Jumat, 14 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



PKS Ingatkan Pemerintah soal Efek Bonus Demografi

Oleh Aslan , dalam Kabar Nusantara , pada Senin, 7 Agustus 2017 | 07:00 WITA Tag: ,
  


hargo.co.id – Sebuah momentum strategis yang saat ini tengah dihadapi bangsa adalah bonus demografi, di mana jumlah penduduk yang berusia produktif (kisaran usia 15-64 tahun) lebih besar jumlahnya daripada penduduk dengan usia non produktif.

Terjadinya penurunan angka fertilitas dan murtilitas yang terus-menerus memicu turunnya rasio ketergantungan (depedency ratio).

Bonus demografi yang sebetulnya sudah berlangsung secara bertahap sejak tahun 2012 hingga tahun 2035, akan mencapai puncaknya tahun 2028 – 2031.

Demikian disampaikan Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) DPP PKS, Wirianingsih disela-sela acara Gerakan Jumat Berkah, dalam rangka Memaknai Hari Keluarga Nasional dan Hari Anak Nasional 2017.

BACA  Positif Covid-19, Ustaz Tengku Zulkarnain Meninggal Dunia

Wirianingsih mengungkapkan, pada tahun tersebut diperkirakan jumlah penduduk berusia produktif sebanyak 180 juta orang dan yang berusia non produktif sebanyak 60 juta orang.

“Dalam waktu yang kurang dari satu dasawarsa kita harus menyiapkan agar momentum bonus demografi ini menjadi berkah bagi Indonesia, ialah ketika penduduk yang berusia produktif itu memiliki kualitas yang unggul,” ujarnya di halaman kantor DPD PKS Kabupaten Bogor, Minggu (6/8).

Wirianingsih melanjutkan,  fenomena ini harus disikapi serius demi menuju pada keunggulan SDM pada saat-saat puncak bonus demografi.Salah satunya soal kualitas SDM. Kondisi saat ini menunjukan bahwa Indonesia belum memiliki kekuatan kompetitif yang memadai.

BACA  Kembali Berulah, Kelompok Teroris di Papua Bakar Rumah Warga Hingga Tembaki Mapolsek Ilaga

Berdasarkan tingkat pendidikan, lanjut dia, 70% SDM Indonesia baru memiliki jenjang pendidikan dasar, sementara yang memiliki pendidikan menengah sebanyak 22,40 persen, dan yang berpendidikan perguruan tinggi sebanyak 7,20 persen.

“Sekedar perbandingan dengan jiran kita Malaysia, yang tenaga kerjanya memiliki tingkat pendidikan menengah sebesar 56,30%, pendidikan dasar 24,30%, dan 20,30% pendidikan tinggi,” jelas dia.

Dia melanjutkan, hal lain yang memengaruhi kualitas SDM bangsa adalah kekhasan anak-anak  sebagai generasi digital native.

Generasi yang lahir di era digital, era dunia yang ‘terkompresi’ dalam sebuah gawai (gadget) dan nyaris terhubung sepanjang waktu.Jarak geografis dan perbedaan jam bukan lagi menjadi kendala komunikasi dan interaksi segenap warga planet bumi.

BACA  DPR Soroti Overkapasitas Awak Kapal KRI Nanggala-402

“Generasi digital native yang kerap dijuluki sebagai generasi ‘beta’ memiliki kekhasan yang cukup signifikan perbedaannya dengan generasi sebelumnya,” jelas perempuan berhijab ini.

Hal senada diungkapkan Presiden PKS, Sohibul Iman. Sohibul menjelaskan bahwa generasi ‘beta’ ini memiliki ciri-ciri menonjol yang disebutkan sebagai ‘3C’.

“Creative, Connected, dan Collaborative. Tantangannya di sini adalah relevansi, ketersambungan-kesepahaman, antara generasi sebelumnya dengan para pemuda digital native, sehingga terjadi alih nilai-visi-misi secara baik dalam perjalanan Indonesia,” pungkas dia

(mam/JPC/hg)


Komentar