Senin, 29 November 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Potret Kehidupan Anak di Pesisir Danau Limboto, Sisi Lain ‘Kota Layak Anak’

Oleh Admin Hargo , dalam Features Headline , pada Minggu, 24 Oktober 2021 | 22:05 PM Tag: ,
  Arsya Kadir, bocah perempuan berumur empat tahun yang tinggal di pesisir Danau Limboto. (Foto: Sucipto Mokodompis/HARGO)

KISAH ini tentang kehidupan anak di pesisir Danau Limboto. Danau yang menjadi kebanggaan masyarakat Gorontalo. Ada cerita menarik disuguhkan dalam bentuk tulisan. Guna mengetahui lebih lanjut, ada baiknya menyimak tulisan berikut ini.

Oleh: Sucipto Mokodompis

ARSYA Kadir sedang asik bermain saat rintik hujan mulai membasahi atap rumahnya di pesisir Danau limboto. Bocah perempuan berumur 4 tahun itu berlari masuk kedalam rumah. Dia duduk di depan pintu sambil menatap seekor kera peliharaan orang tuanya.

Rumah yang dimasuki bocah itu terletak tidak jauh dari objek Wisata Pentadio Resort. Tepatnya di pesisir Danau Limboto yang ada di Desa Pentadio Barat, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo. Rumah ini ukurannya hanya sekitar empat kali empat meter. Itu adalah rumah Asni (46), nenek Arsya Kadir. 

Rumah orang tua arsya ada di samping rumah tersebut. Kondisinya pun hampir sama, ukurannya sempit dan hampir tidak memiliki halaman. Selembar terpal biru yang sudah sobek digunakan sebagai atap teras, melengkapi rumah yang dindingnya terbuat dari anyaman bambu.

“Sudah sejak lahir saya tinggal di sini. Jauh sebelum ini dibangun,” Kata asni sambil menunjuk ke arah tanggul yang ada di Danau Limboto.

Juwita Husain, ibu dari Arsya Kadir mengaku terkadang sulit dengan kondisi rumahnya tersebut. Wanita berusia 26 tahun mengaku pernah didatangi orang berseragam dinas yang meminta KTP dan kartu keluarga serta memotret beberapa bagian rumah mereka.

Kondisi rumah kumuh yang ada di pesisir Danau Limboto. (Foto: Sucipto Mokodompis/HARGO)
Kondisi rumah kumuh yang ada di pesisir Danau Limboto. (Foto: Sucipto Mokodompis/HARGO)

“Sampai sekarang tidak ada, bo (cuma) habis di ba foto,” ucapnya 

Diantara lima rumah yang berjejer di komplek tersebut, memang hanya tinggal dua rumah itu yang kondisinya masih seperti tadi. Beberapa diantaranya sudah ada yang terbuat dari dinding beton dan beratap seng. 

Kurang dari dua meter dari depan rumah terdapat saluran air yang lebih menyerupai kolam karena airnya tidak mengalir. Di musim banjir, kawasan tersebut dipenuhi sampah yang terbawa arus  banjir ke arah danau. Kondisi ini akan berlangsung berhari hari.

Selain kotor akibat sampah yang kebanyakan berbahan plastik tersebut, warna air juga nampak berwarna coklat kehitaman. Sampah bercampur lumpur yang dibiarkan berhari hari juga telah mengeluarkan bau busuk yang menyengat.

Asni, nenek arsya, mengatakan sampah tersebut dibersihkan sendiri karena jarang ada petugas yang datang membersihkan. 

“Kalau tidak dibersihkan nanti bau. Ini saja sudah bau sekali,” kata wanita paruh baya itu.

Arsya Kadir bukanlah satu-satunya anak anak yang tinggal di komplek itu. Ada enam orang anak lagi yang tinggal di sana. Juwita kadir mengakui kondisi itu memang terkadang sangat mengkhawatirkan. Dia bercerita, salah seorang anak pernah jatuh kedalam lumpur di depan rumahnya itu. 

“Namanya Bihan Bakarangi. Waktu itu masih umur tiga tahun waktu jatuh ke lumpur. Baunya busuk sekali pak, hampir tiga hari baru (benar benar) hilang baunya,” Kata juwita sambil menunjuk ke arah Bihan bakarangi, bocah yang sekarang berumur 5 tahun.

Kondisi lingkungan tempat tinggal arsya ini dinilai tidak ramah anak oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Gorontalo, Sri Dewi Nani. Meski begitu, dirinya mengaku belum pernah menerima informasi tersebut.

“Seharusnya dari pihak desa setempat, ada laporan ke pemerintah, nanti kita lihat, siapa berbuat apa di situ, desanya kan yang paling tahu,” kata Sri Dewi Nani saat dimintai tanggapan terkait kondisi tersebut.

