Minggu, 12 Juli 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Potret Keluarga Abdurrahman Tanu, Penghuni Rumah Kumuh yang Tinggal Bersama 6 Cucu

Oleh Berita Hargo , dalam Features Gorontalo , pada Kamis, 6 April 2017 | 23:18 WITA Tag: , ,
  


Rumah Sudah Rusak Parah, Malam Nginap di Rumah Tetangga

Memiliki tempat tinggal yang nyaman adalah salah satu kebutuhan paling utama bagi setiap keluarga. Namun apa jadinya jika kondisi rumah tidak layak lagi untuk ditempati. Seperti yang dialami oleh keluarga Abdurrahman Tanu (68), warga Kelurahan Polohungo, Kecamatan Limboto ini rumahnya sungguh memprihatinkan.

Muh Alfarisi Ali – LIMBOTO

Diatas sebuah bukit sebelah aliran sungai Bionga, Dusun Batumerah, Kelurahan Polohungo, Limboto, nampak sebuah rumah kumuh yang telah rusak parah.

Kelihatannya rumah tersebut tak berpenghuni lagi. Namun saat awak Gorontalo Post mencoba mendekati rumah tersebut dengan menyebrangi sungai, terlihat seorang kakek yang sedang bermain bersama 3 cucunya di depan rumah itu.

BACA  Terkait Protokol Kesehatan di Pasar, Gubernur Tagih Komitmen Kepala Daerah

Rupanya keluarga yang sedang menikmati sebuah kentos kelapa itu adalah penghuni rumah kumuh tersebut. Selain 3 cucunya itu, masih ada lagi 2 penghuni lainnya yang tidak lain adalah keponakan dari kakek yang diketahui bernama Abdurrahman Tanu itu.

“Mari pak, duduk disini saja, di dalam ta acak (semraut,red) sekali,” ujar kakek yang akrab disapa Pasisa No’e itu, saat mempersilahkan awak koran ini untuk duduk di rerumputan depan rumahnya.

Bagian dalam rumah itu, betapa lebih memprihatinkan lagi. Tak hanya bagian atapnya saja, kondisi dinding-dinding rumah pun sudah banyak lubangnya. Dilihat dari luasnya pun tidak memungkinkan untuk bisa menampung 6 orang yang merupakan penghuni rumah kumuh ini.
Kakek 2 anak ini mengatakan, kondisi rumahnya yang rusak itu sudah berlangsung lebih dari 10 tahun lamanya.

BACA  OPD di Lingkungan Pemprov Gorontalo Wajib Terapkan Protokol Kesehatan
Kondisi rumah yang sudah reot dan tidak layak lagi. (Foto Ryan Gorontalo Post)

“Kalo turun ujan pasti basah di dalam pak, makanya kami sekarang terpaksa harus menginap di rumah orang,” kata Pasisa No’e.

Untuk memperbaiki rumah tersebut, Pasisa No’e mengaku tidak punya cukup biaya untuk itu. Karena pendapatan mereka hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja, seperti untuk makan, maupun uang jajan ketiga cucunya yang masih duduk di bangku SD itu.

Beruntung, di daerah tersebut ada ibu Farida Yunus (40), yang bersedia membuka pintu rumahnya untuk ditinggali oleh keluarga Pasisa No’e. Janda 2 anak ini mengatakan, dirinya sangat iba melihat kondisi tempat tinggal dari Pa Sisa No’e saat ini.

BACA  Gubernur Berharap Pilkada 2020 Tak Membuat Terpecah Belah
Rusak – Rumah Abdurrahman Tanu salah satu warga Kelurahan Polohungo yang sudah Rusak parah. Foto(Riyan/Gorontalo Post)

“Mereka tidak punya lagi tempat tinggal. Saya tidak tega melihat mereka, apalagi cucu-cucunya masih kecil. Jadi, apa salahnya saya kasih tinggal dorang di rumah,” kata Farida sambil meneteskan air mata, membayangkan keadaan keluarga Pa Sisa No’e.

Hingga kini, Pasisa No’e dan keluarganya itu hanya bisa menginap di rumah Farida ketika hendak beristirahat malam.

“Kalo pagi-pagi saya dengan kemanakan bekarja di kebun, cucu-cucu di sekolah. Abis itu, somo ba kumpul rame-rame di muka rumah sampe menjelang malam,” ujar Pasisa No’e saat menceritakan kesehariannya.(feature/hargo)


Komentar