Pilkada 2020, Panggung Para Politisi Milenial

Hargo.co.id, GORONTALO – Regenerasi dalam dunia politik sudah terjadi. Tak hanya di kancah nasional tapi juga skala lokal. Momentum politik dalam beberapa tahun terakhir telah menghasilkan politisi-politisi muda yang berhasil duduk dalam kursi pimpinan eksekutif dan legislatif.

Pilwako 2018 menjadi salah satu contoh terjadinya regenerasi itu. Politisi muda Golkar, Ryan Kono, berhasil terpilih menjadi Wakil Walikota Gorontalo diusianya yang baru menginjak 32 tahun. Regenerasi ini terus berlanjut di momentum Pileg 2019. Politisi muda yang berada dalam batas usia generasi milenial, kembali mendapatkan kepercayaan rakyat.

Di DPR-RI, Hilary Brigita Lasut, Srikandi Nasdem dari Sulut menjadi salah satu wakil para generasi milenial di DPR-RI. Hilary menjadi anggota DPR-RI termuda yang duduk di Senayan.

Pileg 2019 juga menghasilkan wakil milenial di DPRD Provinsi Gorontalo. Indri Monoarfa, anggota DPRD perempuan dari Partai Nasdem dapil Gorut, menjadi anggota Dewan termuda dengan usia 23 tahun.

Pew Research Center telah mengkategorikan batas usia generasi milenial. Bahwa yang lahir antara tahun 1981 dan 1996 atau berusia 22 sampai 37 tahun pada 2018, masuk dalam generasi milenial.

Pada momentum Pilkada 2020, regenerasi itu masih berpotensi berlanjut. Seiring adanya dorongan para kaum muda yang masuk dalam rentang usia generasi milenial, untuk ikut Pilkada.

Misalnya dorongan untuk Alham Prasogo Habibie ikut Pilkada. Entah di Pilkada Kabupaten Gorontalo atau Pilkada Pohuwato. Walau belum ada sikap resmi, tapi dorongan terhadap putra sulung Ketua DPD I Golkar yang juga Gubernur Gorontalo Rusli Habibie itu, makin kuat. Belakangan, dorongan terhadap Alham Habibie yang masih berusia di bawah 30 tahun itu makin kuat ke Pilkada Pohuwato.

Kepada wartawan belum lama ini, Alham mengatakan, sudah saatnya yang muda terlibat dalam politik, ia mengambil contoh Ryan Kono, yang sukses merebut kursi Wakil Walikota Gorontalo.

Dorongan yang sama juga diarahkan untuk Erwinsyah Ismail. Politisi muda Demokrat yang berhasil terpilih di DPRD Provinsi Gorontalo pada Pileg 2019. Erwinsyah di dorong untuk ikut Pilkada Kabupaten Gorontalo atau Pilkada Pohuwato.

Dorongan ini disampaikan salah satu wakil Ketua DPD Demokrat Gorontalo, Arifin Djakani, yang sama-sama dengan Erwinsyah Ismail, duduk di DPRD Provinsi.

Erwinsyah Ismail yang juga masih berada dalam batas umur generasi milenial itu dipandang layak untuk ikut Pilkada Kabupaten Gorontalo. Karena putra mantan Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail yang juga Ketua DPD Demokrat Gorontalo itu, memiliki basis massa di Kabupaten Gorontalo. Utamanya basis masa keluarga.

“Keluarga besar Erwinsyah Ismail itu dari Telaga cs, Limboto cs Batudaa cs hingga Boliyohuto cs. Ini bisa jadi modal ke Pilkada. Nanti akan ditopang nama besar sang ayah sebagai mantan Gubernur dan tokoh Gorontalo,” ujarnya.

Begitupun kalau ikut Pilkada Pohuwato. Menurut Arifin, Erwinsyah Ismail juga memiliki modal basis dukungan dari wilayah Popayato Cs.

“Dari aspek dukungan partai juga ada modal politik. Di Kabgor, Demokrat punya 4 kursi. Di Pohuwato ada dua kursi. Makanya saya mendorong Erwin untuk ikut Pilkada tahun depan. Apakah ke Kabgor atau Pohuwato,” jelasnya.

Arifin mengatakan, dorongan ini ia berikan karena belakangan ini mulai ada kecenderungan pemilih untuk menggandrungi calon pemimpin yang muda dan fresh.

“Mungkin ini eranya para generasi milenial. Makanya momentum ini harus dimanfaatkan. Apalagi elektabilitas Erwin sudah teruji di Pileg 2019. Dia bergerak tanpa embel-embel nama besar sang ayah (Gusnar Ismail.red),” ujar Arifin Djakani.

Figur-figur yang mewakili generasi milenial masih cukup banyak. DanĀ punya potensi yang sama. Misalnya, politisi muda Golkar Pohuwato Iqram Bahari Akbar Baderan, yang berhasil terpilih duduk di DPRD Pohuwato pada Pileg 2019 diusianya yang baru 25 tahun. Iqram punya potensi untuk didorong ke Pilkada Pohuwato karena selain sudah teruji di Pileg, dia juga bisa membawa nama besar sang ayah mantu. Yaitu Bupati Pohuwato Syarif Mbuinga yang juga Ketua DPD II Golkar Pohuwato.

Masih ada dua nama lain dari generasi milenial yang bisa didorong. Yaitu Ghalib Lahidjun dan Pedro Bau. Walau masih muda, berusia 34 tahun, tapi Ghalib sudah punya nama besar dalam kancah politik Gorontalo. Buktinya dia mendapatkan kepercayaan menjadi Ketua bidang OKK DPD I Golkar Gorontalo.

Tak heran, Ghalib sempat didorong ikut Pilkada Kabupaten Gorontalo. Belakangan, ketua KNPI Provinsi Gorontalo ini didorong bertarung pada Pilkada Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara, yang juga berhajat Pilkada tahun 2020.

Ghalib punya kans menuju Pilkada Bolsel, sebab ia berasal dari Molibagu, ibukota Bolsel. Masa kecil aktivis HMI ini dihabiskan di daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Bone Bolango itu. Potensi Ghalib ‘bertarung’ di Bolsel makin besar, setelah Rusli Habibie memberi lampu hijau.

Hal yang sama juga berlaku dengan Zainudin Pedro Bau. Yang meski masih berada dalam batas umur generasi milenial, tapi sudah mendapatkan kepercayaan besar menjadi Ketua DPD II Golkar Bone Bolango. Dan sekarang ini duduk di kursi Wakil ketua DPRD Bone Bolango.

Desakan agar Golkar tampil pada Pilkada Bone Bolango, menjadi PR bagi Pedro, untuk bisa ambil bagian dalam helatan pesta rakyat lima tahunan itu. Karenanya, tak heran bila Pedro Bau dinilai layak untuk ikut Pilkada Kabupaten Bone Bolango menjadi jagoan Golkar di Pilkada. (gp/hg)

-