Kamis, 26 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Pilwako Ajang Balas Dendam, Non Golkar Bisa Bangun Koalisi Besar

Oleh Berita Hargo , dalam Gorontalo Headline , pada Rabu, 17 Mei 2017 | 11:45 WITA Tag: , , , ,
  


GORONTALO Hargo.co.id – Hanya dua partai di Gorontalo yang bisa menikmati kemenangan pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2017. Yaitu Partai Golkar dan Demokrat. Karena koalisi dua partai ini berhasil mengantarkan kemenangan bagi pasangan Rusli Habibie-Idris Rahim pada pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur Gorontalo. Sementara partai-partai lain semisal koalisi PDIP, PPP, Gerindra serta PKB dan koalisi PAN, Hanura dan PKS masih harus mengelus dadanya. Karena pasangan calon yang diusung ke Pilgub mengalami kekalahan.

Untuk menutupi kekalahan di Pilgub, partai-partai non Golkar sesungguhnya punya kans di pemilihan Bupati-Wakil Bupati Boalemo. Karena seluruh partai pengoleksi kursi di DPRD Boalemo telah menyatu membentuk koalisi mengusung pasangan petahana Rum Pagau-Lahmudin Hambali yang sangat diunggulkan. Tapi apa daya, sebelum hasrat politik itu terwujud, pasangan petahana itu dicoret dari pencalonan.

Karena itu, hajatan pilkada 2018 tahun depan yaitu pemilihan Walikota-Wakil Walikota (Pilwako) Gorontalo dan Pemilihan Bupati-Wakil Bupati (Pilbup) Gorontalo Utara (Gorut), bisa menjadi ajang ‘balas dendam’ bagi parpol non Golkar. “Potensi untuk membalas kekalahan di Pilkada 2017 sangat terbuka,” ungkap salah satu pemerhati politik di Kota Gorontalo Mikson Yapanto.

BACA  Pandemi Covid-19 Berdampak pada Sektor Pembangunan

Apalagi lanjut Mikson, saat ini telah beredar kabar di kalangan politisi bahwa ada upaya untuk menyatukan dua koalisi di Pilgub. Yaitu koalisi yang mengusung pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Hana Hasanah-Toni Junus (HATI) yaitu PPP, PDIP, Gerindra dan PKB. Serta koalisi yang mengusung calon Gubernur-Wakil Gubernur Zainudin Hasan-Adhan Dambea (ZIHAD) yaitu PAN, PKS, dan Hanura. “Kabar yang sudah beredar seperti itu. Jadi dua koalisi Pilgub itu sedang dijajaki untuk bisa menyatu di Pilwako ditambah PBB. Kabarnya para petinggi partai sudah bertemu di Jakarta,” ungkapnya.

Menurut Mikson, melihat komposisi parpol dalam koalisi itu maka besar kemungkinan figur calon papan satu yang akan diusung adalah Wakil Walikota Budi Doku. Mikson beralasan, Ketua DPD Hanura Adhan Dambea sebelumnya telah menawarkan posisi calon papan satu ke Budi Doku. “Bisa jadi tawaran Hanura itu akan didukung oleh partai lain. Karena Budi Doku menjadi salah satu figur calon papan satu yang diunggulkan,” ungkapnya.

BACA  Turun ke Pasar, Polsek Tapa Gencar Sosialisasikan Protokol Kesehatan

Bila koalisi ini lahir maka menurut Mikson, ini bisa menjadi ancaman serius bagi Golkar. Karena kekuatan pasangan petahana akan terpecah. Selain itu, Golkar hanya memiliki satu pilihan partner koalisi yaitu partai Demokrat. “Jadi kekuatan petahana bisa pecah. Dan ini akan menaikkan posisi tawar Demokrat.

Maka Golkar yang akan mengusung Marten harus menerima tawaran Demokrat kalau tidak ingin Demokrat bergabung ke koalisi besar,” ujar Mikson menganalisa kemungkinan politik yang bisa terjadi. “Kalau Demokrat bergabung dengan koalisi besar, maka kemungkinan terburuk yang bisa dihadapi Marten adalah ikut Pilwako dengan maju lewat independen. Karena Golkar tak bisa mengusung pasangan calon,” jelasnya.

Bagaimana kalau Marten Taha dan Budi Doku tetap berpasangan? menurut Mikson, koalisi besar masih punya alternatif calon yaitu Rum Pagau yang nanti akan diduetkan dengan Loly Junus. Menurut Mikson, pengalaman Rum Pagau menyatukan semua parpol di pilbup Boalemo menjadi salah satu indikator bahwa kader Golkar itu akan terterima di partai-partai yang tergabung dalam koalisi besar.

BACA  Dipastikan Aman, Uji Klinis Vaksin Covid-19 Masuk Tahap Akhir

“Kabar yang saya dengar, Rum Pagau ingin berpasangan dengan Loly Junus. Dan ini bisa juga diterima oleh koalisi. Karena Loly Junus merepresentasikan figur Feriyanto Mayulu yang pernah menjadi Wakil Walikota Gorontalo,” ungkapnya.

Sehingga bila Marten Taha-Budi Doku berpasangan lalu berhadapan dengan Rum Pagau-Loly Junus maka ini akan mengembalikan memori pertarungan Pilwako 2013. Tapi menurut Mikson, kekuatan yang dihadapi Marten Taha-Budi Doku akan lebih besar lagi. “Karena dibalik koalisi besar ada dua tokoh yang menjadi lawan Marten di Pilwako 2013 lalu yaitu Adhan Dambea dan Feriyanto Mayulu yang bakal menyatu,” sambung Mikson Yapanto. (rmb/hargo)


Komentar