Sabtu, 17 April 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Potang Balimau, Tradisi Sambut Ramadan nan Tiada Matinya

Oleh Aslan , dalam Kabar Nusantara , pada Sabtu, 27 Mei 2017 | 02:00 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id – Beragam cara yang dilakukan masyarakat ataupun kaum muslim dalam menyambut bulan Ramadan tiba. Di Pangkalan Koto Baru, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar) mengenal tradisi Potang Balimau untuk menyambut bulan suci tersebut.

Potang balimau adalah tradisi mandi-mandi bersama di Batang (Sungai) Maek yang dilakukan warga sehari sebelum kedatangan bulan suci Ramadan.  ”Tradisi ini sudah turun-temurun kawi warisi,” kata Imru Datuak Pandukak sebagaimana yang dilansir Padang Ekspres (Jawa Pos Group), Sabtu (27/5).

Menurut Pandukak, potang balimau bagi warga Pangkalan dan sekitarnya merupakan tradisi yang tidak ada matinya. ”Sejak kami kecil-kecil dulu, potang balimau sudah ada juga. Apapun yang terjadi, baik sedang susah, sedang ada duit, warga Pangkalan, biasanya akan tetap berkumpul saat potang balimau. Bahkan banyak juga yang pulang kampung,” tukuk Pandukak.

BACA  Diduga Bom Bunuh Diri, Meledak di Depan Gereja Katedral Makassar

Seorang cerdik-cendikia di Pangkalan bernama Arfel Muchtar pernah mengatakan potang balimau di Pangkalan memiliki sejarah yang panjang.

Konon, dahulu kala saudagar-saudara dari Pangkalan Koto Baru menjadikan Batang Maek sebagai jalur bisnis mereka. Menelusuri Batang Maek, para saudagar asal Pangkalan berniaga ke sejumlah daerah di nusantara.

Bahkan menurut Arfel Muchtar, ada saudagar dari Pangkalan yang berdagang sampai ke Sambas, Kalimantan. Sepulang dari Sambas, Kalimantan, saudagar yang riwayatnya hidup dari mulut ke mulut itu, membawa dua buah mimbar masjid, dengan menggunakan kajang (perahu) berukuran besar dan menelusuri sejumlah sungai.

BACA  Indonesia Akan Terima Tambahan 10 juta Dosis Sinovac pada April

Salah satu mimbar diboyong ke Masjid Raya Pasar Bawah Pekanbaru, Riau, tempat saudagar asal Pangkalan banyak bermukim. Sedangkan satunya lagi dibawa ke kampung halaman.

Nah, mimbar yang dibawa dari Sambas ke Pangkalan tersebut, diyakini sampai di Pangkalan, saat warga setempat sedang menyambut bulan suci Ramadahan dan membangun masjid di pinggir Batang Maek.

Untuk mengenang peristiwa itulah, sebut Arfel Muchtar, warga Pangkalan Koto Baru setiap kali datang bulan Ramadan, selalu berbondong-bondong ke pinggir Batang Maek.  ”Tradisi itu, berlangsung turun-temurun hingga kemudian kami namai sebagai potang balimau,” tutur Arfel.

BACA  Abrip Asep Ditemukan Masih Hidup Usai 17 Tahun Tsunami Aceh

Pada tahun ini, tradisi potang balimau di Pangkalan terbilang meriah. ”Banyak warga yang datang dan mengikuti tradisi ini. Aktivitas warga pasca bencana alam beberapa waktu lalu sudah kembali normal. Kami terus memantaunya. Warga nampak bergembira. Debit air Batang Maek (yang bisa meluapkan banjir), pada hari ini nampak cukup normal,” kata Kapolsek Pangkalan Iptu Abdul Kadir Jailani.

Sebelum mengikuti tradisi potang balimau dengan bergembira ria di pinggir Batang Maek, warga Pangkalan juga terlibat dalam sejumlah kegiatan.

”Mulai dari pertandingan sepak bola antarnagari di Kecamatan Pangkalan, jalan sehat sampai hiburan malam,” kata Camat Pangkalan Jonianto yang dihubungi secara terpisah. (hg/frv/iil/JPG)


Komentar