Minggu, 22 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Perang Verbal dan Kekerasan

Oleh Berita Hargo , dalam Persepsi , pada Rabu, 4 November 2020 | 21:05 WITA Tag:
  Syaiful Bahri Ruray


Oleh: Syaiful Bahri Ruray

“open your mouth only

if what you are going to sayis

more beautiful than

the silence”

(Budha)

Dunia kita, seakan tiada hentinya dari kekisruhan. Belum lagi satu negarapun menemukan solusi tuntas dan efektif melawan pandemi covid-19, kita di ributkan dengan kekerasan yang terjadi karena kebebasan berekspresi media yang dianggap melampaui etika kebebasan bersekspresi itu sendiri. Tersebutlah Charlie Hebdo, sebuah majalah satiris terbitan Perancis, menjadi pemicu hingga berimplikasi kemana-mana. Untuk membela kekebasan berekspresi Presiden Perancis Emanuel Macron pun membela tradisi satiris dan sinikal Charlie Habdo tersebut. Kita jadi teringat kasus Salman Rushdie, yang menulis novel The Satanic Verses(1989), memicu kemarahan yang relatif sama. Manusia merasa terusik spirit riligiusitasnya sebagai sesuatu yang prinsip. Namun prinsip ini, bukan hanya melanda dunia Islam, dari catatan seorang jurnalis, kita mengetahui bahwa Charlie Hebdo juga melakukan hal yang sama terahadap Jesus Kristus dan kaum Yahudi. Bahkan Hebdo juga membuat gambar karikatur tentang Macron dan isterinya yang terpaut 24 tahun tersebut. Yang dalam sudut pandang manusia beradab, apalagi kita orang timur, adalah sangat tidak etis alias kurang beradab. Hebdo memang majalah satir yang didirikan untuk anti-establishment. Lalu, melalui medsos, Wakil Bupati Halmahera Utara, Muhlis Tapitapi, memposting resensi buku lama yang ditulis Charles Kimball: When Religion Become Devil (2013). Karena semakin banyaknya pelaku teror sering mengatasnamakan agama akhir-akhir ini. Sebaliknya agama juga dimanipulasi oleh kelompok tertentu untuk mengklaim kebenaran tunggal dan menafikan eksistensi orang lain. Sikap altruistik menjadi jauh dari apa yang sesungguhnya merupakan cita dan idealitas agama itu sendiri. Pada beberapa waktu lalu, dalam sebuah webinar yang dipandu Imam Shamsi Ali dari New York, menampilkan Prof. Jonathan Fox dan Azyumardi Azra, membahas juga tentang tema kekerasan ini. Menariknya karena kekerasan mengatasnamakan agama disebutkan seringkali tidak berbasis pada ajaran sesungguhnya dari agama itu sendiri. Oleh Jonathan Fox disebut dunia tengah mewarisi tradisi Yunani dan Romawi, dimana dalam perang dan penaklukkan selalu menggunakan kekerasan dan membantai yang kalah.  Dunia Barat sendiri, mengalami beberapa momentum sejarah yang bersentuhan dengan Islam yang menyisakan memori kolektif bagi mindset Barat terhadap Islam. Sebutlah Perang Salib, dan menangnya Salahuddin Al Ayubi, bahkan sebelumnya Umar bin Khattab, yang menduduki Jerusalem tidak dengan perintah membantai penduduk setempat yang berlainan keyakinan agamanya. Juga trauma Eropa atas jatuhnya Konstantinopel oleh Mehmed Al Fathih, lalu pengepungan Lasykar Ottoman selama 3 tahun atas gerbang kota Wina, sebagai pintu masuk ke Eropa Barat oleh Mustapha Kara. Disamping penguasaan selama 7 abad di Andalusia, Spanyol, telah memberikan pelajaran yang tidak dapat begitu saja dikesampingkan dalam pembentukan mindset Eropa modern sekarang.Kimball yang juga seorang pendeta ahli teologi lulusan Harvard dan guru besar studi agama pada Oklahoma University menulis, agama sering berwajah ganda karena di salah gunakan jika tidak meletakkan sejarah dan tradisi ajarannya dengan benar. Senada dengan Azyumardi Azra dan Jonathan Fox, Imam Ali Shamsi dalam sebuah wawancara setelah kasus 9/11 di New York, menyatakan bahwa Islam sendiri telah dibajak. Memang rentang waktu yang panjang perjalanan agama-agama besar, tidak dapat tidak, dapat saja mengalami deviasi dalam penafsiran idealitasnya ke realitas kehidupan nyata kita. Hal ini dialami oleh hampir seluruh agama-agama besar dunia. Yahudi sendiri, terjadi perbedaan dalam memaknai Judaisme, Yahudi dan Zionisme atau cita-cita atas Judenstaat.

Seorang teman saya, mengirimkan warning dari pendetanya bahwa setelah blasphemy terhadap Islam yang dilakukan Charlie Hebdo, berikutnya Kristen juga akan mengalami hal yang sama. Ternyata benar, hanya berselang sehari, Sinagog Yahudi di pusat Wina diserang orang bersenjata dan menewaskan 7 orang, termasuk aparat polisi setempat. Kata-kata Charlie Hebdo atas Jesus, juga sangat sarkastis. Rupanya kekerasan verbal, dianggap sebagai kebebasan berekspresi ini, oleh media Barat khususnya Perancis.

BACA  “Sumpah Pemuda” Masihkah Sumpah atau Telah Menjadi Sampah ?

