Kamis, 26 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Perkara Rampas Kamera Wartawan Oleh Oknum Polisi Itu Ternyata..

Oleh Fajriansyach , dalam Gorontalo Headline , pada Selasa, 30 Januari 2018 | 07:03 WITA Tag: , ,
  


Gorontalo, Hargo.co.id – Dugaan perampasan kamera yang dilakukan oleh oknum anggota Polres Gorontalo Kota pada saat melaksanakan liputan di seputaran bundaran Saronde, langsung ditindaklanjuti oleh Kapolres Gorontalo Kota, AKBP Yan Budi Jaya,SIK.

Kemarin, Senin (29/1), Kapolres Gorontalo Kota AKBP Yan Budi Jaya,SIK bersama Waka Polres Kompol Indra F. Dalimunthe, SIK didampingi perwira-perwira lainnya menemui belasan wartawan yang tergabung dalam beberapa organisasi. Mulai dari Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Dalam kesempatan itu, Helmi Rasid wartawan Radar Gorontalo mengatakan, terkait dengan insiden ini, pihaknya meminta agar tidak terjadi lagi dikemudian hari. Oleh karena itu, diharapkan tindak lanjut dari Kapolres Gorontalo Kota mengenai insiden ini. Hal serupa pula dikatakan wartawan Gorontalo Post, Zulkifli Tampolo.

Menurutnya, pada saat kejadian insidentil di lapangan, ID Card seorang jurnalis ada yang tidak terpasang atau tergantung dan ada pula yang lupa membawa. Oleh karena itu, dalam penindakan di lapangan, perlu dilakukan hal yang persuasif. “Kami berharap agar anggota tidak arogan ketika berada di lapangan, sehingga tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” harapnya.

BACA  Terjaring Operasi Yustisi, Warga Diminta Patuh Protokol Kesehatan

Sementara itu, Ketua IJTI Gorontalo, Azis Halid mengaku, memang ini bersifat kesalahpahaman. Meski demikian, kalau anggota di lapangan tidak arogan, maka hal-hal seperti ini tidak akan terjadi. Tentunya, persoalan ID Card pula bakal menjadi perhatian dari jurnalis-jurnalis di daerah.

“Semoga kejadian yang menimpa rekan kami Sumitro Igirisa tidak akan terulang kembali,” harapnya diaminkan seluruh wartawan yang hadir pada saat itu. Tak hanya itu saja, Sumitro Igirisa pula turut menjelaskan secara mendetil kejadian yang menimpanya dihadapan seluruh wartawan serta perwira Polres Gorontalo Kota. Disisi lain, oknum anggota yang diduga melakukan perampasan kamera, turut diundang guna mengklarifikasi kejadian tersebut.

Kapolres Gorontalo Kota, AKBP Yan Budi Jaya,SIK pada kesempatan itu mengatakan, atas kejadian ini pihaknya memohonkan maaf. Apa yang menjadi saran dan masukkan dari rekan-rekan wartawan bakal ditindaklanjuti. Persoalan yang terjadi di lapangan ini, dikarenakan miskomunikasi karena keduanya tidak saling kenal.

Dari pihak wartawan tidak mengenal anggota, begitu pula anggota Sabhara yang bertugas pada saat itu adalah anggota baru. “Kami pun berharap agar wartawan dibekali dengan ID Card sehingga insiden ini tidak akan terjadi lagi. Saya pun akan memerintahkan anggota agar tidak arogan maupun anarkis ketika berada di lapangan,” tegasnya.

BACA  Tradisi Walima di Gorontalo Tak Abaikan Protokol Kesehatan

Sementara itu, Wakapolres Gorontalo Kota, Kompol Indra F. Dalimunthe, SIK berharap agar hubungan baik antara rekan-rekan jurnalis dengan aparat Kepolisian bisa terjalin terus.

Tak bisa dipungkiri, wartawan membutuhkan Polisi. Begitu pula sebaliknya, Polisi membutuhkan wartawan. “Apalagi saat ini memasuki suasana Pilwako. Oleh karena itu, kami berharap agar persoalan ini tidak merembes pada hubungan kerja kedepannya, karena kita saling membutuhkan,” harapnya. Usai bersilaturrahmi dengan Kapolres beserta jajaran, wartawan pun saling berjabatan tangan dan oknum anggota Sabhara kemudian meminta maaf kepada wartawan.

Hal senada juga diungkapkan Kabid Humas Polda Gorontalo, AKBP Wahyu Tri Cahyono SIK. Dia menegaskan bahwa tidak ada maksud untuk merampas kamera wartawan televisi saat meliput yang dilakukan oleh oknum anggota Polres Gorontalo Kota pada saat patroli dan pembubaran aksi balapan liar.

“Ini hanya kesalahpahaman,” tegas Wahyu, kemarin. Wahyu pun mengungkapkan kronologisnya bahwa saat kejadian, tepatnya Ahad (28/1) malam, kepolisian mendapat informasi keluhan masyarakat mengenai balap liar.

Menanggapi laporan ini, pihaknya langsung merespon dengan menurunkan sejumlah anggota Sabhara Polres Gorontalo Kota ke lokasi kejadian untuk melakukan penertiban terhadap aksi yang seringkali meresahkan warga Kota Gorontalo itu.

BACA  Satgas Covid-19 Tegur Pengelola XXI Gorontalo

Namun, saat tengah bertugas, personil Sabhara yang tengah bertugas melihat salah seorang warga yang tengah mengambil gambar melalui video rekaman. Anggota polisi pun langsung mencegah salah seorang warga itu tanpa tahu bahwa orang yang dikira warga itu adalah seorang wartawan.

“Harus ada izin atau pemberitahuan dulu kepada pimpinan operasi jika ingin mengambil gambar,” jelas Wahyu. Diduga, dari sinilah kemudian terjadi kesalahpahaman antara keduanya. Karena, menurut Wahyu, wartawan yang belakangan diketahui bernama Sumitro, wartawan Mimoza TV itu, merupakan wartawan yang baru saja pindah tugas dari Kabupaten Boalemo dan tidak dikenal oleh para anggota Sabhara.

“Saya mengharapkan kepada rekan-rekan media agar setiap kegiatan peliputan mohon bisa berkoordinasi dengan pimpinan operasi untuk menghindari hal-hal yang demikian.

Hal itu juga kan sudah diatur dalam kode etik jurnalis dimana agar menunjukkan identitas wartawan serta menghormati hak privasi,” kata Wahyu. Untuk tindak lanjutnya sendiri, menurut Wahyu, pihaknya sudah memanggil wartawan tersebut untuk diselesaikan kesalahpahaman tersebut.(kif/tr-45)


Komentar