Sabtu, 22 Februari 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Periksa 20 Saksi, Penyidik Kantongi Tiga Nama Pelaku Panah Wayer

Oleh Mufakris Goma , dalam Metropolis , pada Senin, 10 Februari 2020 Tag: ,
  Kurang lebih 20 orang remaja diamankan di ruang Pidum untuk dilakukan pemeriksaan oleh penyidik terkait dengan penembakan dengan menggunakan panah wayer (Foto Zulkifli Tampolo/ Hargo.co.id)

Hargo.co.id, GORONTALO – Kurang lebih 20 orang saksi diperiksa oleh penyidik Unit Pidum, Satuan Reskrim Polres Gorontalo Kota terkait dengan penembakan dengan menggunakan panah wayer, yang terjadi Minggu (09/02/2020) sekitar pukul 01.30 Wita.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, kurang lebih ada tiga nama pelaku yang didapatkan oleh penyidik. Ketiga nama tersebut diduga membawa panah wayer pada saat kejadian malam itu.

“Nanti setelah tiga orang itu kami amankan, baru bisa diketahui siapa yang melepaskan tembakan. Untuk sementara kami baru selesai memeriksa 20 orang yang terdiri dari 17 orang anak dibawah umur dan masih sekolah. Sedangkan tiga orang lainnya sudah berusia dewasa,” jelas Kapolres Gorontalo Kota, AKBP Desmont Harjendro Agitson Putra,SIK,MT yang disampaikan langsung oleh Kasat Reskrim AKP Deni Muhtamar,S.Sos,SH.

Ditambahkan pula, belum diketahui pasti apa motif dari penyerangan tersebut. Hanya saja, dari keterangan sejumlah saksi, ada sedikit persoalan dengan beberapa anak muda (Geng,red).

“Jadi pada malam itu, di Kelurahan Limba U1, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, ada sekelompok pemuda yang datang dan melakukan penyerangan dengan menggunakan panah wayer. Mereka diperkirakan mencapai 40-50 orang, dengan menggunakan sepeda motor dan saling berboncengan,” ujarnya.

Lanjut kata AKP Deni Muhtamar,S.Sos,SH, pihaknya mengharapkan agar para pelaku menyerahkan diri. Apalagi identitasnya sudah diketahui.

“Kami sudah mendatangi rumah para pelaku, namun pelaku tidak berada di rumah. Oleh karena itu, kami berharap agar menyerahkan diri, sehingga dapat diproses. Kalau tidak, maka pastinya akan ada tindakan atau langkah tegas dari aparat penegak hukum,” tegasnya.

Ditanyakan bagaimana dengan persoalan panah wayer yang kembali meresahkan masyarakat dan upaya tembak di tempat? Mantan Pasukan Khusus Sudan ini mengemukakan, sejauh ini aparat penegak hukum terus berupaya untuk melakukan operasi atau pun razia terkait dengan kepemilikan senjata tajam (Sajam). Meski demikian, hal ini bukan hanya tugas dari aparat penegak hukum. Artinya, semua elemen memiliki andil dalam memberantas kejahatan ini. Contohnya saja, pengawasan dari orang tua terhadap anak-anak mereka, hukuman atau vonis terhadap para pelaku panah wayer maupun kepemilikan Sajam, dan lain sebagainya.

“Kalau mereka diawasi oleh orang tua, Insyaallah tidak akan terjadi hal-hal seperti ini. Bahkan kalau para pelaku divonis dengan anaman hukuman yang berat, maka ini akan menjadi pembelajaran bagi para pelaku. Memang ancaman hukuman untuk Undang-Undang Darurat atau kepemilikan senjata tajam itu 10 tahun. Namun kalau hanya divonis rendah, maka itu tidak akan memberikan efek jera. Sebaliknya, karena para pelaku sudah pernah sebulan di dalam lembaga, maka mereka tidak menutup kemungkinan mengulangi perbuatannya, karena hanya merasa hukumannya hanya sebentar saja. Intinya, semua pihak memiliki peran penting untuk meminimalisir terjadinya tindakan kejahatan di daerah ini,” bebernya.

Terkait dengan tembak di tempat, hal tersebut kata AKP Deni Muhtamar, akan dilakukan. Hanya saja hal tersebut harus sesuai dengan proses atau protap. Contohnya saja, pelakunya sudah diketahui oleh Polisi, melakukan perlawanan yang membahayakan anggota Kepolisian dan lain sebagainya.

“Kami tidak bisa sembarangan melepaskan tembakan. Kalau yang kami tembak bukanlah pelaku? Siapa yang nanti akan disalahkan? Pasti Polisi lagi yang salah. Oleh karena itu, semuanya ada proses dan prosedur. Kami pada dasarnya mengikuti aturan hukum dan tidak semena-mena dalam menangani sebuah perkara,” pungkasnya. (kif/hg)