Minggu, 27 November 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Polda Sayangkan Aksi Provokasi Penguasaan SPBU saat Demo Kenaikan BBM

Oleh Admin Hargo , dalam Kabar Nusantara , pada Rabu, 7 September 2022 | 04:05 Tag: , , , , ,
  Anggota polisi yang harus mendapatkan perawatan medis usai mengamankan aksi demo kenaikan BBM, Selasa (6/9/2022). (Foto: Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Aksi unjuk rasa mahasiswa di Gorontalo yang tergabung dalam Aliansi Merah Putih dengan tuntutan menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) sempat diwarnai kericuhan. Pemicunya adalah adanya provokasi dari orator yang menyuruh mahasiswa bergerak ke Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SBPU), yang letaknya tak jauh dari bundaran Saronde/Hulonthalo Indah (HI) dengan tujuan menguasai SPBU, Selasa (6/9/2022).

Kabid Humas Polda Gorontalo Kombes Pol Wahyu Tri Cahyono,SIK dalam keterangannya menyayangkan insiden itu terjadi.

“Kami sangat menyayangkan hal itu bisa terjadi, menyampaikan pendapat di muka umum itu boleh tapi laksanakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, jaga ketertiban, jangan anarkhis, tapi apa yang terjadi si orator justru memprovokasi massa untuk menguasai SPBU, bahkan saat dicegah ada salah satu oknum mahasiswa yang menyerang petugas dengan menggunakan tongkat bendera yang dibawanya, guna mencegah dampak yang lebih besar dengan terpaksa kami melakukan tindakan tegas dengan mengamankan beberapa provokator dalam aksi unras tersebut,” ujar Wahyu.

Wahyu mengatakan, keberadaan Polri dalam pengamanan unjuk rasa itu untuk melindungi mereka yang melakukan aksi unras dan juga melindungi orang lain yang terkena dampak dari kegiatan Unras tersebut.

“Disitu ada SPBU sangat rentan terjadi kebakaran, sehingga harus kita amankan agar tidak menjadi sasaran massa aksi, dan kami punya prosedur dalam pengamanan unjuk rasa sesuai Peraturan Kapolri Nomor 1 Tahun 2009 tentang penggunaan kekuatan dalam tindakan kepolisian, ada enam tahapan mulai dari kehadiran petugas sebagai wujud pencegahan, tahap peringatan, tahap kendali tangan kosong lunak, tahap kendali tangan kosong keras, tahap kendali menggunakan senjata tumpul, senjata kimia dan jika eskalasi meningkat dan bisa membahayakan nyawa petugas dan masyarakat tahap selanjutnya bisa menggunakan senjata api , dan tahap yang kami lakukan kemarin yaitu pengendalian dengan tangan kosong keras,” tegasnya.

Sejauh ini sesuai hasil pengecekan di beberapa rumah sakit kata Wahyu melanjutkan hanya satu anggota Polri yang terluka dan dirawat dirumah sakit Bhayangkara Polda Gorontalo.

“Sejauh ini belum ada laporan dari massa aksi yang terluka kami sudah cek ke beberapa rumah sakit dan belum ada laporan dari massa aksi yang dirawat, justru dari anggota kami yakni Bripda Mohammad Fernanda Kasim yang harus dilarikan ke rumah sakit Bhayangkara dan dirawat karena mengalami cidera kepala bagian belakang akibat benturan benda tumpul sehingga yang bersangkutan pingsan dan mengalami kejang-kejang,” kata Wahyu.

Wahyu mengimbau agar insiden ini tidak terulang kembali.

“Mari kita jaga sama-sama daerah kita, silakan unjuk rasa tapi jangan anarkhis, kami Polda dan Polres jajaran siap memberikan pelayanan mengawal dan mengamankan, kami bukan musuh, keberadaan kami untuk melindungi semuanya,” tutur Wahyu.(*)

Rilis: Humas Polda Gorontalo

(Visited 64 times, 1 visits today)

Komentar