Senin, 23 November 2020
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Ramadan, Banyak Job MC 

Oleh Fajriansyach , dalam Ragam , pada Rabu, 6 Juni 2018 | 11:15 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id – Bagi Fitrah Yusharyani Puluhulawa, menjadi seorang master of ceremony (MC) merupakan sebuah tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, dengan menjadi pemandu acara, dia bisa mengasah kemampuannya untuk menjadi seorang MC yang profesional.

Afika-sapaan akrabnya- sejatinya adalah mahasiswa jurusan Public Relation atau Hubungan Masyarakat di Universitas Hasanuddinn (Unhas), Makassar.

Anak kedua dari pasangan Jusdin Puluhulawa dan Hayatiningsih Gubali ini mulai menjadi seorang MC sejak Agustus 2016 lalu, tepatnya saat diadakan audisi oleh pihak rektorat dalam mencari pemandu acara pada penerimaan mahasiswa baru atau “Unhas Day 2016”. Perjalanan Afika dalam mengikuti audisi tidaklah mudah. Ia bahkan sempat tidak percaya diri. “

Awalnya sempat sedih karena ditolak, sebab saat itu aku yang hanya memiliki tinggi 160 cm, berat aku mncapai 84 Kg, yang membuat aku cukup susah untuk tampil percaya diri. Ditambah lagi ada yang bilang bahwa mana ada yang mau ambil MC gendut?,” tutur gadis kelahiran 27 Agustus 1997 itu.

Namun, itu justru menjadi motivasi tersendiri untuk Afika. Dia berusaha dan berhasil menurunkan berat badan sebanyak 30 Kg dalam waktu 8 bulan dengan menjalani diet ketat namun tetap sehat. Hal itu pun menjadi ajang pembuktian bahwa Afika bisa menjadi seorang MC yang profesional, tidak hanya dari segi kemampuan saja namun juga dari segi penampilan. Alhasil, Afika pun mendapatkan banyak apresiasi dari orang sekitar.

Banyak suka dan duka yang dirasakan Afika selama ini. Alumnus SMA Negeri 3 Gorontalo ini mengaku dengan menjadi MC dirinya dapat mengeksplorasi minat dan bakat yang dimilikinya. Namun ketika dalam acara informal, Afika sering dituntut untuk pintar-pintar membangkitkan mood dari para audience meskipun aslinya hal tersebut bukanlah sesuatu yang mudah.

“Sekalipun sudah sering MC, di awal mau tampil tuh rasanya tetep deg-degan. Terlebih lagi, kalau acara yang aku pandu adalah acara yang dihadiri oleh pejabat dan civitas akademika, ataupun orang-orang pnting lainnya. Biasanya sih suka ada rasa takut, gimana kalau salah penyebutan nama dan gelar.

Tapi, Alhamdulillah, pas udah di stage, semua aman terkendali. Dan saat acara yang aku pandu berjalan sukses dan ceria, that’s one of my biggest happiness!,” tutur perempuan yang juga bercita-cita untuk menjadi juru bicara Presiden.

Afika juga bercerita bahwa di bulan Ramadan seperti ini justru ada banyak job MC yang berdatangan. “Ketika menjadi MC di bulan puasa, rasanya tuh kalau sudah kelamaan ngomong, bibir aku super kering dan tenggorokan lama-lama mulai parau sehingga harus pintar-pintar mengatur volume suara.

Tapi hal itu aku jadikan sebagai tantangan tersendiri sih,” ujar Afika. Kedepannya, Afika tetap ingin menekuni karir sebagai profesional MC karena profesi ini sudah membesarkan namanya.Disamping itu Afika juga mengaku senang dan bersyukur dapat menjadi bagian dari acara orang lain. (tr61-gp/hg)


Komentar