Rabu, 21 Oktober 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Putin Menolak Menuruti Amerika

Oleh Berita Hargo , dalam Kabar Dunia , pada Kamis, 13 April 2017 | 09:39 WITA Tag: , , ,
  


Hargo.co.id – Rusia tidak akan begitu saja menuruti Amerika Serikat (AS) dan negara-negara barat lainnya untuk menghentikan dukungan ke Syria. Alih-alih mengiyakan, Kremlin malah mengundang Menteri Luar Negeri Syria Walid Al Moualem. Dia berada di Moskow mulai hari ini hingga Sabtu (15/4). Rusia juga mengundang sekutu Syria lainnya, yaitu Iran.

’’Pembicaraan tiga arah antara menteri luar negeri Rusia, Iran, dan Syria berlangsung pada 14 April di Moskow,’’ ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova kemarin (12/4). Kremlin menegaskan, jika mereka berhenti mendukung Presiden Syria Bashar Al Assad, hal itu sama saja dengan membuat para teroris bebas.

Mereka juga menuding negara-negara barat saat ini bersatu untuk menghancurkan kemajuan pembicaraan damai yang diprakarsai Rusia dan Turki. Dalam pembicaraan damai tersebut, AS tak dilibatkan. Pembicaraan damai itu berbeda dengan yang digagas PBB. Rusia dan Turki melibatkan seluruh faksi oposisi bersenjata, tidak hanya diwakili pihak tertentu seperti pembicaraan serupa yang diprakarsai PBB.

BACA  Presiden Jokowi Jadi Nama Jalan di Abu Dhabi

Presiden Rusia Vladimir Putin juga buka suara. Menurut dia, hubungan dengan Paman Sam mengalami kemunduran sejak masa kepemimpinan Donald Trump. ’’Bisa dibilang level kepercayaan pada urusan kerja sama, khususnya di bidang militer, tidak meningkat, tapi malah memburuk,’’ bunyi transkrip wawancara Putin dengan televisi Mir yang dirilis Kremlin. Itu adalah kali pertama Putin bicara. Sebelumnya, hanya juru bicaranya yang berkomentar.

Pemimpin 64 tahun tersebut menuding pihak-pihak yang menentang Assad sengaja membuat serangan senjata kimia di Kota Khan Sheikhun dan menyalahkan Damaskus. Tujuannya, menarik AS lebih dalam ke konflik yang sudah berjalan selama tujuh tahun itu. ’’Mana buktinya jika pasukan Syria menggunakan senjata kimia? Tidak ada,’’ tegasnya.

BACA  Keluar Rumah Sakit, Donald Trump Sebut COVID-19 Tak Perlu Ditakuti

Di waktu yang hampir bersamaan dengan keluarnya pernyataan Putin tersebut, Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov bertemu. Mereka membahas serangan senjata kimia dan misil AS di Syria. Tillerson menyatakan, dirinya ingin pembicaraan berlangsung sangat terbuka, jujur, dan terang-terangan.

Di lain pihak, Lavrov menegaskan, dirinya berharap bisa memahami tujuan Washington yang sebenarnya selama kunjungannya. Dia menambahkan, pertemuan itu sangat penting untuk mencegah serangan melanggar hukum yang dilakukan AS ke Syria. ’’Saya tidak akan menyembunyikan fakta bahwa kami memiliki banyak pertanyaan,’’ ujar Lavrov.

Hingga berita ini diturunkan, pembicaraan masih berlangsung. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menjelaskan, Tillerson mungkin diundang untuk bertemu Putin setelah melakukan pembahasan dengan Lavrov.

BACA  Keren, Satgas TNI Resmikan Monumen Perdamaian di Kongo

Secara terpisah, Menteri Pertahanan AS James Mattis menuturkan, Washington tidak memiliki keraguan sama sekali jika Assad adalah dalang di balik serangan senjata kimia yang merenggut 86 nyawa tersebut. Dia menambahkan, pasukan Rusia seharusnya sudah tahu tentang serangan itu. ’’Jika menggunakan senjata kimia lagi, mereka akan membayar sangat mahal,’’ tegasnya kepada para jurnalis.

Sementara itu, Dewan Keamanan (DK) PBB berencana melakukan pengambilan suara untuk menentukan resolusi bagi Syria. Tujuannya, mengajak pemerintah Syria bekerja sama menyelidiki serangan senjata kimia di Khan Seikhun. Namun, beberapa diplomat yakin Rusia bakal memveto resolusi tersebut. Negeri Beruang Merah itu selalu menggunakan hak vetonya untuk melindungi sekutu-sekutunya. (Reuters/AFP/sha/c22/any)


Komentar