Selasa, 4 Mei 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Presiden Filipina Bersumpah Memakan Hidup-hidup Militan Pembunuh

Oleh Aslan , dalam Kabar Dunia , pada Sabtu, 8 Juli 2017 | 04:00 WITA Tag: , ,
  


Hargo.co.id – Sebagian besar penduduk Marawi yang tinggal di pengungsian mungkin tak akan pernah bisa kembali ke rumahnya jika konflik selesai. Sebab, separo ibu kota Provinsi Lanao Del Sur, Filipina, itu rata dengan tanah. Pertempuran berkepanjangan selama enam pekan tersebut telah meluluhlantakkan berbagai bangunan di kota yang mayoritas penduduknya muslim tersebut.

Kerusakan itu tampak jelas dari gambar satelit yang diambil pada 28 Juni. Stratfor merupakan perusahaan penerbitan yang berfokus pada intelijen geopolitik. Pengamat Senior di Stratfor Sim Tack mengungkapkan, awalnya dia mengira konflik Marawi berskala kecil dan tidak akan mengakibatkan kerusakan luar biasa besar seperti saat ini.

Pasukan Filipina memang habis-habisan menggempur militan Maute untuk merebut Kota Marawi. Meski hingga berita ini diturunkan, kota tersebut belum berhasil diambil alih. Satu-satunya yang tetap berdiri kukuh adalah Masjid Mindanao Islamic Center.

Sejak awal, Presiden Filipina Rodrigo Duterte memang memerintahkan militernya tak menghancurkan tempat ibadah. Dengan begitu, kesan jika ini adalah perang melawan Islam bisa dihindari. Yang diperangi militer Filipina (AFP) adalah kelompok militan Maute pendukung Islamic State (IS) alias ISIS.

Sim Tack menegaskan bahwa sebagian kerusakan di Marawi disebabkan militan. Tapi, yang memiliki andil besar atas kerusakan tersebut adalah serangan udara AFP dan bom-bom yang mereka jatuhnya. Tindakan AFP tak salah. Sebab, jika tak bergerak cepat dan mendesak Maute sedemikian rupa, AFP bakal kalah.

Posisi Maute saat ini sepertinya sudah terdesak dan pertempuran sebentar lagi berakhir. Kiriman amunisi dari pemerintah pusat ke Marawi jauh berkurang jika dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. Ominta Farhana Romato Maute juga telah mengirimkan orang untuk menawarkan dialog. Farhana adalah ibu dua bersaudara pendiri kelompok Maute, yaitu Abdullah dan Omarkhayam. Istri Cayamore Maute itu ditangkap di Kota Masiu 9 Juni lalu.

BACA  Pembantai Jemaah Masjid di Selandia Baru Akhirnya Ikhlas Disebut Teroris

Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana mengakui bahwa Farhana mengirimkan orang untuk menawarkan pembicaraan dan mengakhiri konflik di Marawi. Tapi, tawaran itu sepertinya bakal bertepuk sebelah tangan. Duterte dengan tegas menolak. Pemimpin yang memiliki panggilan Digong tersebut berkata dirinya tidak akan pernah bernegosiasi dengan teroris dan pelaku tindak kriminal.

”Banyak tentara dan polisi saya yang terbunuh. Jika memang harus damai, itu akan menjadi perdamaian seutuhnya. Jangan bermain-main dengan saya. Mari selesaikan ini sekalian,” tegasnya. Pilihannya hanya dua. Yaitu, militan Maute menyerahkan diri atau perang berlanjut hingga titik darah penghabisan.

BACA  Aliansi Etnik Myanmar Angkat Senjata, 10 Polisi Junta Militer Tewas

Pertempuran Marawi dimulai sejak 23 Mei untuk menangkap pemimpin ISIS Asia Tenggara Isnilon Hapilon. Pemimpin Abu Sayyaf itu disinyalir masih berada di Marawi. Sejak saat itu, diperkirakan ada 400 orang yang tewas selama pertempuran.

Mayoritas adalah militan Maute yang mencapai 351 orang. Sementara itu, anggota AFP yang tewas sebanyak 85 orang dan 39 orang lainnya penduduk sipil. Korban tewas lain di desa-desa yang masih dikuasai Maute belum dihitung.

Duterte tidak hanya ingin menumpas habis Maute, tapi juga sekutu mereka, yaitu Abu Sayyaf. Mantan wali kota Davao tersebut, bahkan, bersumpah memakan hidup-hidup para militan pelaku pemenggalan dua warga Filipina baru-baru ini. November tahun lalu empat warga Vietnam diculik Abu Sayyaf. Dua di antaranya ditemukan terpenggal Rabu (5/7). (Reuters/Philstar/CNN/sha/c25/any/hg)


Komentar