Kamis, 21 Januari 2021
Dari Gorontalo untuk Indonesia



Realisasi KUR Capai Rp 128,5 Miliar

Oleh Berita Hargo , dalam Ekonomi , pada Selasa, 25 Juli 2017 | 15:14 WITA Tag: ,
  


Hargo.co.id GORONTALO – Target penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) sejauh ini diakui masih belum sesuai harapan. Pasalnya, sebagian besar KUR masih dinikmati oleh para pedagang ketimbang sektor rill. Tak terkecuali di Gorontalo, penyaluran KUR pada semester I tahun 2017 didominasi oleh pedagang besar dan eceran sekitar 61,16 persen.

Sebelumnya, pemerintah menginginkan bahwa kredit yang berbunga rendah tersebut dapat dinikmati oleh produsen di sektor rill seperti pertanian, perikanan hingga peternakan.

Data yang diperoleh Gorontalo Post dari Dirjen Perbendaharaan (DJPBN) Provinsi Gorontalo, total penyaluran KUR selama tahun 2016 sebesar Rp 502,3 Miliar dengan 30.306 debitur.

Pedagang besar dan eceran mendapatkan jatah paling besar yakni 68,5 persen atau senilai Rp 344,05 Miliar dengan 19.982 debitur; disusul sektor pertanian cs sebesar 11,09 persen dengan realisasi Rp 55,6 Miliar dan 3.780 debitur; kemudian sektor transportasi, pergudangan dan komunikasi sebesar 5,7 persen dengan realisasi Rp 28,7 Miliar dengan 2.222 debitur; dan industri pengolahan sebesar 4,46 persen dengan realisasi Rp 22,4 Miliar dengan 1.229 debitur.

Untuk tahun ini, pedagang juga rupanya masih akan mendapatkan porsi yang paling besar. Terhitung posisi 11 Juli 2017, penyaluran KUR untuk pedagang sudah mencapai 61,16 persen dengan realisasi Rp 78,6 Miliar dengan 4.380 debitur. Kemudian disusul sektor pertanian cs dengan realisasi yang baru mencapai 11,09 persen dengan realisasi Rp 20,1 Miliar dan 1.017 debitur.

“Realisasi KUR terbesar ada pada sektor perdagangan besar dan eceran baik 2016 dan 2017, menurut jumlah penyalurannya dan debiturnya,” ungkap Kepala Kanwil DJPBN Provinsi Gorontalo, Ismed Saputra, melalui Kabid Pembinaan Pelaksanaan Anggaran (PPA) I, Ahmad Heryawan, didampingi Kepala Seksi PPA I C, Juanda, kemarin, Senin (24/7).

Selain itu, hingga Juli 2017, Bank Rakyat Indonesia (BRI) masih merupakan penyalur terbesar KUR Mikro dengan Rp 101,2 Miliar dengan 6.607 debitur, “Tahun 2016 juga, BRI masih menjadi penyalur KUR terbesar dengan total Rp 412,9 Miliar dengan 28.591 debitur,” tambah Heryawan.

Sementara untuk KUR Ritel posisi Juli 2017, paling besar disalurkan oleh Bank Mandiri dengan realisasi Rp 11,6 Miliar dengan 157 debitur. “Tahun 2016 juga, ada 2 debitur untuk KUR TKI (Tenaga Kerja Indonesia),” jelas Heryawan.

Salah seorang pengamat pertanian Gorontalo, Sudarmono Pulukadang, tidak kaget dengan struktur penyaluran KUR tersebut. Menurutnya, mayoritas petani dan buruh tani masih sulit keluar dari cengkraman rentenir. Belum lagi, tingkat kepercayaan bank yang relatif masih kurang jika dibandingkan dengan potensi keuntungan yang dimiliki pedagang.

“Mudah-mudahan ada perubahan realisasi pada akhir tahun nanti. Sampai kapan pun, jika petani tidak merubah mindset, tidak akan lepas dari cengkraman dengan rentenir,” kata Sudarmono. Untuk menggenjot realisasi KUR terhadap sektor rill, terutama pertanian, alumnus Fakultas Pertanian Universitas Gorontalo ini lebih sepakat jika pemerintah benar-benar merealisasikan Jaminan Kredit Daerah (Jamkrida) yang pembentukannya sempat direkomendasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), beberapa waktu lalu, “Dengan Jamkrida, bank tidak akan ragu-ragu lagi. Dan sesuai peraturan OJK, Jamkrida harusnya direalisasikan,” pungkasnya.(axl/hg)


Komentar