Padahal kita di Halmahera, adalah bagian yang pernah menyatakan diri menjadi bagian dari Kekaisaran Perancis. Pierre Poivre, seorang misionaris Perancis, adalah orang Perancis pertama yang dua kali datang ke Maluku Utara, dan menyelundupkan cengkih. Cengkih dan Pala dari Batang Dua dan Patani ini, diselundupkan ke Mauritius, lalu ke Madagaskar. Cengkih Zanzibar sebagai cengkih termahal dunia sekarang ini, adahal hasil selundupan Perancis dari bibit cengkih raja tersebut. Bahkan Sangaji Patani dan Maba, pernah mengibarkan bendera Perancis dan menurunkan bendera Belanda lalu menginjak-injaknya, dan menyatakan ikrar bahwa Halmahera menjadi bagian dari Perancis.

BACA  “Sumpah Pemuda” Masihkah Sumpah atau Telah Menjadi Sampah ?

Bahwa rasisme di Barat, memang menyisakan teror yang luar biasa. Setiap menjelang terjadinya krisis global, dunia selalu dilanda oleh rasisme. Lothdrop Stoddard (1921) menyebut tentang bangkitnya kulita berwarna sebagai ancaman bagi hegemoni Barat, menjadi rujukan bagi Hitler dalam melancarkan holocaust. Tercatat 6 juta orang Yahudi meregang nyawa di kamar gas selama Perang Dunia II. Perang ini diawali dengan isu rasisme yang menguat, lalu dipicu lagi dengan krisis ekonomi yang dikenal sebagai zaman malaise dengan diawaliThe Black Tuesday pada 29 Oktober 1929, dimana jatuhnya Pasar Saham Wall Street (the crash of Wall Street) tersebut. Perang Dunia I juga disertai ancaman pandemi global Flu Spanyol, yang menewaskan 50 juta penduduk dunia, termasuk di Indonesia (Hindia Belanda) pada 1918. Rasisme di Amerika karena perlakuan atas kaum negro Amerika, juga sedang terjadi dan memicu demonstrasi yang menuntut keadilan dan persamaan hak dimana-mana. Gunnar Myrdal (1942) menulis tentang negro Amerika dan Demokrasi Amerika, telah mempersoalkan akan soal rasisme ini. Myrdal menulis:An American Dilemma; The Negro Problem and Modern Democracy tersebut, ternyata hingga kini masih terbukti kebenarannya. Dunia masih terbelah oleh rasisme dan sarkasme verbal karena berbeda entah rasatau keyakinan. Ini menandai bahwa sikap altruisme masih jauh dari harapan.

Adapun revolusi Perancis yang mengdepankan motto: liberte, fraternite, dan egalite, mungkin masih perlu dimaknai ulang oleh Perancis. Padahal Thomas Carlyle, menulis demikian rinci tentang revolusi yang mengawali demokrasi tersebut. Carlyle juga terkenal sebagai ilmuan yang memperkenalkan Nabi Muhammad kepada dunia Eropa modern, karena menulis: On Hero-Worship, and the Heroic in History (1840). Juga Maurice Bucaille, dokter ahli bedah Perancis yang menulis La Bible, Le Qur’an et la Science(1976), demikian mencerahkan bagi konvergensi persepsional peradaban modern berbasis saintifik sekarang dan agama. Buku ini seakan menyambung garis putus sekularisme Barat, antara agama dan sains. Pendeta Kimball juga dalam bukunya menyebut tentang sekularisme Barat yang memisahkan sains dan agama dalam tradisi Barat. Oleh The Wall Street Journal, gerakan ini disebut dengan frasa ‘Bucaileisme’dimana kisah penciptaan peradaban manusia terkait erat antara sains dengan ajaran agama-agama langit. Namun saja, dunia kita seakan tidak sekedar berada dalam ancaman pandemi global, namun juga ancaman bangkitnya neo-fascisme, sebagaimana peringatan Madeleine Albright (2018), mantan Menlu Amerika Serikat tersebut.Ia resah dengan kutipan Trump akan kalimat Benito Mussolini: “it is better to live one day as a lion than 100 years as a sheep.”

Dalam catatan sejarah, Ir. Soekarno pernah dibenci oleh Presiden Perancis Jenderal Charles de Gaulle, karena Bung Karno adalah mendukung keras kemerdekaan koloni-koloni Perancis di Asia dan Afrika. Namun pada 1961, Bung Karno dalam kunjungannya ke Austria, bertemu de Gaulle di Wina, Soekarno sebagai orang yang lebih muda, kemudian mendatangi de Gaulle. Yang tak disangka-sangka oleh de Gaulle, Soekarno berdiskusi dengan bahasa Perancis yang lancar, menjelaskan sikap Indonesia membela kemerdekaan bangsa-bangsa eks jajahan Perancis, karena di ilhami oleh Revolusi Perancis dengan semboyan liberte, egalite, fratenite tersebut. Soekarno membuat de Gaulle terkesima dan takjub. Soekarno menyebut Revolusi Perancis sebagai “la grand revolution” dengan mengutip adagium Perancis yang terkenal “exploitation l’homme par l’homme.”

Namun saja sekarang, kita seakan melihat kemunduran peradaban, karena satirnya Charlie Hebdo yang merembet kemana-mana. Kita kadang lupa bahwa kekerasan verbal itu juga adalah sebuah bentuk terorisme modern. Memang frasa terorisme sendiri berawal dari sejarah Perancis. Kita mengutuk kekerasan dalam bentuk apapun, karena hal itu bertentangan dengan idealitas agama apapun.(*)

BACA  “Sumpah Pemuda” Masihkah Sumpah atau Telah Menjadi Sampah ?

 

3 November 2020.


Komentar