Sabtu, 8 Agustus 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Pilwako 2018! Baliho Marten Menjamur, Penantang Masih ‘Tiarap’

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo , pada Rabu, 7 Juni 2017 | 13:12 WITA Tag: , , , , ,
  


GORONTALO Hargo.co.id – Para penantang figur petahana di Pilkada, wajarnya harus bekerja lebih keras untuk menaikkan elektabilitas di masyarakat. Caranya dengan menggencarkan sosialisasi melalui berbagai media. Bisa lewat media masa, baliho, atau intens turun ke masyarakat untuk mensosialisasikan diri. Ibaratnya para penantang harus bekerja dua kali lipat dari petahana. Kerja lebih ekstra diperlukan mengingat figur petahana diakui sudah mengantongi modal popularitas dan elektabilitas dibanding para kandidat lain.

Tapi langkah yang lazimnya harus dilakukan oleh penantang petahana, sejauh ini belum terlihat pada pemilihan walikota-wakil walikota (Pilwako) Gorontalo 2018. Justru yang terjadi sebaliknya. Walikota Gorontalo Marten Taha yang menjadi petahana malah terlihat lebih intens melakukan sosialisasi ke masyarakat.

Salah satu indikatornya adalah sosialisasi melalui perangkat baliho. Dihampir sejumlah titik strategis pada beberapa ruas jalan utama di Kota Gorontalo, baliho sosialisasi pencalonan Marten Taha telah terpajang. Sementara baliho para calon penantang Marten Taha yang sejauh ini telah menyatakan keinginannya untuk ikut Pilwako, nyaris belum terlihat atau bisa menyamai jumlah baliho sosialisasi Marten Taha.

BACA  Pemprov Gorontalo Segera Siapkan Sanksi Bagi Pelanggar Protokol Kesehatan

Padahal, saat yang tepat bagi penantang Marten Taha untuk jor-joran melakukan sosialisasi melalui berbagai intrumen sosialisasi adalah sekarang ini. Saat tahapan pilkada belum dimulai. Karena kalau sudah berada dalam tahapan kampanye, para calon sudah akan terikat dengan aturan kampanye. Salah satunya adalah pembatasan kampanye. Karena nanti beberapa item kegiatan sosialisasi seperti iklan di media masa dan baliho sudah akan dibiayai oleh KPU seperti yang terjadi saat Pilkada 2017 dan 2015 silam.

BACA  Demokrat Merapat, Koalisi Besar Siap Usung Hamim Pou

Pengamat politik dari Universita Gorontalo Ferdi Gani mengatakan, situasi itu bisa dipengaruhi oleh pengalaman pilkada selama ini. Yaitu sosialisasi tidak menjadi faktor dominan yang menentukan seorang bisa terterima dan diingat oleh masyarakat. “Karena buktinya memang disaat pemilihan nanti masyarakat memilih bukan karena seberapa banyak dirinya sosialisasi dengan media seperti baliho, tetapi kedekatan secara intens dengan warga itu yang lebih efektif untuk menarik simpati warga,” jelas Ferdi.

Ferdi menambahkan, saat ini memang banyak model pendekatan dan sosialisasi yang dilakukan, baik dengan menggunakan baliho bahkan pendekatan dengan program seperti yang dilakukan oleh Adhan Dambea melalui kegiatan tadarus Alquran yang memang sudah dilaksanakan sejak lama dan kini kembali mulai digalakkan. “Kedekatan seperti itu pun merupakan salah satu cara efektif jika ingin maju sebagai calon walikota,” jelas Ferdi.

BACA  Hadapi Bencana, Ini Anjuran Wagub Gorontalo

Ferdi menyarankan bagi calon yang ingin maju dalam pilwako seharusnya sudah mulai saat ini sudah bisa melakukan sosialisasi menyatakan diri siap maju sebagai calon walikota, bahkan dimomentum ramadhan seperti saat ini seharusnya merupakan salah satu jalan mendekatkan diri dengan warga, bukan saja lewat baliho tetapi juga dengan buka puasa bersama atau bisa jadi sahur bersama warga.

“Ini untuk mendekatkan diri dengan warga, karena calon baru berbeda dengan calon incumbent yang memang tak membutuhkan kerja ekstra, karena calon incumbent sudah menunjukkan kinerjanya selama lima tahun kemarin dan tinggal melanjutkan, sementara calon baru seharusnya lebih banyak bersosialisasi dengan warga untuk menarik simpati warga,” tandasnya. (rmb/wie/hargo)


Komentar