanyak 3.517 Wartawan Lolos Seleksi Fellowship Perubahan Perilaku

“Saya berharap dari unsur kepolisian untuk mewaspadai tentang indikasi menyebarnya indikasi-indikasi paham radikalisme di Gorontalo ini, dan mohon diamati dan dipantau langsung kajian-kajian yang mengarah kepada hal-hal yang menyesatkan masyarakat Gorontalo,” pinta Lukman.

Sebelumnya, BNPT mengeluarkan survei daerah yang berpotensi tinggi paham radikalisme, masing-masing Bengkulu (58,58 persen), Gorontalo (58,48 persen), Sulawesi Selatan (58,38 persen) dan Kalimantan Utara (58,30 persen).(TR-59/hg)


Komentar