Kamis, 27 Januari 2022
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Proyek Pengembangan Benteng Otanaha Bernilai Rp 2,2 Miliar

Oleh Berita Hargo , dalam Metropolis , pada Rabu, 4 Oktober 2017 | 13:50 PM Tag:
  

GORONTALO, hargo.co.id – Proyek pengembangan Benteng Otanaha  dikatakan  pelaksana pekerjaan Supriyanto, ST,M.Pd bahwa, dalam mengerjakan proyek tersebut sesuai dengan perencanaan dari dinas pariwisata. Dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang nilainya Rp 2,2 miliar.

“Kita sudah mendapatkan kunjungan dari balai pelestarian cagar budaya Gorontalo, dimana mereka menyampaikan ada aturan-aturan yang mengikat ketika melakukan pekerjaan di cagar budaya Benteng Otanaha. Kita juga memahami hal itu,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa, sudah bersepakat dengan BPCB Gorontalo, untuk tetap menjaga keaslian dan situs budaya yang ada yang di Gorontalo.

“Di aturan itu memang dua meter tidak boleh ada bangunan, sehingga itu kita mekmaluminya, itu tidak sengaja kita lakukan karena tujuan kita hanya hamparan dari paving block agar terlihat lebih indah. Tapi dengan adanya teguran dari BPCB kita akan segera membongkar kembali,” jelas Supriyanto.

Hal senada juga diungkapkan oleh Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olaharaga, selaku dinas yang bertanggung jawab dalam proyek tersebut.

Sekretaris Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga kota Gorontalo, Matris Lukum menyampaikan bahwa, pekerjaan proyek tersebut sudah melalui kajian, dan koordinasi dengan semua pihak terkait termasuk dengan BPCB Gorontalo.

“Kita sudah melakukan koordinasi sejak awal pembangunan,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa di kota Gorontalo sendiri, sudah ada peraturan walikota (perwako) nomor 11 tahun 2017, yang merupakan turunan dari peraturan daerah Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (Rippda).

Sehingga itu, Kementerian Pariwisata dengan perjuangan dari walikota Marthen Taha dan Dinas berhasil mendapatkan anggaran untuk pengembangan pariwisata tersebut.

“Kita sudah harus berfikir bagiamana melakukan pengembangan pariwisata yang ada di kota Gorontalo, salah satunya adalah wisata benteng Otanaha, dan pekerjaan ini sudah melalui kajian dan perencanaan yang matang,” ungkap Matris.

Dari Ikatan Arsitektur Indonesia (IAI) Provinsi Gorontalo, AM Asri menyampaikan bahwa membangun di situs sejarah berberbeda dengan membangun proyek yang biasanya dilakukan.

“Kalau disitus sejarah ada aturannya sendiri, jangan sampai mengganggu keaslian dari situs sejarah tersebut. Inilah yang harus dipahami oleh semua,” pungkasnya.(wan/hargo)

(Visited 14 times, 1 visits today)

Komentar