Kamis, 2 Februari 2023
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Perpeloncoan Siswa Baru Diharamkan, Alumni-Senior Tidak Boleh Terlibat MOS

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Rabu, 12 Juli 2017 | 14:53 Tag: , , , ,
  

GORONTALO Hargo.co.id –  Masa Orientasi Siswa Baru (MOS) tahun ajaran 2017/2018 empat hari lagi akan dimulai. Sejalan hal itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) kembali mengeluarkan peringatan tegas. Jangan sampai terjadi perpeloncoan selama masa orientasi siswa baru. Diharapkan kegiatan tersebut diisi dengan pengenalan lingkungan sekolah (PLS).

Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Kemendikbud Hamid Muhammad mengatakan, kegiatan PLS pun harus ditangani oleh guru. Dan, dilarang melibatkan alumni maupun senior. “Jika personel gurunya tidak cukup, baru boleh melibatkan kakak kelas,’’ katanya di kantor Kemendikbud kemarin (11/7).

banner 728x485

Dengan catatan, kakak kelas yang menjadi panitia PLS harus memenuhi sejumlah kriteria. Di antaranya tidak memiliki kecenderungan atau rekam jejak melakukan kekerasan. Kemudian harus memiliki prestasi akademik dengan bukti yang dimiliki sekolah.

Upaya lain untuk menghindari perpeloncoan adalah, selama proses PLS pakaian yang digunakan siswa tidak boleh aneh-aneh. Termasuk atribut yang harus dibawa, juga tidak boleh aneh-aneh dan cenderung membuat malu siswa baru. Hamid mengatakan selama masa PLS, sebaiknya siswa baru menggunakan seragam resmi dari sekolah.’’Tugas-tugas yang tidak relevan dengan aktivitas pembelajaran juga dilarang,’’ katanya.

Kegiatan PLS yang ditetapkan maksimal tiga hari dan harus diawasi oleh Kepala Sekolah. Menurut Hamid, kepala sekolah memiliki tanggung jawab mutlak. Dia berharap dinas pendidikan setempat ikut aktif mengawasi proses PLS di daerah masing-masing.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) melansir maklumat persiapan tahun ajaran baru 2017-2018. Ketua KPAI Asorun Ni’am Sholeh mengatakan, sekolah harus bisa menjamin pelaksanaan masa orientasi berjalan baik. ’’PLS benar-benar digunakan untuk mengenal lingkungan sekolah, guru, teman-teman, sumber belajar, dan kesepakan-kesepakan atau aturan-aturan sekolah,’’ katanya.

Asrorun mengatakan jangan sampai terjadi praktik perpeloncoan atau perundungan. Praktik negatif lain yang rentan terjadi saat masa orientasi seperti kekerasan fisik, kekerasan psikologi, eksploitasi, dan diskriminasi jangan sampai terjadi.

Dia berpesan, sebaiknya orang tua siswa baru, atau yang baru naik jenjang, ikut mengantar hingga ke dalam sekolah. Melihat langsung kegiatan masa orientasi yang sedang berlangsung. Kemudian juga menjalin komunikasi dengan guru maupun orangtua murid lainnya.

Sementara itu memasuki pelaksanaan MOS, sejumlah sekolah di Gorontalo mulai melaksanakan pra MOS. Seperti pantauan Gorontalo Post di SMA Negeri 3 Gorontalo. Para siswa siswi yang telah lulus melalui tahapan seleksi online sampai kelengkapan berkas, kini tengah menjalani proses orientasi kepada siswa siswi yang lulus tes tersebut.

Kepala Bidang Kesiswaan SMA N 3 Gorontalo Saleh. Spd mengungkapkan, kegiatan masa orientasi siswa (MOS) yang tengah berlangsung ditujukan untuk meningkatkan kepribadian siswa siswi baru yang akan menjenjang pendidikan di tingkat SMA.

“Kegiatan dilakukan guna membangun karakter calon siswa baru baik dari segi peningkatan kepribadian, pihaknya juga akan mengasa para pelajar tersebut untuk bisa berlatih baris berbaris,” ujarnya.(JPG/tr-54/hargo)

 

(Visited 9 times, 1 visits today)

Komentar