Rabu, 20 Oktober 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Potensi Pertanian di Gorontalo Utara Imbangi Perikanan Kelautan

Oleh Admin Hargo , dalam Kab. Gorontalo Utara , pada Selasa, 28 September 2021 | 12:05 PM Tag:
  Pencanangan penanaman jagung hibrida Kecamatan Sumalata, beberapa waktu lalu yang diikuti Bupati Gorut, Indra Yasin yang didampingi Kadis Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Kisman Kuka. (Foto : Istimewa)

Hargo.co.id, GORONTALO – Gorontalo Utara (Gorut) merupakan salah satu daerah dengan lumbung jagung terbesar di Provinsi Gorontalo. Wajar saja jika potensi pertanian dapat mengimbangi potensi perikanan kelautan yang menjadi unggulan daerah tersebut.

Perlu dijelaskan bahwa berdasarkan data BPS pada 2020, jumlah penduduk Gorontalo Utara kurang lebih 123.098 jiwa. Masyarakatnya yang profesi sebagai petani berada di semua wilayah dengan luas daerah kurang lebih mencapai 1.676,15 km². 

Salah satu isu penting yang patut dikedepankan adalah masalah kesejahteraan petani di Indonesia, khususnya di kabupaten yang memiliki garis pantai kurang lebih sepanjang 317 kilometer itu. 

Ini sebagaimana disampaikan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Gorontalo Utara, Kisman Kuka, kemarin. Menurutnya, pada momentum Hari Tani Nasional yang kali ini, masih dalam suasana pandemi Covid-19, yang terpenting adalah bagaimana kesejahteraan para petani tidak menurun dan ketahanan pangan untuk masyarakat tetap terjamin. 

“Pendapatan petani di Gorontalo Utara itu, diharapkan tidak terganggu dengan adanya pandemi Covid-19 ini. Karena kita tahu bersama bahwa petani sangat kita butuhkan tenaganya dalam memenuhi kebutuhan pangan kita,” tutur Kisman Kuka. 

Kesejahteraan petani dapat dilihat dengan mengukur Nilai Tukar Petani (NTP). Di Provinsi Gorontalo, berdasarkan data dari BPS, pada Bulan Agustus 2021 kemarin, NTP sebesar 103,35 atau turun sebesar 0,19 persen dari bulan sebelumnya. Di mana, dijelaskan Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Mukhamad Mukhanif, sebagaimana dikutip dari Antaranews.com, penurunan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) turun sebesar 0,30 persen. 

“Sedangkan harga yang dibayar petani (Ib) turun sebesar 0,11 persen,” ucapnya. 

Sementara itu, untuk Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga (NTUP) Gorontalo bulan Agustus 2021 sebesar 105,85 persen. Nilai tersebut turun sebesar 0,44 persen dibandingkan NTUP bulan Juli.

Ia menjelaskan, mulai Januari 2020 dilakukan perubahan tahun dasar dalam penghitungan It dan Ib dari tahun dasar 2012=100 menjadi tahun dasar 2018=100. 

“Kedua jenis indeks tersebut merupakan komponen penting dalam penghitungan Nilai Tukar Petani,” bebernya. 

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (harga komoditas pertanian yang dihasilkan) terhadap indeks harga yang dibayar petani (yang meliputi barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga petani dan harga untuk biaya produksi). 

Nilai NTP  di atas 100 artinya indeks harga yang diterima lebih besar dari indeks harga yang dibayar petani. NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. (***)

 

Penulis: Alosius M. Budiman

(Visited 16 times, 1 visits today)

Komentar