 Menurutnya, Perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Hal tersebut perlu disadari bersama karena dalam Kluster penilaian Kota Layak Anak (KLA), ada keterlibatan beberapa pihak sesuai dengan tugasnya masing masing, termasuk BPBD dan Dinas Perumahan dan kawasan Permukiman (Perkim).

“Jika anak adalah korban banjir, maka tupoksinya ada di BPBD, kalau tentang rumah yang tidak layak huni untuk anak, maka itu bagaimana peran dari Perkim, karena mereka memberikan bantuan rumah yang layak huni bagi masyarakat, yang didalamnya ada anak juga,” kata Dewi Nani.

Kondisi rumah kumuh yang ada di pesisir Danau Limboto. (Foto: Sucipto Mokodompis/HARGO)
Kondisi rumah kumuh yang ada di pesisir Danau Limboto. (Foto: Sucipto Mokodompis/HARGO)

Kabupaten Gorontalo memang telah beberapa kali meraih penghargaan KLA. Terakhir, di tahun 2020 Kabupaten Gorontalo kembali meraih mendapatkan penghargaan Kabupaten Layak anak untuk Kategori Madya.

Menelisik lebih jauh terkait bantuan rumah bagi masyarakat di kabupaten Gorontalo, dalam kurun waktu 5 tahun terakhir yaitu sejak tahun 2016 hingga 2021, pemerintah setempat mengaku telah membangun sebanyak 10.997 unit rumah bagi masyarakat.

Kepala Dinas Perkim, Ibrahim mengklaim, jumlah rumah yang dibangun sudah lebih dari jumlah unit rumah yang ditargetkan oleh pemerintah Kabupaten Gorontalo.

“Target pak bupati itu 500 unit setiap tahun. Kalau kita merujuk ke target kemudian kita melihat realisasi yang ada, dan kita rata-ratakan, maka kita justru ada kelebihan lebih dari 500 rumah yang dibangun,” kata Ibrahim Jantu.

Meskipun banyak usulan pembangunan bantuan rumah oleh pemerintah desa selaku pihak yang mengusulkan, namun pembangunan rumah tersebut diprioritaskan untuk masyarakat yang ada di pemukiman kumuh.

“Kita lihat skala prioritas dari proposal yang disampaikan itu, kita lihat apakah memenuhi syarat syarat yang sudah ditetapkan. Sekarang ini kan yang paling diprioritaskan yang ada rumah rumah kumuh,” terang Ibrahim Jantu.

Kenapa rumah Arsya kadir tidak memperoleh bantuan? Kepala Dusun I, Desa Pentadio Barat, Zulkifli Tuli menjelaskan, pihaknya sangat berkeinginan untuk memberikan bantuan kepada orang tua Arsya Kadir tersebut.

“Kalau ditanyakan kepada kami, kami justru sangat ingin membantu pak, tapi ada Peraturan daerah yang mengatur bahwa tidak ada lagi pembangunan di pesisir danau Limboto itu,” katanya kepada Hargo.co.id.

Dirinya mengaku serba salah. Di satu sisi pihaknya ingin membantu, tapi disisi lain, langkah tersebut harus terbentur dengan aturan yang ada. Dirinya mengaku khawatir niat baik pemerintah desa justru menjadi bumerang di kemudian hari.

“Memang di komplek itu hanya tinggal dua rumah itu yang belum mendapatkan bantuan  dan kami sangat berkeinginan untuk membantu mereka. Tapi kami juga khawatir pak, jangan sampai kami bangun tapi justru kami melanggar peraturan yang ada,” terangnya.

Peraturan yang dimaksud Zulkifli Tuli adalah Peraturan daerah Kabupaten Gorontalo terkait Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kabupaten Gorontalo. Di sana memang tertulis bawah tidak ada lagi pembangunan baru di pesisir Danau Limboto.

Kini, Juwita Husain bersama suaminya Sukri kadir yang bermata pencaharian sebagai nelayan masih terus berusaha untuk memperbaiki rumah mereka. Setidaknya, mereka tidak sekedar berpangku tangan dan berharap bantuan dari pemerintah.

“Biar cuma rumah triplek so boleh pak, so boleh sekali,” kata Juwita Husain sambil memeluk anaknya, Arsya Kadir, bocah perempuan berusia 4 tahun yang hidup di lingkungan penuh  sampah dan bau becek di pesisir Danau Limboto. (***)

 

*) Penulis adalah wartawan Hargo.co.id Biro Kabupaten Gorontalo

(Visited 251 times, 1 visits today)

Komentar