Rabu, 20 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Pesona Indonesia Membius Pameran Industri Kreatif Legendaris INACRAFT 2017

Oleh Fajriansyach , dalam Kabar Nusantara , pada Jumat, 28 April 2017 | 16:16 WITA Tag: , ,
  


Hargo.co.id JAKARTA – Agenda seminar bertema “Identity of Traditional Craft  & Local WIsdom, In Modern Lifestyle yang digelar Kementerian Pariwisata di INACRAFT 2017 langsung menghentak. Wirausahawan, UKM, anggota AHPADA, BPD/BPC ASEPHI, pekerja seni, pengamat handicraft hingga akademisi, semua diajak bergotong royong membangun pariwisata.
“Iya, semua kami ajak sama-sama membangun pariwisata. Handicraft domainnya memang ada di Kementerian KUKM. Tapi saat sudah mulai dipamerkan, dikomersialisasi, dan dipromosikan untuk memperkuat destinasi wisata, sudah menjadi tugas dan wilayah Kemenpar.
Dua-duanya harus saling support karena pariwisata menjadi core business Indonesia,” kata Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenpar, Esthy Reko Astuti, Kamis (28/4).
Dan kebetulan, kata kunci pariwisata adalah penyumbang PDB, Devisa dan lapangan kerja yang paling mudah, murah dan cepat.
PDB  pariwisata menyumbangkan 10% PDB nasional, dengan nominal tertinggi di ASEAN. Kedua, PDB pariwisata nasional tumbuh 4,8% dengan trend naik sampai 6,9%, jauh lebih tinggi daripada industri agrikultur, manufaktur otomotif dan pertambangan.
Ketiga, devisa pariwisata USD 1 Juta, menghasilkan PDB USD 1,7 Juta atau 170%. Itu terbilang tertinggi dibanding industri lainnya.
Bahkan sampai urusan tenaga kerja, sektor Pariwisata juga terlihat sangat oke. Saat ini sumbangsihnya menyumbang 9,8 juta lapangan pekerjaan, atau sebesar 8,4% secara nasional dan menempati urutan ke-4 dari seluruh sektor industri. Dalam penciptaan lapangan kerja, sektor pariwisata tumbuh 30% dalam waktu 5 tahun.
“Itu sebabnya semua lini kami ajak bergotong royong membangun pariwisata. Pak menteri sering menyebutnya sebagai Indonesia Incorporated,” ungkapnya.
Tanggapan peserta seminar? Sangat positif. Muhammad Romi Oktabirawa misalnya. Pengrajin sekaligus pengusaha batik tulis asal Pekalongan itu mengaku siap membangun pariwisata lewat usaha batiknya.
“Batik itu punya literasi cerita-cerita budaya, kisah atau mitos pembuatannya. Ini yang akan kami bangun. Kekuatannya ada di story telling. Ini bisa jadi senjata pamungkas bila dikolaborasikan dengan pariwisata,” ungkapnya.
Romi menilai story line itu penting sebagai content materi promosi. Banyak contoh destinasi yang awalnya bukan apa-apa, tidak banyak dikenal, tetapi tiba-tiba meldak setelah dieksplorasi dan dibuat ceritanya dengan baik.
“Bali dengan ciri khas budaya dalam wisatanya, Belitung dengan Laskar Pelangi, New Zealand dengan Lord of The Ringnya, Jeju Island Korea dengan ceritanya, semua bisa dikenal karena punya story telling yang kuat. Ini yang ingin saya bangun di Pekalongan,” jelas dia.
Okke Rajasa juga sama. Istri mantan Menko Perekonomian Hatta Rajasa itu mengaku siap mendukung mendukung pariwisata Indonesia lewat Citra Tenun Indonesia (CTI). “Pariwisata pasti kami support.
Tenun tradisional Indonesia yang dipadu padankan dengan kain batik punya nilai ekonomis yang tinggi dan banyak diminati oleh berbagai kalangan, termasuk wisatawan,” ungkapnya.
Menpar Arief Yahya ikut mengapresiasi dukungan berbagai kalangan tadi. Indonesia, menurut dia kuat fashion batiknya, tangguh di handicraftnya.
Dan hal itu, sudah diperkenalkan melalui festival dan carnaval yang sudah punya karakter, seperti Jember sebagai pionir dan Banyuwangi dengan ethno-nya. “Industri batik dan handicraft adalah industri kreatif yang sudah lama hidup dan berkembang di Indonesia,” kata Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI.
Arief Yahya mengingatkan agar promosinya dilakukan dengan baik dan lebih gencar, agar bisa mengundang wisatawan mancanegara dan nusantara.
“Kalau perlu dorong INACRAFT ke level Asia, bahkan dunia. Skalanya dibuat global agar bisa mengundang wisatawan mancanegara dan nusantara,” sebut Arief Yahya. (hg)
BACA  Kurang dari Semenit, SJ182 Anjlok di Ketinggian 10 Ribu Kaki

Komentar