Sabtu, 4 Juli 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Perayaan Hari Anak Nasional 23 Juli Oleh 10 Komunitas

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Senin, 24 Juli 2017 | 19:53 WITA Tag: ,
  


Asah Kreativitas Anak Lewat Permainan Tradisional

Engrang batok kelapa, ular tangga maupun lari hadang. Bagi kalangan anak-anak sekarang ini jauh populer dibandingkan Play Station (PS) ataupun game online. Kemajuan teknologi dewasa ini membuat anak-anak mulai meninggalkan permainan tradisional. Padahal, permainan tersebut justru mampu mengolah fisik dan kreativitas.

Andi Aulia Arifuddin- Biawao

Jarum jam menunjukkan pukul 06.00 wita, Ahad (23/7). Embun masih menyelimuti pagi di Kota Gorontalo. Lalu lalang sejumlah orang berlari di Jl. Nani Wartabone (eks A.Yani), yang pada pagi itu menjadi car free day.

Di tengah udara yang terasa sejuk, kesibukan terlihat di teras Banthayo Lo Yiladiya (aula rumah dinas Walikota Gorontalo).

BACA  Soal Calon Pendamping Rustam Akili, Ini Kata Roman Nasaru

Puluhan anak-anak berkumpul. Ada yang tertawa riang sambil berlari kecil. Ada pula yang penuh konsentrasi menggoreskan crayon/spidol di atas kertas. Kemeriahan anak-anak itu adalah bagian dari pelaksanaan Festival Anak memeriahkan Hari Anak Nasional, yang jatuh setiap tanggal 23 Juli.

Festival yang digagas oleh 10 komunitas peduli pendidikan di antara Zetizen, 1.000 Guru Gorontalo, Kelas Inspirasi, Perpus Taman,Nusa Warna, Komunitas Median, Akademi Berbagi, Makuta Creative, Carelaig dan Forum Indonesia Muda bertujuan untuk mengajak anak untuk dapat mengenal Hari Anak Nasional.

Selain itu, hadirnya Festival Anak Gorontalo ini untuk memberikan ruang kepada anak menyalurkan kreativitas lewat permainan-permainan tradisional yang mulai dilupakan.

BACA  Kota Gorontalo Longsor, Tiga Warga Tertimbun

Festival anak mengangkat berbagai lomba untuk mengasah kecerdasan anak. Seperti lomba mewarnai, permainan tradisonal meliputi lomba hadang/gobak sodor; ular tangga ‘Peta Indonesia’; menyusun puzzle ‘wisata’; dan lomba permainan egrang batok kelapa.

“Kita menginginkan agar anak-anak menghidupkan kembali budaya bermain anak-anak yang menyenangkan, bermanfaat, dan tentunya tanpa intervensi gadget,” ucap Milan Amrullah koordinator Festival Anak Gorontalo.

Rupanya inisiatif komunitas-komunitas ini menarik perhatian pemerintah Kota Gorontalo. Bahkan Walikota Gorontalo Marten Taha hadir langsung dan merasakan bermain bersama anak-anak. “Kami gencar memberikan perhatian terhadap anak, apalagi yang terkait dengan mengajak anak dalam mengasah kreativitas seperti ini,” ucap Marten Taha.

BACA  Seorang Ibu Hamil di Gorontalo Terpapar Corona

Dicanangkannya Kota Layak Anak, membuat Marten langsung setuju ketika panitia Festival Anak Gorontalo tersebut meminta izin untuk menggunakan Banthayo Lo Yiladia sebagai tempat penyelenggaraan Festival.

“Kami sadar untuk menuju Kota Layak Anak, kami harus menyediakan tempat dan fasilitas yang membuat anak itu merasa senang. Harus ada ruang untuk mengajak kreativitas serta menumbuhkembangkan inovasi-inovasi anak. Contohnya dengan permainan tradisional dalam Festival Anak Gorontalo yang memang begitu memberikan ruang yang positif bagi anak-anak Gorontalo,” tandas Marten.(***)


Komentar